Daaz Bara (DAAZ) Cetak 3 Hari ARA, Kinerja dan Prospeknya Begini
JAKARTA, investortrust.id – Penguatan harga saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) kembali berlanjut hingga auto reject atas (ARA) pada perdagangan hari ketiga di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan demikian, kenaikan harga saham ini telah mencapai 94,88% dalam tiga hari transaksi.
Hingga pukul 10.30 WIB, saham DAAZ kembali mencatatkan ARA dengan kenaikan Rp 340 (24,73%) menjadi Rp 1.715. Bahkan, tercatat order beli sebanyak 116 juta saham DAAZ.
DAAZ sebelumnya telah menuntaskan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) dengan melepas sebanyak 300 juta saham atau setara dengan 15,02% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Saham tersebut dilepas dengan harga Rp 880 per saham, sehingga total dana yang diraup mencapai Rp 264 miliar.
Baca Juga
Emiten Baru Daaz Bara Lestari (DAAZ) Optimistis Kejar Pertumbuhan 20% Tahun Ini
DAAZ merupakan emiten erusahaan yang bergerak di bidang perdagangan komoditas tambang, jasa angkutan laut, dan jasa pertambangan. Perseroan bersama dengan anak usahanya disebut didukung rantai pasokan yang terintegrasi dalam industri mineral, sehingga dapat meningkatkan efektivitias dan efisiensi bagi perseroan.
Terkait kinerja keuangan, perseroan mencatatkan pendapatan senilai Rp 7,66 triliun hingga akhir 2023, dibandingkan periode sama Rp 6,48 triliun. Laba bersih periode berjalan senilai Rp 356,41 miliar hingga akhir 2023, dibandingkan periode sama tahun 2022 senilai Rp 382,99 miliar.
Sedangkan hingga April 2024, perseroan menorehkan pendapatan sebanyak Rp 2,58 triliun dengan raihan laba bersih Rp 84,93 miliar, dibandingkan dengan April 2023 dengan torehan pendapatan Rp 2,49 triliun dan laba periode berjalan Rp 98,02 miliar.
Baca Juga
Adapun prospek usaha perseroan, manajemen melalui prospektus menyebutkan bahwa, kinerja keungan perseroan diproyeksikan terus meningkat, seiring dengan peningkatan permintaan nikel global untuk kendaraan listri dan baja tahan karat. Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA), konsusmi nikel global mencapai 3,1 juta ton pada 2023 dan diperkirakan bertumbuh secara tahunan sebanyak 6,3% hingga 2030.
Peningkatan produksi pertambangan di Indonesia menciptakan peningkatan permintaan untuk layanan logistik yang efisien untuk mengangkut hasil tambang dari lokasi penambangan ke pelabuhan atau fasilitas pengolahan. Industri jasa angkutan laut menggunakan tug and barge memainkan peran penting dalam logistik maritim di Indonesia dan merupakan metode yang efisien dan ekonomis untuk melakukan transportasi komoditas dalam jumlah besar, dan diperkirakan akan terus bertumbuh. “Seiring dengan pertumbuhan industri pertambangan Indonesia, baik mineral hingga batu bara, industri penunjang sektor ini akan bertumbuh signfikan ke depan,” tulisnya.
Sebelumnya, Direktur Utama DAAZ Mahar Atanta Sembiring mengatakan, perseroan optimistis cetak pertumbuhan pendapatan di atas 20% tahun ini. Perseroan masih memiliki kesempatan pertumbuhan yang baik di tengah pasar yang cukup solid dan juga didukung oleh pemerintahan baru di Indonesia yang berkomitmen mendukung program hilirisasi mineral dalam negeri.
Baca Juga
“Kalau dilihat dari sejarahnya memang pertumbuhan DAAS kita selalu di atas 20%. Saya melihat masih ada kesempatan untuk tetap bertumbuh dengan baik. Apakah akan setinggi itu atau tidak saya rasa tergantung bagaimana dengan pertumbuhan global,” ujarnya.
Lebih lanjut, kedepannya Perseroan akan terus melakukan ekspansi dengan menjangkau pasar luar negeri, serta terus melakukan pertambahan alat kerja sehingga dapat meningkatkan volume perdagangan baik pada customer yang sudah ada dan juga menjangkau customer baru di seluruh sektor perdagangan nikel dan batubara.
Terkait perolehan dana IPO saham, rencananya sebanyak 33.34% akan digunakan untuk pembelian bijih nikel dan modal kerja Perseroan dan sebanyak 66.66% akan disalurkan melalui pinjaman digunakan untuk pembelian batubara, pembelian bahan bakar solar dan modal kerja di Perusahaan Anak.
Grafik Saham DAAZ

