Ekonom UI: Pemerintah Perlu Perbaiki 5 Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Muliadi Widjaja mengatakan, pemerintah Indonesia perlu menyelesaikan perbaikan lima faktor pendorong ekonomi untuk mencapai pertumbuhan 8%. Lima faktor tersebut adalah saving rate, akumulasi kapital, riset dan pengembangan yang produktif, pengembangan pabrik dan produksi, serta masalah tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR).
“Kita perlu memperbaiki berbagai variabel dan faktor ekonomi,” kata Muliadi dalam diskusi yang digelar daring berjudul "IKAL Strategic Centre", Selasa (14/1/2025).
Baca Juga
Tabungan Rendah
Muliadi mengatakan, rata-rata tabungan menjadi salah satu topik penting. Menurutnya, rata-rata tabungan Indonesia harus ditingkatkan.
Saving rate dapat menjadi salah satu indikator yang menunjang Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Berdasarkan paparannya, gross savings rate per GDP Indonesia pada 2023 itu di bawah Djibouti. Dia menyebut gross savings rate per GDP di negara Afrika Timur itu tercatat 84,9%. Sedangkan Indonesia tidak memiliki catatan resmi, namun diperkirakan pada kisaran 38,1%.
“Kita harus tingkatkan saving-nya dulu, baru PMTB-nya ditingkatkan. Kalau tidak alternatifnya, kita minta-minta ke Elon Musk (pendiri Tesla, SpaceX, dan OpenAI) untuk datang kemari. Atau, minta Apple Co untuk investasi,” ujar dia.
ICOR 6,3%
Selain persoalan tabungan, Muliadi menyoroti ICOR Indonesia yang masih tercatat tinggi, yakni pada 2023 masih 6,3%. Dengan ICOR yang tinggi, menurutnya, efisiensi atas investasi Indonesia rendah.
Dari sisi riset dan pengembangan, Muliadi mengatakan Indonesia juga tertinggal dengan beberapa negara maju. Menurutnya, pengeluaran kotor untuk riset dan pengembangan per pendapatan domestik bruo (PDB) tertinggi dicatatkan Israel mencapai 5,56%, Korea Selatan dengan 4,93%, dan Amerika Serikat (AS) dengan 3,46%.
“Indonesia ada, tapi seperti tiada. Ini di angka 0,28%,” ucap dia.
Baca Juga
Raksasa Energi Bersih UEA Masdar Jadikan Indonesia Hub EBT di Asia Tenggara
Angka pengeluaran riset per PDB Indonesia yang kecil ini mengkhawatirkan. Sebab, perekonomian Indonesia tidak mungkin hanya tumbuh dengan sumber daya alam dan jumlah pekerja besar.
“Indonesia belum sampai ke inovasi, padahal ini penting dalam industri dan teknologi,” ujar dia.
Pengembangan pabrik dan produksi juga menjadi catatan Muliadi. Sebab, kata dia, terjadi banyak penutupan pabrik dan perusahaan.
“Pabrik dan produksi ini adalah rangka dalam perekonomian kita. Kalau tidak ada pabrik, ekonomi kita tidak bisa berdiri tegak,” kata dia.

