Sempat Anjlok ke Level US$ 89.000-an, Harga Bitcoin Perlahan Bangkit
JAKARTA, investortrust.id - Analis pasar uang yang juga Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi, harga aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC) dan aset lainnya akan mengalami koreksi perdagangan di pekan ini. Menurutnya, harga Bitcoin akan terkoreksi dahulu, lalu kemudian kembali menguat dengan proyeksi ada di level US$ 96.274.
Menilik Coinmarketcap, Selasa (14/1/2025) memang harga kripto sempat anjlok di awal pekan, bahkan pada Senin (13/1/2025) pukul 09.35 WIB di US$ 89.941. Namun segera koin kripto nomor wahid itu berhasil menanjak. Pada Selasa (14/1/2025) pukul 05.30 WIB, harga BTC naik 0,68% dalam 24 jam terakhir ke posisi US$ 94.533. Koin kripto pagi ini terpantau mengalami harga yang variatif, banyak yang menguat namun banyak juga yang masih melanjutkan penurunannya. Ethereum (ETH) dalam waktu yang sama misalnya turun 3,12% ke US$ 3.135, tapi XRP naik 1,79% ke US$ 2,54.
Kapitalisasi pasar kripto global adalah US$ 3,27 triliun, penurunan 0,68% selama hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 176,21 miliar, yang berarti peningkatan 161,37%. Dominasi Bitcoin saat ini adalah 57,27%, peningkatan 0,58% selama sehari.
Sejumlah faktor, lanjut Ibrahim menjadi pemicu pergerakan harga Bitcoin. Salah satunya adalah rilis tenaga kerja di Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan kenaikan di luar ekspektasi.
“Itu begitu tinggi kenaikannya dan ini membuat yield obligasi Amerika bertenor 10 tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan, sehingga membuat indeks dolar kembali lagi mengalami penguatan yang cukup tinggi,” ujarnya, dikutip Selasa (14/1/2025).
Baca Juga
Dikatakan Ibrahim, fokus pasar saat ini juga tertuju pada penggajian sektor pertanian di AS. Jika diperhatikan, hal ini akan berdampak pada penurunan suku bunga di tahun 2025. Ada kemungkinan The Fed akan menurunkan suku bunga 35 basis poin (bps) atau 33 bps, namun kemungkinan terbesar memangkas 25 bps.
“Ini pun juga kemungkinan besar yang akan menentukan pada saat Trump memimpin sebagai presiden di Amerika setelah tanggal 20 Januari,” katanya.
Karena bagaimanapun, dinamika politik di AS berdampak besar dan mempengaruhi sentimen di pasar kripto. Terlebih, lanjut Ibrahim, adalah salah satu presiden AS yang mempunyai titel terdakwa untuk beberapa kasus yang cukup banyak di sana.
“Ini yang kemungkinan besar akan membuat fund-fund besar aset kripto akan melakukan taking profit dengan informasi dari jaksa terhadap Trump sebagai seorang terpidana,” ucap dia.
Baca Juga
Cek! Ini 851 Aset Kripto yang Legal di Indonesia, yang Tak Masuk Bakal Dihapus Hari Ini
“Ini merupakan pukulan keras bagi para investor aset kripto karena kita melihat bahwa Trump pada saat pemilihan presiden kampanye itu menggunakan aset kripto sebagai alat bayarnya,” sambung Ibrahim.
Ia melanjutkan, perbedaan pendapat antara Donald Trump dengan The Fed juga dapat memicu volatilitas lebih lanjut di pasar kripto. Seperti diketahui, The Fed menolak kripto sebagai alat pembayaran di AS, ditambah kripto menjadi instrumen investasi yang memiliki banyak aduan dari nasabah, dengan rekor tertinggi lebih dari 60.000 pengaduan.
“Hal ini membuat bank sentral harus berhati-hati dan kemungkinan konflik internal antara bank sentral Amerika dan pemerintahan Trump kemungkinan akan memuncak,” kata Ibrahim.

