Pantas Ditutup, Penjualan Produk Fisik Hanya Berkontribusi Segini terhadap Pendapatan Bukalapak (BUKA)
JAKARTA, investortrust.id – PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mengungkapkan penghentian layanan penjualan produk fisik pada marketplace tak berdampak material bagi perseroan. Karena, segmen tersebut hanya berkontribusi sekitar 3% terhadap total pendapatan hingga September 2024.
Tak hanya itu, manajemen Bukalapak (BUKA) dalam pengumuman resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (15/1/2025) menyebutkan, lini bisnis produk fisik pada aplikasi Bukalapak telah menunjukkan penurunan kontribusi terhadap pendapatan dan pertumbuhan dalam tiga tahun terakhir akibat dinamika pasar.
Baca Juga
“Kontribusi penjualan produk fisik Bukalapak turun berturut-turut dalam tiga tahun terakhir. Sebaliknya biaya operasional lini bisnis ini naik sifnigikan,” tulis pengumuman resmi tersebut.
Hal tersebut mendorong perseroan untuk menghentikan layanan penjualan produk fisik dan menyisakan penjualan produk virtual. Apalagi lini bisnis produk virtual telah menunjukkan pertumbuhan baik yang terlihat dari posisi keuangan perseroan. Perseroan juga mengungkap bahwa penghentian tersebut tidak akan menimbulkan biaya material terhadap eprseroan
Manajemen BUKA menyebutkan bahwa penutupan layanan produk fisik tersebut justru berdampak positif bagi perseroan, seperti efisiensi operasional yang bisa berimbas terhadap perbaikan kondisi keuangan perseroan dalam jangka panjang.
Sebelumnya, Bukalapak mengumumkan masih menyisakan dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham senilai Rp 9,33 triliun hingga akhir 2024. Nilai tersebut setara dengan 42,60% dari total perolehan Rp 21,9 triliun.
Baca Juga
Begini Dampak Penghentian Penjualan Produk Fisik di Marketplace Bukalapak (BUKA)
Bukalapak (BUKA) telah menggelar penawaran umum perdana pada Agustus 2021 dengan total perolehan dana Rp 21,90 triliun. Sedangkan hasil bersih dari penjualan saham tersebut setara dengan Rp 21,32 triliun.
Sebagian besar sisa dana hasil IPO saham tersebut diinvestasikan pada obligasi negara dan sisanya di simpanan bank.Di antaranya, dana senilai Rp 2,4 triliun di temaptkan pada obligasi pemerintah dengan kupon 6,5% per tahun, senilai Rp 1,04 trilun juga ditempatkan pada obligasi negara dengan kupon 7%, dan dana senilai Rp 710 miliar pada obligasi negara dengan kupon 6,5%.
Sedangkan penempatan dana paling besar untuk perbankan ditempatkan di Bank DBS senilai Rp 1,07 triliun dengan kupon 6,75% per tahun dan BRI senilai Rp 916,21 miliar dengan kupon 6,6% per tahun.
Grafik Saham BUKA

