Bye-Bye January Effect, IHSG Jebol ke Level 6.974
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya jebol ke bawah 7.000, bahkan sempat merangsek ke level 6.974 sebelum akhirnya ditutup turun 35,4 poin (0,50%) menjadi 6.981 pada penutupan sesi I, Selasa (14/1/2025).
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, kondisi pasar modal saat ini memang kurang positif, dibandingkan harapan pada akhir 2024. Hal ini dipengaruhi berlanjutnya pelemahan Rupiah dan sempat mendekati Rp 16.300 terhadap Dolar Amerika Serikat.
Baca Juga
Ekonom UI: Pemerintah Perlu Tuntaskan 5 Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi 8%
Sedangkan IHSG hanya menguat di atas 7.100 pada hari pertama perdagangan 2025. Diikuti penurunan berhari-hari hingga pertengahan bulan ini. “Overall bukan semata-mata kondisi ekonomi kita yang buruk, meski memang tidak terlalu bagus atau hanya moderat. Namun market tidak selalu dipengaruhi oleh fundamental, bahkan lebih sering dipengaruhi oleh sentimen,” jelas Rully dalam Media Day: January 2025 di Pacific Century Place Jakarta, Selasa (14/1/2025).
Saat ini, menurut dia, pelaku pasar sedang menanti realisasi janji kampanye Presiden AS terpilih Donald Trump, yaitu target pertumbuhan ekonomi AS diproyeksi mengungguli negara-negara maju lain, seperti Eropa, Jepang, dan Inggris.
Sementara itu dari domestik, Indonesia belum memiliki faktor positif yang mampu untuk mendongkrak kinerja IHSG. “Jadi masih sangat tergantung ekonomi global,” imbuh Rully.
Baca Juga
Lesunya pasar modal Indonesia juga dipengaruhi oleh tingkat suku belum kunjung diturunkan, baik oleh The Fed maupun Bank Indonesia. Bahkan, konsensus memperkirakan, peluang penurunan Fed Fund Rate (FFR) tahun ini agak tertutup alias terbatas.
The Fed belum agresif menurunkan suku bunga karena data tenaga kerja negara adidaya tersebut cenderung membaik. Bagi pasar modal Indonesia, good news in Amerika is a bad news, begitu pula sebaliknya.
“Ketika angka NFP (non-farm payroll) di atas perkiraan, tingkat pengangguran lebih rendah di bawah konsensus, market akan selalu bereaksi negatif. Karena, The Fed diprediksi akan menahan pemangkasn suku bunga. Sehingga ini menyebabkan indeks Dolar menguat dan Rupiah melemah cukup signifikan,” papar Rully.
Berdasarkan perkembangan data saat ini, pelaku pasar berspekulasi bahwa The Fed hanya akan menurunkan suku bunga satu kali. Jauh berbeda dibandingkan konsensus pada September 2024 dengan perkiraan penurunan suku bunga sebanyak sepuluh kali.
Baca Juga
Ekonom UI: Pemerintah Perlu Tuntaskan 5 Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi 8%
Perbedaan optimisme tersebut membuat Rupiah semakin melemah dari kisaran Rp 15.100-15.200 pada akhir tahun lalu. “Jadi semata-mata disebabkan perkembangan ekonomi Amerika seberapa besar The Fed akan agresif menurunkan suku bunga. Kelihatan dari sini, The Fed semakin tidak agresif, dan persepsi pasar selalu berubah-ubah tergantung perkembangan data-data ini,” tegas Rully.
Dengan perkembangan pasar yang tercermin dalam pergerakan IHSG, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo menyatakan, pasar modal Indonesia akan sulit mengalami January Effect tahun ini. “Sepertinya sulit. Kalau lihat sampai hari ini foreign masih net sell besar,” pungkasnya.
Grafik IHSG Ytd

