Ini Alasan Gen Z Marak Jadi Pelanggan Aset Kripto
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia dan Asosiasi Blockchain Indonesia (Aspakrindo-ABI) Robby Bun menjelaskan alasan banyak generasi atau Gen Z yang tertarik dengan aset kripto. Ini karena Gen Z memiliki kedekatan dengan game.
“Karena umur 17 tahun lagi heboh-hebohnya main game. Setiap ada waktu diluangkan untuk bermain game,” ucapnya dalam wawancara Podcast bersama investortrust.id di Kantor Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Rabu (4/12/2024).
Robby mengatakan, saat ini sudah banyak game yang berbasis blockchain. Salah satunya yang dikembangkan Metaverse, perusahaan besutan Facebook. Game di Metaverse dapat mempertemukan berbagai pengguna dalam satu aktivitas bersama dan mendapatkan reward berupa kripto.
Dia menjelaskan alasan inilah yang banyak membuat anak muda tertarik berinvestasi ke aset kripto. Dia mengatakan, banyak generasi Z yang kurang tertarik dengan saham karena harus melihat valuasi dan aksi korporasi yang dilakukan perusahaan.
“Sehingga penyerapan dan pemahaman terhadap industri saham ini sedikit kurang menarik bagi anak-anak muda sekarang,” ucap dia.
Baca Juga
Segera Melantai di BEI, Pedagang Aset Kripto Incar Dana IPO Rp 1 Triliun. Siapa Dia?
Blockchain memiliki hubungan erat dengan industri game karena teknologi ini membawa beberapa manfaat dan peluang baru yang sebelumnya sulit dicapai dalam sistem game tradisional. Blockchain memungkinkan item dalam game, seperti senjata, karakter, atau skin, direpresentasikan sebagai non fungible tokens (NFT).
Selain generasi Z, aset kripto juga kini mulai banyak dimanfaatkan oleh generasi boomers.
Melihat antusiasme masyarakat, Robby berharap terjadinya kenaikan angka pelanggan aset kripto pada tahun mendatang. Adapun hingga Oktober tercatat sudah ada sebanyak 21,6 juta pelanggan kripto di Indonesia.
“Jadi teman-teman sudah bisa belajar kripto dengan Rp 10.000, Rp 20.000 sedangkan dulu, saham butuh dana yang cukup besar untuk bisa memulai investasinya,” kata dia.
Baca Juga
Meski demikian, dia berharap pencatatan pelanggan aset kripto di Tanah Air dapat diperbaiki. Dia berharap adanya penggunaan single investor identification (SID) layaknya untuk saham.
“Jadi satu ID bisa dipakai di perusahaan manapun, semua sekuritas. Harapan, ke depannya, lebih akurat pencatatannya terhadap pelaku atau pengguna aset kripto bisa menggunakan SID,” ucap dia.
Selain terjun langsung, Robby berharap para generasi muda yang tertarik investasi juga membekali diri dengan pengetahuan yang cukup mengenai kripto. “Ilmunya ditambahi, pengetahuannya ditambahi,” pesannya.
Seperti diketahui, generasi Z dan milenial di Indonesia kini mengambil langkah besar di bidang investasi digital, terutama kripto. Data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan platform kripto lokal, menunjukkan bahwa lebih dari 60% investor kripto di Indonesia berada di rentang usia 18-30 tahun.
Kepala Bappebti Kasan menyatakan, Gen Z dan milenial di Indonesia semakin mendominasi investasi kripto, menunjukkan antusiasme tinggi pada aset digital sebagai alternatif pengelolaan keuangan. Kemajuan teknologi, termasuk blockchain, telah menarik minat generasi muda terhadap investasi kripto, yang kini dianggap sebagai instrumen investasi potensial.
Tren ini didukung oleh data usia investor kripto di Indonesia hingga September 2024, menunjukkan 26,9% investor berusia 18-24 tahun dan 35,1% berusia 25-30 tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan investor di kelompok usia lain, menegaskan peran besar generasi muda dalam ekosistem kripto di Indonesia.

