BI Perkirakan The Fed Hanya Sekali Turunkan Bunga
JAKARTA, Investortrust.id — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan The Fed hanya sekali menurunkan bunga acuannya tahun 2025, dari saat ini 4,25-4,50%. Dinamika perekonomian global kini sangat sulit untuk diprediksi, seiring kembalinya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat untuk periode keduanya.
"Setiap minggu kami harus memprediksi kebijakan Presiden AS Donald Trump itu seperti apa, sikapnya gimana, dan kayaknya sulit diprediksi. Sehingga, setiap minggu kami ada rapat di Dewan Gubenur BI hari Selasa itu selalu di-update lagi, dan setiap minggu berubah-berubah. Kemarin, sudah dua puluh lebih executive order Presiden Trump, meski belum 100 hari (menjabat) sudah jauh lebih banyak dari presiden sebelumnya dan sepertinya executive order-nya masih akan terus," kata Perry saat breakfast meeting bersama para petinggi Kadin Indonesia, di kantor BI di Thamrin, Jakarta, Rabu (12/02/2025).
Baca Juga
Perlu Perkuat Stabilitas, Transformasi Ekonomi
Kebijakan Presiden AS akan berdampak kepada ekonomi Amerika dan ekonomi global. Hal itu membuat Indonesia mendapatkan tiupan angin yang sangat berat dari global, sehingga Bank Indonesia, Kadin Indonesia, pemerintah, hingga perbankan harus bergandengan tangan.
"Betul-betul, kami ingin bergandeng tangan dengan pemerintah, karena BI adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami juga ingin bergandeng tangan dengan industri, karena policy kami, setiap policy harus industrial tested. Itu kenapa dari dulu saya sering berdiskusi dengan Kadin," ucap Perry.
Perry mengatakan, pihaknya juga mempunyai Bank Indonesia Institute yang tidak hanya untuk training, tapi juga menghasilkan riset kebijakan-kebijakan. Rapat Dewan Gubernur BI, kemarin, juga baru saja memutuskan topik riset tahun ini.
"Misalnya topik riset bagaimana kita harus menyiasati bilateral trade. Dengan Amerika, dengan Cina, dengan Indonesia. This is the three, itu bisa kami lakukan. Demikian juga untuk mendorong konsumsi," tandas Perry.
Semua pihak terkait, lanjut dia, harus bergandeng tangan untuk stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional dalam kerangka program-program pemerintah Asta Cita. Bank Indonesia sudah dan terus akan mendukung Asta Cita pemerintah.
"Itu, kami nanti akan tunjukkan. Hari ini kami sampaikan lima (area dukungan BI), mungkin kalau minggu depan, bulan depan, kami tambah lagi," ujar Perry.
Lima dukungan BI terhadap kebijakan pemerintah dalam Asta Cita ini untuk memperkuat stabilitas dan transformasi ekonomi nasional.
Dampak America First
Kebijakan Presiden Trump America First, kata Perry, betul-betul berdampak kepada global. Kebijakan ini sangat mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri AS yang merupakan ekonomi terbesar dunia, yang selanjutnya akan berdampak signifikan terhadap global.
"Untuk mendukung ekonomi dalam negeri AS, tentu saja yang sudah kita kenal adalah tarif barang impor. Kemudian juga kebijakan defisit fiskal yang besar. Tahun ini, kemungkinan defisit fiskalnya melonjak menjadi 7,7% PDB (produk domestik bruto) AS," ungkapnya.
Baca Juga
Perry menjelaskan, hal itu membuat pengeluaran AS besar seiring utangnya melonjak. Sebagai negara besar, AS bisa menerbitkan utang luar biasa besar.
"Defisitnya bisa besar. Kalau negara kita kan tidak bisa, 3% dari PDB itu maksimum karena kalau utangnya terlalu besar, nggak ada yang beli (surat utang Indonesia) dan kemudian risiko krisisnya itu tinggi," paparnya.
Karena Trump mendukung ekonomi dalam negeri, maka ekonomi negeri adidaya ini bagus. Namun, adanya penaikan tarif-tarif impor dan tax cut, mendorong inflasi Negeri Paman Sam meningkat.
"Dampaknya, yield US Treasury naik. Itu berdampaknya terhadap global," tegasnya
Cina Sedang Berhitung
Di antara beberapa kebijakan utama Trump, tax cut untuk ke dalam negeri, fiscal deficit melonjak, dan penaikan tarif impor untuk negara-negara yang mempunyai surplus perdagangan terhadap Amerika berdampak besar terhadap negara lain. Negara dengan surplus perdagangan dengan AS paling tinggi adalah Tiongkok.
Ada pula pernyataan sebelumnya, dalam tanda kutip, Kanada ingin dijadikan negara bagian ke-52 AS. Meksiko juga akan dikenakan bea masuk sebesar 25% oleh AS.
"Beda, Kanada dan Meksiko kayaknya akan melakukan retaliasi. Tapi, Cina kayaknya lagi hitung-hitungan. Juga, imigrasi sekarang sudah diperketat AS, kemudian penangkapan pendatang ilegal di Chicago dan berbagai daerah. Selain itu, faktor geopolitik," tuturnya.
Perry menjelaskan pula, dalam pertemuan G20, Trump juga tidak datang. Hal ini karena Presiden Trump lebih suka bilateral daripada regional, apalagi multilateral. Itu kemungkinan yang menjadi penyebab dia tidak sepakat dengan BRICS dan kerja sama multilateral yang lain.
"Memang pengennya itu. Dampaknya terhadap global seperti apa? Yang utama adalah terjadi disrupsi suplai karena ada trade war dan ada sanksi. Ini akan terus-terusan sehingga kemudian selain ada soal energi yang tentu saja akan terdampak, juga ada fragmentasi dari trade, ada diversion dari trade. Dampaknya yang harus kita sikapi adalah PDB dunia itu akan menurun, inflasi dunia akan naik, dolar sangat kuat," paparnya. (pd)

