Pertumbuhan Investor Kripto Lebih Kencang Ketimbang Saham, OJK Terus Dorong Aspek Literasi
JAKARTA, investortrust.id - Pertumbuhan investor kripto di Indonesia terus melesat, bahkan melampaui jumlah investor saham. Meski begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang tahun depan mendapat mandat pengawasan kripto, tetap mendorong aspek literasi di masyarakat.
Hingga Oktober 2024, jumlah investor kripto di dalam negeri mencapai 21,8 juta orang, jauh lebih besar investor saham yang saat ini baru mencapai lima juta orang. Hal ini mencerminkan besarnya minat masyarakat terhadap aset kripto sebagai alternatif investasi.
“Dalam waktu yang tidak terlalu lama, adopsi dari konsumen atau nasabah yang memilih dan membuka akun untuk menjadi investor di aset kripto ini, demikian cepat pertumbuhannya,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Keuangan, Aset Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK Hasan Fawzi, dalam wawancara eksklusif dengan Investortrust, di Kantor OJK, Jakarta, baru-baru ini.
Bahkan, lanjut dia, jika melihat laporan perusahaan riset ChainAnalysis, Indonesia saat ini telah berada di posisi ketiga dalam hal adopsi aset kripto global. Padahal di tahun lalu, RI bertengger di posisi ketujuh sebagai negara dengan tingkat adopsi kripto terbanyak.
“Ini PR kami di OJK. Selain mendorong pengembangan dan penguatan kegiatannya, tentu PR terbesar kita bersama adalah mendorong terus tingkat pemahaman (terkait kripto) ini melalui berbagai informasi yang berimbang, baik kepada investor maupun calon investor,” kata Hasan.
Baca Juga
Mau Investasi Kripto? Berikut Tips Investasi Menarik dari OJK
Menurutnya, peningkatan aspek literasi tersebut bertujuan agar para investor nantinya dapat betul-betul memahami di balik potensi tinggi dari pendekatan keuangan digital dan aset kripto ini.
“Tentu harus juga mereka memahami setiap risiko yang melekat di dalam (industri kripto),” ucap Hasan.
Di lain sisi, dia mengatakan, saat ini mayoritas investor kripto di Indonesia berasal dari generasi muda, khususnya gen Z dan milenial, yang lebih akrab dengan teknologi.
”Gen Z dan milenial ini tech savvy, sudah biasa dengan pendekatan tawaran melalui teknologi. Karena sekarang penyedia platform perdagangan itu saya kira mayoritas menyediakan pelayanan melalui aplikasi di smartphone dan sebagainya” ujar Hasan.
Baca Juga
Ini Dia Prioritas Pertama Saat Pengawasan Kripto Ada di Tangan OJK

