Bitcoin Dianalogikan Seperti Kecoa: “Sama-sama Susah Mati”
JAKARTA, investortrust.id - Seorang konten kreator Ferry Irwandi baru-baru ini mengungkapkan pendapatnya yang menarik tentang Bitcoin dalam sebuah unggahannya di Youtube. Ia membandingkan Bitcoin dengan kecoa, serangga yang terkenal dengan ketahanan hidup yang luar biasa.
Menurutnya, baik Bitcoin maupun kecoa memiliki kesamaan utama yaitu susah mati. Kecoa terkenal mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrim, termasuk serangan nuklir. Serupa dengan itu, Bitcoin juga telah bertahan dari berbagai tantangan besar, termasuk larangan pemerintah, regulasi ketat, hingga skeptisisme publik.
“Bitcoin berkali-kali diramalkan akan mati, hancur, selesai. Tapi setiap ramalan itu muncul, Bitcoin malah membuktikan sustainability dan ketahanan yang luar biasa,” ujarnya, dalam salah satu unggahan kontennya di channel Youtube pribadinya, dilansir Kamis (14/11/2024).
Ferry menggambarkan perjalanan Bitcoin sebagai aset digital yang tahan banting dan terus bertahan meskipun sering kali diramalkan akan berakhir.
Baca Juga
Bitcoin Terus Pecah Rekor, Minat Investor Kini Mulai Bergeser dari Emas ke Aset Digital?
Bitcoin pertama kali diinisiasi pada 2008 oleh seseorang atau sekelompok orang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto, dengan merilis Bitcoin Whitepaper. Dokumen ini berisi definisi dari Bitcoin, proyeksi, serta harapan dari penciptaan aset digital ini.
Kemudian, lanjut Ferry, pada 2009 jaringan blockchain pertama di dunia diaktifkan dan lahirlah Bitcoin. Seiring berjalannya waktu harga Bitcoin terus meroket, dari awalnya hanya terkenal di community base dengan kisaran harga kurang dari US$ 1 per koin, hingga sekarang yang sudah tembus US$ 90.000 lebih untuk satu koinnya.
“Setelah Bitcoin, banyak jenis aset kripto uang bermunculan seperti Ethereum yang membawa konsep smart contract-nya, terus juga ada Doge Coin yang sempat jadi sensasi di internet karena awalnya cuma meme tapi malah jadi terkenal banget,” katanya.
Seiring dengan meningkatnya pamor Bitcoin, menimbulkan juga banyak pro dan kontra. Karena Bitcoin tidak hanya sebagai alat tukar semata, tapi juga jadi ekosistem inovasi di bidang teknologi dari keuangan yang terdesentralisasi atau decentralized finance (DeFi) hingga ke game berbasis blockchain.
Dengan teknologi blockchain yang mendasari Bitcoin, membuatnya tidak bisa dimanipulasi. Sebab data transaksinya akan tersebar di ribuan komputer di seluruh dunia.
Baca Juga
Lebih lanjut, ia membahas bagaimana pemerintah Indonesia mengatur Bitcoin sebagai aset yang dapat diperjual belikan, meskipun untuk saat ini masih dilarang sebagai aset pembayaran. Ferry juga mengapresiasi kemajuan teknologi yang terus meningkatkan transparansi dan keamanan dalam industri kripto.
Di sisi bersamaan, ia berharap masyarakat lebih memahami risiko dan potensi yang ada dibalik investasi kripto. “Bitcoin memang berisiko tinggi, tapi dalam jangka panjang aset seperti Bitcoin dan Ethereum menunjukkan potensi yang menarik,” ucap Ferry.

