Stimulus China Diluncurkan, Harga Minyak Dunia Naik
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November 2024 meningkat US$ 1,27 atau sekitar (1,7%) ke level US$ 75,17 per barel pada Selasa (25/9/2024). Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November 2024 naik US$ 1,19, atau (1,7%) menjadi US$ 71,56 per barel.
Melansir Reuters, Rabu (25/9/2024), kenaikan itu dipicu usai bank sentral China (People’s Bank of China) telah meluncurkan paket stimulus ekonomi terbesar sejak pandemi Covid-19 untuk mengangkat perekonomiannya dari tekanan deflasi dan mencapai target pertumbuhan ekonomi.
Para analis menyebut berbagai paket stimulus fiskal masih dibutuhkan untuk mencapai berbagai target tersebut.
Selain itu, peningkatan harga minyak dunia terbatasi kabar yang menyebutkan bahwa badai yang akan melanda Teluk Meksiko pekan ini tidak akan melanda kawasan produksi minyak mentah yang mencakup 15% produksi minyak Amerika Serikat.
"WTI telah naik pagi ini setelah China bergerak untuk menurunkan suku bunga pinjaman utamanya. Pasar minyak mentah telah sangat berharap kepada otoritas China untuk melakukan pelonggaran lebih lanjut guna melawan perlambatan ekonomi," kata analis pasar di IG, Tony Sycamore.
Baca Juga
Di mana PBOC baru-baru ini membuat serangkaian pengumuman di antaranya pemangkasan rasio cadangan wajib, menurunkan biaya hipotek yang ada, dan mengizinkan dana pinjaman dari bank sentral untuk membeli saham.
Sementara untuk menghidupkan kembali ekonomi yang bergulat dengan tekanan deflasi. Gubernur Pan Gongsheng mengatakan bank sentral akan memangkas rasio persyaratan cadangan bank sebesar 50 basis poin (bps).
PBOC mengatakan, langkah-langkah ini dilakukan Beijing untuk mendorong sentimen pasar saham dan pasar perumahan yang beberapa bulan terakhir mengalami sentimen panas hingga memicu perlambatan ekonomi.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Akibat Melemahnya Permintaan Eropa dan China
Sementara itu, di Timur Tengah sebagai wilayah penghasil minyak utama, militer Israel mengatakan pihaknya melancarkan serangan udara terhadap lokasi Hizbullah di Lebanon hingga menewaskan 492 orang dan membuat puluhan ribu orang mengungsi massal.
"Pasar minyak khawatir bahwa meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut menyeret produsen minyak OPEC itu lebih dekat ke keterlibatan," kata bank ANZ dalam sebuah catatan.

