Samuel AM: Kinerja Perekonomian RI Masih Oke
JAKARTA, Investortrust.id - Di tengah ketidakpastian global dan tekanan-tekanan ekonomi, kinerja perekonomian Indonesia dinilai relatif lebih baik. Setidaknya jika melihat nilai tukar rupiah masih terdepresiasi sebesar 4,4% terhadap dolar AS, penurunan yang dialami oleh mata uang Garuda masih jauh lebih baik dibandingkan sejumlah negara seperti Argentina, Brasil, Rusia.
Disampaikan Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen Agus B Yanuar saat bincang-bincang dengan Primus Dorimulu dari Investortrust.id, pelemahan nilai tukar rupiah dinilai masih lebih baik dibandingkan mata uang lain.
“Memang sepanjang 2024 minusnya sekitar 4,4%. Tapi itu jauh lebih baik dibanding pelemahan mata uang yang dialami oleh misalnya Argentina, Brasil, Rusia. Argentina melemah 21% terhadap dolar AS, bahkan Taiwan minus 6,3%. Kita termasuk yang jauh lebih baik dibanding mata uang lain,” ujar Agus di sela pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia 2025, Kamis (2/1/2025).
Ia juga menyebut tingkat pertumbuhan PDB Indonesia yang hampir mencapai 5% pada tahun lalu juga menggambarkan konsistensi pertumbuhan yang relatif baik.
Baca Juga
Optimistis, Bos Samuel AM Sebut IHSG di 2025 Bisa Dekati Level 8.000
Sebagaimana diberitakan, ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2024 tumbuh sebesar 4,95% (year on year), atau 1,5% secara kuartalan, atau sebesar 5,03% dibandingkan kuartal sebelumnya. Angka pertumbuhan masih bisa dicapai di tengah masih tingginya ketidakpastian dan berbagai tantangan global yang masih membayangi, seperti fragmentasi geoekonomi, ketegangan geopolitik
Namun demikian Agus membenarkan bahwa sejatinya dunia, khususnya Indonesia juga menghadapi tantangan begitu memasuki tahun 2025. Salah satunya tensi geopolitik di sejumlah belahan dunia yang masih memanas sehingga mengganggu rantai pasok kebutuhan energi dan pangan global.
Sementara itu di dalam negeri, tengah terjadi pelemahan daya beli masyarakat, yang berimbas pada tergerusnya jumlah kelas menengah yang selama ini disepakati sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi lewat tingkat konsumsinya.
Agus pun berharap pemerintah Indonesia lewat sejumlah kebijakan yang dilansir akan mampu mengatasi persoalan penurunan daya beli, khususnya di kelompok kelas menengah dan bawah. Dengan kebijakan terbaru dengan pembatalan kenaikan PPN menjadi 12%, dan hanya diterapkan pada sejumlah produk dan layanan jasa mewah, plus pemberian insentif, Agus yakin perekonomian domestik masih akan berjalan stabil.
Baca Juga
Menkeu: Stimulus Rp38 Triliun Tambahan, Totalnya Rp 265 Triliun
“Dengan formula PPN yang tidak naik menjadi 12% itu juga cukup membantu, ditambah dengan insentif yang tidak berubah. Dan kita harapkan sebetulnya ada.. ditingkatkannya penghasilan tidak kena pajak,” ujarnya. Harapannya, real income masyarakat bisa lebih tinggi daripada kenaikan real inflation yang akan menggerus penghasilan mereka.
“Dan memang kita harus lebih positif ya, karena beberapa kebijakan pemerintah sekarang jauh lebih populis juga melanjutkan apa yang dilakukan pemerintahan Jokowi dulu,” imbuhnya.
Berikutnya ia berharap pemerintah bisa merealisasikan janjinya untuk menambal dan mencegah kebocoran pada anggaran, dan merealokasikan kepada sektor-sektor yang lebih produktif.

