Mantan Dirut BEI Tito Sulistio Optimistis Kemenangan Donald Trump Positif bagi Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2015 -2028 Tito Sulistio menyampaikan pandangannya terkait volatilitas pasar saham domestik pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat pada pemilihan presiden pekan lalu.
Tito mengaku tidak sependapat bila pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dikaitkan dengan sentimen terpilihnya Trump sebagai Presiden AS.
Sebaliknya Tito mencermati Trump sangat memerlukan pasar modal dunia agar terus berkembang. ‘’Terbukti Dow Jones langsung terbang 1.500 point saat Trump menang, Pemodal mendukung kemenangan dia,’’ kata Tito di kutip dari pesan singkat yang diterima Investortrust, Senin (11/11/2024).
Terkait pendapat yang menyatakan kebijakan ekonomi AS di tangan Trump bakal membuat dolar AS terlalu kuat dari mata uang lain, hingga menaikan suku bunga The Fed (Fed Funds Rate), dikatakan Tito hal itu tidak beralasan. Pasalnya bila itu dilakukan justru akan menyusahkan ekspor Amerika sendiri.
‘’Trump tidak mau dolar AS terlalu kuat dan ekonomi tidak berkembang kalau (suku bunga) The Fed terlalu tunggi,’’ terang Tito.
Baca Juga
IHSG Tergerus 0,28%, tapi Saham CUAN, PTRO dan BREN Malah Perkasa
Soal potensi perang dagang AS-China yang dikhawatirkan berulang, Tito mengatakan, pada 2016 saat Trump menjabat sebagai Presiden ke-45 AS, Trump ingin perusahaan AS bisa memproduksi barangnya sendiri di dalam negeri sehingga menaikan pajak Apple 25% yang diproduksi di China. Kala itu Trump justru tak ingin AS melancarkan perang dagang secara total. "Tapi ini dibalas China dengan menaikkan pajak impor kedelai dari AS," ujarnya.
Sementara pengaruhnya ke ekonomi Indonesia. Tito percaya kebijakan Trump saat menjabat sebagai Presiden AS justru akan lebih baik buat Indonesia. ‘’Ini pandapat saya sebagai orang pasar, bukan pejabat yang berpendapat,’’ pungkasnya.
Dihubungi terpisah, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta meyakini IHSG masih memiliki ruang untuk tumbuh dalam beberapa tahun ke depan.
Selain sentimen global terkait optimisme pasar AS, Nafan menilai sentimen dalam negeri cukup positif seiring kepercayaan pasar terhadap komitmen Presiden Prabowo Subianto yang dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, sehingga akan mempertahankan stabilitas pertumbuhan ekonomi di level 5%.
“Syukur-syukur kalau bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi baru Indonesia dalam 5 tahun berkuasa IHSG bisa menyentuh 10.500,” jelas Nafan kepada Investortrust.
Untuk itu, Nafan menjelaskan beberapa sektor yang dapat dicermati oleh investor usai kemenangan Trump sebagai Presiden AS adalah sektor keuangan, non-siklus, perawatan kesehatan, energi, dasar, industri, properti, dan teknologi.
Baca Juga
Tunggu Pidato Pejabat The Fed, Kurs Rupiah Ditutup Melemah Senin
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa kemenangan Trump dapat memperkuat dolar AS Dan membuat suku bunga The Fed tetap tinggi, yang mana kebijakan higher for longer akan terus berlanjut. Sehingga, BI dan KSSK berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.
Adanya penguatan dolar sendiri dinilai dapat menekan nilai tukar rupiah. Lebih lanjut, ketidakpastian kebijakan di AS dapat mempengaruhi aliran modal masuk ke Indonesia, serta ketidakpastian keuangan global juga berpengaruh pada pasar Indonesia.
Sementara itu, Nafan melihat bahwa the Fed masih akan tetap menjaga independensinya sehingga potensi pemangkasan suku bunga nanti akan tetap dipengaruhi oleh kondisi ekonomi AS. Ia mencontohkan, apabila Trump menjadi presiden, maka consumer price index akan mengalami kenaikan sehingga terdapat kemungkinan bahwa the Fed akan menerapkan kebijakan secara lebih restriktif.
“Di mana nanti Desember kan pemotongan suku bunga acuan bisa dilakukan sebesar quarter basis point ya, nanti di Januari itu the Fed akan cenderung menahan diri atau restriktif dalam menjalankan pemotongan suku bunga acuan, sambil menantikan summary of economic projection yang terkait dengan median Feds Fund Rate dan December Dot Plot,” ujarnya.
Grafik Pergerakan IHSG:

