IHSG Terus di Zona Merah dan Tertinggal Jauh dari Wall Street, gara-gara Trump Menang?
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) terus terperangkap di zona merah dan kian jauh tertinggal dari kinerja indeks saham di Wall Street. Hingga sesi I perdagangan hari ini (Jumat, 15/11/2024), IHSG melemah 77,77 poin (1,08%) ke level 7.136,78 dengan volume perdagangan 37,32 miliar saham dan nilai transaksi Rp 5,93 triliun.
Selama sepekan, IHSG turun 1,5%, selama 1 bulan melemah 5,6%, selama 3 bulan anjlok 4%, dan selama tahun berjalan (year to date/ytd) terpangkas 1,9%. Kinerja IHSG tertinggal jauh dari indeks-indeks bursa saham di Wall Street, AS, terutama indeks Dow Jones Industrial Average.
Baca Juga
IHSG Terpangkas 6% dalam Sebulan, Faktor Ini Ditengarai Jadi Pemicu
Selama sepekan, indeks Dow Jones stagnan, selama 1 bulan naik 2,1%, selama 3 bulan melonjak 10%, dan selama tahun berjalan (ytd) melesat 16,1%.
Selama setahun, IHSG hanya naik 4%. Pada periode yang sama, indeks Dow Jones melejit 27,4%. Dalam 5 tahun, IHSG menguat 17% dibanding indeks Dow Jones yang melambung 57,5%. Dalam 10 tahun terakhir, IHSG menguat 41,3% dibanding 147,8% yang ditorehkan indeks Dow Jones.
Di ASEAN, bursa saham Indonesia kini menempati posisi paling buncit, sedangkan di Asia Pasifik nangkring di peringkat ke-12. Adapun di dunia, kinerja bursa saham Indonesia kini bercokol di peringkat ke-30.
Menurut Deputi Presiden Direktur Samuel Sekuritas, Suria Dharma, faktor utama yang menyebabkan pelemahan IHSG adalah efek kemenangan Donald Trump menjadi Presiden AS.
“Trump diduga akan memperlambat penurunan suku bunga The Fed. Hal ini disebabkan risiko meningkatnya inflasi dalam masa pemerintahannya,” kata Suria Dharma saat dihubungi investortrust.id, Jumat (15/11/2024).
Investor Pilih AS
Suria Dharma menjelaskan, sejak Trump resmi memenangi pilpres Negeri Paman Sam, dolar AS telah melesat ke level tertinggi. Sejalan dengan itu, imbal hasil obligasi AS juga bergerak naik. Alhasil, rupiah diprediksi mengalami tekanan seiring terus menguatnya dolar AS serta ekspektasi inflasi yang meningkat.
“Ini menaikkan USD index yang saat ini telah berada di level 106,7, sehingga mata uang lain melemah, termasuk rupiah. Pasar saham kita sangat sensitif terhadap pelemahan rupiah,” ujar Suria.
Selain itu, kata Suria Dharma, kemenangan Trump beberapa hari lalu menyebabkan investor lebih memilih untuk memasukkan dananya ke pasar AS alih-alih negara-negara emerging markets seperti Indonesia. Itu juga dibuktikan indeks Dow Jones yang menuju kenaikan tertinggi pada Selasa (12/11/2024) atau meelsat 1.508 poin (3,6%) ke level 43.729,93.
Baca Juga
Waspada! IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi bisa ke Bawa 7.000
“US Treasury priode 10 tahun juga tetap berada di level tinggi, di atas 4,4% walaupun the Fed sudah kembali menurunkan suku bunga,” tutur dia.
Suria Dharma mengungkapkan, di samping sejumlah sentimen tersebut, pasar saham Indonesia pada Oktober hingga November secara historis mengalami tren pelemahan dan baru mulai bangkit pada Desember.
Suria berharap, The Fed kembali memangkas suku bunga acuan bulan depan agar dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham, baik global maupun domestik. “Kita harapkan Fed akan tetap cut rate di Desember,” tegas dia.

