Cek 10 Saham Energi yang Undervalued, ITMG dan ADRO Masuk Daftar
JAKARTA, investortrust.id – Salah satu strategi investasi di pasar saham yang wajib dipahami investor adalah mengakumulasi saham-saham yang masih undervalued, dan menghindari saham yang sudah overvalued.
Saham undervalued didefinisikan, di mana kondisi harga saham di pasar dinilai terlalu murah dikarenakan harga di pasar lebih rendah dibandingkan dari nilai instrinstiknya.
Sebaliknya, saham overvalued di mana kondisi harga saham di pasar dinilai terlalu mahal dikarenakan harga di pasar lebih rendah dibandingkan dari nilai instrinstiknya.
Baca Juga
Tumbuh 21%, Ace Hardware (ACES) Raih Laba Bersih Rp 365,42 Miliar
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menegaskan, selain berdasarkan ketegori undervalue atau overvalued, investor juga harus mencermati saham-saham dari likuiditasnya, dia menilai saham overvalued mayoritas bukan kapitalisasi besar (big caps) dan lebih baik hindari.
Untuk memandu pelaku pasar, Litbang Investortrust menyajikan daftar saham-saham sektor energi yang masih dikategorikan undervalued maupun saham yang sudah overvalued. Data ini bisa jadi pertimbangan untuk melakukan transaksi pada saham-saham tersebut.
“Lebih baik fokus ke saham undervalued seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), karena kedua emiten ini termasuk yang likuid dan tingkat konsistensi mereka tergolong indeks LQ45,” ujar Nafan saat dihubungi investortrust.id Minggu, (4/8/2024).
Baca Juga
Prospek Industri Cerah, Cek Saham Properti yang Masih Undervalued
Sekedar informasi, indeks LQ45 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 45 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
Lebih lanjut, Nafan bilang, pergerakan kedua saham tersebut bagus dan lebih baik mencermati kedua emiten batu bara tersebut.
“Cermati dahulu mana likuid mana tidak likuid, karena yang paling penting likuiditas pergerakan sahamnya, menurut saya walau undervalued tetapi tidak likuid lebih baik dihindari,” pungkas Nafan.
Umumnya, price earning ratio (PER) digunakan untuk menilai mahal atau murahnya suatu saham, dengan membandingkan harga saham dengan laba bersih per saham. Saham dengan PER yang lebih rendah dianggap lebih murah, PER di bawah 10-15 kali disebut murah alias undervalued.
ADRO memiliki kapitalisasi pasar sebesar 105.213, lalu PER sebesar 4,01 kali, adapun price to book value (PBV) sebesar 0,72, dengan harga saham Rp 3.320.
Sedangkan ITMG memiliki kapitalisasi pasar sebesar 30.108, lalu PER sebesar 4,93 kali, adapun PBV sebesar 0,99, dengan harga saham Rp 26.975. (CR-5)
Grafik Harga Saham ADRO dan ITMG secara Ytd:

