Kinerja UUS BTN Konsisten Tumbuh Impresif, Spin Off Perlu Disegerakan
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja Unit Usaha Syariah BTN yang tumbuh impresif pada kuartal III-2024 , membangkitkan lagi ekspektasi publik terhadap rencana pemisahan UUS atau spin off. Sejumlah kalangan meminta manajemen BTN untuk mempercepat aksi korporasi tersebut demi kemajuan industri perbankan syariah.
Salah satu alasannya, kehadiran BTN Syariah diharapkan dapat menjadi penyeimbang Bank Syariah Indonesia (BSI) sehingga kompetisi menjadi lebih sehat, mendorong akselerasi dan masyarakat memiliki lebih banyak opsi dalam berbank.
Baca Juga
Bos BTN Harap PPN DTP Diberlakukan Selama Satu Periode Prabowo-Gibran
“Dan paling penting, spin off UUS BTN merupakan amanat UU yang implementasinya memiliki tenggat waktu yang ketat. Prinsipnya, semakin cepat terwujud bakal semakin baik mengingat potensi pasar industry keuangan syariah yang tumbuh pesat,” kata Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah Sutan Emir Hidayat di Jakarta, Selasa (3/12/2024).
Emir menjelaskan, ada sejumlah faktor mengapa spin off BTN Syariah harus dipercepat. Pertama dari sisi rugulasi bahwa spin off sudah memungkinkan, karena total aset BTN Syariah sudah lebih dari Rp 50 triliun. Bahkan, nilainya sudah mencapai Rp 58 triliun hingga kuartal III-2024.
“Ada dua unit usaha syariah yang telah memenuhi aset lebih dari Rp 50 triliun, yaitu CIMB Syariah dan BTN Syariah. Dengan demikian secara regulasi sudah harus dilakukan spin off,” ujarnya di Jakarta, Selasa (3/12/2024).
Baca Juga
BTN Bukukan Kredit Rp 356 Triliun, Tumbuh 11,9% hingga September 2024
Faktor kedua, terang Sutan, spin off akan menambah kekuatan BTN dalam mendukung program pembangunan 3 juta rumah yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Apalagi, minat masyarakat terhadap KPR Syariah semakin tinggi. Artinya, jika BTN Syariah sudah beroperasi sebagai BUS, perseroan punya lebih banyak peluang untuk meningkatkan fungsi intermediasi, termasuk mencari sumber pendanaan alternatif.
Sutan Emir Hidayat
“Di sisi lain akan ada penerapan kebijakan loan to value (LTV) KPR perumahan hingga 100% atau pembeli rumah tanpa dipungut uang muka (down paymanet/DP), maka ini menjadikan BTN Syariah menjadi BUS sangat dibutuhkan,” terangnya.
Faktor lainnya, menurut dia, spin off akan mempercepat pertumbuhan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebagai induk ke depan. Dengan spin off, BTN bisa menciptakan unlock value BTN Syariah, sehingga akhirnya memperbesar aset dan kinerja keuangan BBTN selaku induk ke depan.
Dia mencontohkan pertumbuhan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sangat pesat setelah dilakukan merger BRI Syariah, BNI Syariah, dan Mandiri Syariah menjadi BUS. Pertumbuhan tersebut akhirnya berdampak positif kepada induknya.
Baca Juga
Soal BTN Syariah Akuisisi Victoria Syariah, Begini Kabar Terbarunya
Selain itu, dia mengatakan, tren pertumbuhan keuangan syariah Indonesia masih sangat menjanjikan. Momentum ini bisa dimanfaatkan dengan menjadikan BTN Syariah menjadi BUS. “Dengan menjadikan BTN Syariah menjadi BUS, rencana pemerintah untuk memperkuat ekosistem industri halal di Indonesia akan lebih cepat berkat adanya bank syariah baru,” terangnya.
Namun demikian, dia mengatakan, spin off BTN Syariah disarankan untuk dilakukan dengan mengakuisisi unit usaha syariah bank lain. Hal ini bertujuan agar BTN Syariah bisa menjadi bank besar atau setidaknya masuk dalam segmen bank kinerja bank berdasarkan modal inti (KBMI) 3. “BUS BTN Syariah diharapkan tetap menjadi bank besar agar bisa bersaing dengan bank syariah lainnya,” terangnya.
Sebelumnya, BTN Syariah mencatatkan kenaikan laba sebesar 33,6% secara tahunan atau year on year (yoy) pada Kuartal III-2024. Laba bersihnya meningkat menjadi Rp 535 miliar pada sembilan bulan tahun 2024, dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp401 miliar.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu sebeliumnya mengatakan, BTN Syariah mampu menunjukkan performanya yang gemilang secara konsisten. "Hal ini semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu pemain utama di pasar pembiayaan perumahan berbasis syariah," ujar Nixon.
Baca Juga
Dongkrak DPK, BTN Rilis Kartu Debit Khusus Segmen "Emerging Affluent"
Kenaikan laba bersih BTN Syariah ditopang kinerja intermediasi. Diketahui, penyaluran pembiayaan BTN Syariah sebesar Rp 42,7 triliun, naik 19,3% yoy dibandingkan Rp 35,7 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
BTN Syariah juga berhasil mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 31,5% yoy. DPK bank pelat merah ini tercatat menjadi Rp47,6 triliun per September 2024.
Dari segi permodalan, aset BTN Syariah tercatat sebesar Rp 57,7 triliun per Kuartal III-2024 atau tumbuh 19,2% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 48,4 triliun.

