Optimistis, Bos Samuel AM Sebut IHSG di 2025 Bisa Dekati Level 8.000
JAKARTA, Investortrust.id – Jika pasar saham Indonesia tak terganggu isu global yang mengakibatkan koreksi di bulan Desember 2024 lalu, sejatinya Indeks Harga saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia bisa saja ditutup di level 7.400 – 7.500. Bahkan di tahun ini bisa terkerek mendekati level 8.000.
Disampaikan Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen Agus B Yanuar saat bincang-bincang dengan Primus Dorimulu dari Investortrust.id, memasuki tahun 2025, ia pun menyampaikan rasa optimismenya bahwa indeks akan bisa mendekati level 8.000 di akhir tahun.
“Dengan EPS growth tahun ini sekitar 9%, saya rasa ada potensi untuk indeks bisa mendekati 8.000 tahun ini,” ujarnya di sela pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia, Kamis (2/1/2025).
EPS growth (Earnings Per Share Growth) adalah pertumbuhan laba per saham dari waktu ke waktu yang digunakan sebagai indikator kinerja keuangan perusahaan dan dihitung dengan membagi total laba bersih perusahaan dengan jumlah saham yang beredar.
Keyakinannya berangkat dari sejumlah narasi tentang kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang diprediksi akan menerapkan kebijakan yang lebih soft di masa jabatannya, ketimbang saat ia memerintah di periode sebelumnya. Dipahami bahwa setiap kebijakan yang diterapkan oleh Amerika Serikat bakal berdampak pada hampir seluruh perekonomian negara-negara di dunia.
“Yang kita tunggu sebetulnya nanti setelah pelantikan Trump, bagaimana kebijakan yang akan dia tempuh, sebagian bilang akan lebih brutal dibanding sebelumnya, tapi sebagian narasi bilang mungkin dia akan lebih soft dan realistis,” tuturnya.
Baca Juga
Pembukaan Perdagangan BEI 2025 Tak Dihadiri Presiden, IHSG Gagah di Level 7.163
Salah satu narasi positif dari pemerintahan Donald Trump tahun ini antara lain potensi penerapan kebijakan Amerika Serikat yang akan mengurangi perannya dalam sejumlah konflik geopolitik dunia. Dengan dikuranginya keterlibatan Amerika Serikat pada sejumlah konflik, diyakini akan ikut menekan biaya energi ke arah yang lebih terukur di Amerika Serikat.
“Karena salah satu komponen inflasi terbesar di Amerika kan biaya energi. Jadi kalau (harga) oil-nya bisa lebih stabil di level US$ 70-an per barel, dampak dari kenaikan tarif import di Amerika bisa terkompensasi, karena biaya energi yang lebih rendah,” kata Agus.
Mengenai strategi investasi di reksa dana tahun ini, Agus secara umum merekomendasikan agar dana alokasi investasi para investor bisa dibagi secara imbang antara aset obligasi dan saham, atau masing-masing 50%.
“Tapi bagi mereka yang agresif tentunya lebih banyak di equity, beberapa saham bahkan kalau ukurannya indeks turun, tapi beberapa sektor masih bisa menghasilkan potensi positif. Itu tergantung dari kepiawaian para pengelola aset, ke sektor mana dia alokasikan,” paparnya.
Sementara instrumen reksa dana pasar uang di tengah tren globalnya suku bunga yang turun, diproyeksikan masih mampu memberikan return bagi investor di kisaran 5%. Sementara potensi return dari obligasi diperkirakan sedikit lebih tinggi di kisaran 7-8%.

