Dikendalikan Erwin Susanto, Saham IPO Paling Cuan Ini Melambung 437,5%
JAKARTA, investortrust.id – Sederet saham-saham baru yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2024 tercatat mengalami pertumbuhan harga signifikan. Di antara saham-saham yang melaksanakan initial public offering (penawaran umum perdana/IPO) tahun lalu, saham emiten yang dikendalikan Erwin Susanto tercatat paling cuan, melambung 437,5%.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna melaporkan, terdapat 41 perusahaan yang sahamnya baru tercatat di BEI tahun lalu. Sektor yang mendominasi adalah sektor konsumer nonprimer (consumer cyclicals), yang melakukan pencatatan saham terbanyak. “Yakni 13 perusahaan dengan dana dihimpun mencapai Rp 5,7 triliun. Ini diikuti oleh sektor basic materials (bahan baku) sebanyak 8 perusahaan dengan dana dihimpun mencapai Rp 1,5 triliun,” kata Nyoman, dikutip Jumat (3/1/2025).
Baca Juga
Selanjutnya, hajatan IPO 2024 juga diwarnai saham-saham sektor energi sebanyak 6 perusahaan. Dana dihimpun mencapai Rp 5,6 triliun.
DAAZ Memimpin, Melambung 437,5%
Investortrust mendata sejumlah saham-saham baru memiliki pertumbuhan harga tertinggi. Mengutip Datatrust, emiten perdagangan besar logam dan bijih logam PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) memimpin kenaikan harga saham tertinggi, mencapai 437,5%.
Saham sektor bahan baku tersebut menawarkan harga IPO senilai Rp 880, yang pada 2 Januari 2025 sudah naik menjadi Rp 4.690 per saham. Dilihat dari kepemilikan sahamnya, DAAZ yang baru terdaftar di BEI pada 11 November 2024 tersebut terbanyak dikuasai oleh Erwin Susanto sebagai pemegang saham pengendali, dengan kepemilikan 12,75%.
Saat IPO, Daaz menganggarkan dana hasil IPO untuk modal kerja. Ini seperti biaya tenaga kerja dan logistik; memberi pinjaman kepada anak perusahaan; hingga membeli bijih nikel.
Pada urutan kedua saham IPO tercuan tahun 2024 adalah PT Remala Abadi Tbk (DATA). Harga sahamnya naik 298,9% dari Rp 188 saat IPO menjadi Rp 760 per unit pada 2 Januari 2025.
Emiten dari sektor infrastruktur tersebut didirikan pada 2004, bergerak di bidang jasa penyediaan layanan internet (internet service provider/ISP). Perusahaan ini melayani internet broadband, local link, managed services (setting IP CAM, VOIP, WiFi Device), server colocation, hingga penyediaan konektivitas yakni instalasi fiber optik.
Sebagian hasil penghimpunan dana IPO direncanakan dipakai untuk mengakuisisi perusahaan jasa layanan internet. Perusahaan tersebut adalah PT Fiber Media Indonesia (FMI).
Selanjutnya, saham IPO dengan pertumbuhan harga terbesar ketiga adalah PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) dengan kenaikan 201%. Saham ini ditawarkan pada harga Rp 103 saat IPO, yang saat ini sudah bergerak ke level Rp 314.
IPO MEJA menghimpun dana sekitar Rp 49,44 miliar. Dana ini akan dipakai untuk pembelian persediaan bahan baku, biaya kontraktor, desain interior, pengadaan furnitur, hingga sewa bangunan dan kendaraan.
Baca Juga
Di posisi keempat ada saham PT Multikarya Asia Pasifik Raya Tbk (MKAP) yang harganya naik 115,7%, dari Rp 115 menjadi Rp 248. Perusahaan penyedia barang dan jasa penunjang industri energi dan migas ini menghimpun dana IPO sebanyak Rp 74,75 miliar. Perusahaan berencana menggunakan dana hasil IPO untuk modal kerja, biaya operasional, pembayaran kepada pemasok, hingga perbaikan alat berat.
Berikutnya, di peringkat kelima adalah PT Newport Marine Services Tbk (BOAT). Masih dari sektor energi, saham perusahaan perkapalan ini menawarkan harga saham Rp 100 saat IPO, yang kemudian sudah naik menjadi Rp 208 per saham.
BOAT memperoleh hasil IPO sebesar Rp 100,5 miliar, yang sebagian besar yakni Rp 75 miliar akan digunakan untuk melunasi pinjaman pokok. Sisanya, perseroan berencana menggunakan dana tersebut untuk modal kerja, seperti biaya bahan bakar kapal, menyewa kapal, hingga kegiatan operasional lainnya.
Di urutan keenam ada PT Esta Indonesia Tbk (NEST), yang memberikan potensi keuntungan (gain) harga saham sebesar 101,3%, dari Rp 200 menjadi Rp 406. Perusahaan yang bergerak di bidang pembibitan, budidaya, dan perdagangan besar sarang burung walet ini melantai di bursa pada 8 Agustus 2024.
NEST mengumpulkan dana IPO sebesar Rp 164,5 miliar. Dana direncanakan untuk penggunaan belanja modal pembelian lahan dan bangunan, hingga modal kerja seperti pembayaran gaji.
Emiten terakhir yang memberikan kenaikan harga saham di atas 100% adalah PT Gunanusa Eramandiri Tbk (GUNA) dengan pertumbuhan 101,3%. Pada penawaran umum perdana sahamnya, Gunanusa menetapkan harga Rp 150, yang pada 2 Januari 2025 telah menjadi Rp 300 per saham.
Saham baru yang melantai di bursa sejak 9 Juli 2024 ini meraih dana IPO senilai Rp 75 miliar. Jumlah ini akan digunakan perusahaan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku kacang almond dan kacang tanah, yang merupakan bahan baku utama produk perseroan.
Gunanusa merupakan perusahaan produsen Almonesia. Semula, perusahaan ini fokus pada produk kacang tanah, namun saat ini diperluas ke produk kacang mete, almond, dan hazelnut.
Pada urutan kedelapan hingga 17, terdapat saham PT Adiwarna Anugerah Abadi Tbk (NAIK) dengan pertumbuhan harga saham 85%, PT Dunia Virtual Online Tbk (AREA) 57,3%, PT Global Sukses Digital Tbk (DOSS) 52,6%, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) 46,4%, PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) 41,2%, PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) 39,9%, PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) 30,4%, PT Homeco Victoria Makmur Tbk (LIVE) 25%, PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE) 18,4%, dan PT Multi Spunindo Jaya Tbk (MSJA) 16%.
Sedangkan tiga saham lain, yang masuk urutan 20 teratas namun mengalami pertumbuhan harga saham kurang dari 10% adalah PT Intra Golflink Resorts Tbk (GOLF) sebesar 4%, PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) 2,9%, dan PT Master Print Tbk (PTMR) 2,3%.
Prospek Tetap Menarik 2025
Nyoman pun berharap, prospek dari sektor-sektor saham yang melantai di bursa tahun lalu akan tetap menarik pada 2025. Alasan utamanya karena produk-produk dari sektor tersebut merupakan kebutuhan sehari-hari.
Optimisme itu, lanjut dia, ditopang oleh stabilitas ekonomi domestik dengan target pertumbuhan ekonomi dan proyeksi inflasi yang terkendali. “Selain dari sektor-sektor tersebut, kami juga berharap seluruh sektor dapat bergerak positif, sehingga semakin banyak pilihan investasi untuk investor dari berbagai sektor,” sambung Nyoman.
Dukungan program pemerintah baru juga diharapkan manajemen bursa dapat berkontribusi menciptakan lingkungan yang semakin kondusif bagi aktivitas bisnis dan perekonomian.
21 Perusahaan Antre IPO
Ia menjelaskan, hingga akhir penutupan perdagangan BEI tahun 2024, terdapat 21 perusahaan yang mangantre IPO atau masuk pipeline. Klasifikasi aset perusahaan yang berada dalam pipeline, berdasarkan POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdiri dari satu perusahaan aset skala kecil atau di bawah Rp 50 miliar, dua perusahaan skala menengah dengan aset antara Rp 50-250 miliar, dan 18 perusahaan skala besar beraset di atas Rp 250 miliar.
Sementara, berdasarkan klasifikasi sektornya, calon emiten dari sektor konsumer primer (consumer non-cyclicals) mendominasi dengan jumlah lima perusahaan. Selanjutnya ada masing-masing tiga perusahaan dari sektor barang baku, energi, kesehatan dan industri yang bersiap melantai di bursa.
Sedangkan dari sektor keuangan, ada dua perusahaan yang mau menyelenggarakan IPO. Ada pula dua perusahaan dari sektor properti dan real estate yang perdana mau menawarkan sahamnya secara umum.

