Jangka Menengah, IHSG Berpotensi Lanjutkan Pelemahan
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi terus melanjutkan pelemahan dalam jangka menengah. Chart weekly IHSG menunjukkan, target penurunan sementara ke level support terdekat sekaligus support kunci. yakni 6.500-6.600.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Dimas Krisna Ramadhani mengatakan, aliran dana asing masih konsisten keluar dari IHSG, ditambah sinyal patah tren pada beberapa saham konglomerasi yang selama ini menjadi penopang IHSG.
Baca Juga
“Perlu diketahui foreign flow (aliran modal asing) merupakan salah satu indikator yang bersifat leading, artinya sering terjadi ketika investor asing melakukan distribusi (outflow). Dalam jangka pendek, terjadi hal-hal random yang akan membuat rancu dan membuat seolah distribusi investor asing terlihat normal,” jelas Dimas dalam keterangan tertulis.
Selain berpotensi melanjutkan pelemahan, kata dia, IHSG juga memberi sinyal rebound dalam jangka pendek. Hal ini ditunjukkan rejection pada Jumat (7/2/2025). Apabila IHSG akan menguat, maka MA200 weekly dan resistance historikal menjadi target penguatan IHSG yang berada di level 6.880-6.970.
“Apabila, indikator ini dikonfirmasi dengan teknikalnya, seperti IHSG yang baru saja breakdown pergerakan rata-rata (MA200 weekly) pekan lalu, maka kedua data tersebut mengonfirmasi arah pergerakan market ke depan,” ujar Dimas.
Dalam pekan lalu, IHSG ditutup pada level 6.742 atau melemah tajam 5,16%. Jika dilihat dari teknikal, IHSG menggunakan time frame weekly, IHSG sudah breakdown dari indikator MA200 weekly yang merupakan sinyal bearish.
Namun, pergerakan IHSG pada Jumat kemarin menunjukan adanya rejection saat IHSG berada di area support dan membentuk candle hammer yang membuat IHSG masih mampu bertahan di area support historikalnya di level 6.600-6.700.
Secara umum, pelemahan IHSG pada pekan lalu yakni 3-7 Februari 2025 dipengaruhi dua top losers, yakni IDX Energy dan IDX Basic Materials. IDX Energy melemah -7,6% dalam sepekan disebabkan penurunan saham DSSA yang menjadi kapitalisasi pasar terbesar kedua di sektor ini dan kedelapan di IHSG.
Energi menjadi satu-satunya sektor yang secara tren jangka panjang masih bergerak naik atau mengalami uptrend. Berbeda dengan sektor lainnya yang secara tren jangka panjang sedang berada di fase sideways atau bahkan ada yang sudah memasuki fase menurun (downtrend). “Meski begitu, pelemahan yang terjadi pada sektor energi pekan lalu juga sama kasusnya, seperti IHSG yang sama-sama breakdown dari MA200 weekly-nya,” sambung Dimas.
Baca Juga
IHSG Dibuka kembali Anjlok, Sebaliknya Saham SHIP Langsung ARA
Selanjutnya IDX Basic Materials dalam sepekan kemarin turun 5,5% karena penurunan saham PT Chandra Asri Pacific Tb (TPIA) yang menjadi kapitalisasi pasar terbesar kelima di IHSG. TPIA turun sebesar 8% pekan lalu, seiring berita gagal masuknya emiten grup barito lainnya yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Petrosea Tbk (PTRO) ke dalam indeks MSCI pada Februari 2025.
Sementara itu yang menjadi top gainers dan menopang IHSG pekan lalu adalah IDX Technology yang menguat 3,9% dalam sepekan dan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami kenaikan. Sektor ini menguat karena kenaikan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang memimpin di sektor ini dengan kenaikan 2,5%.
“GOTO naik cukup signifikan setelah sempat diberitakan akan merger dengan Grab. Hal ini membuat lonjakan volume dan kenaikan saham signifikan pada 4 Februari dan langsung dibantah oleh pihak emiten, satu hari setelahnya,” tutup Dimas.

