Bitcoin Nyaris Pecahkan Rekor Tertinggi Baru, Akhir November Bisa Sentuh US$ 80.000?
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) melesat nyaris menyenggol titik tertingginya. Pergerakan ini berbeda dari reli baru-baru ini karena beberapa faktor fundamental menunjukkan bahwa pasar sedang bergairah.
Bahkan options traders telah meningkatkan taruhan bahwa Bitcoin akan mencapai puncak US$ 80.000 pada akhir November terlepas dari siapa yang memenangkan pemilihan. Volatilitas tersirat di sekitar Pemilu AS pada 5 November meningkat. ETF Spot-Bitcoin di AS telah menarik sekitar US$ 3,6 miliar dalam arus masuk bersih sejauh bulan ini.
Bitcoin mencapai rekor tertinggi baru di angka US$ 73.737 pada bulan Maret, tepat dua bulan setelah ETF diluncurkan. Namun, aset ini mengalami tekanan pasca ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian mengenai suku bunga yang masih tinggi. Namun, keputusan bank sentral untuk menurunkan suku bunga bulan lalu kembali meningkatkan minat investor pada aset berisiko seperti Bitcoin.
Aset digital tersebut naik hingga mencapai US$ 73.564 pada hari Selasa (29/10/2024) di New York sebelum turun di bawah US$ 73.000 pada jam-jam awal perdagangan Asia pada hari Rabu (30/10/2024) pagi. Kenaikan tersebut menjadi pendorong bagi token yang lebih kecil seperti Ether dan Dogecoin yang menjadi favorit banyak orang.
Menurut data Coinmarketcap pada Rabu (30/10/2024) pukul 08.10 WIB, kapitalisasi pasar kripto global naik 2,45% dalam sehari mencapai US$ 2,43 triliun. Bitcoin (BTC) sebagai koin kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar mengalami kenaikan 3,13% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga Bitcoin berada di level US$ 72.068 per koin. Dominasi Bitcoin saat ini adalah 58,80%, meningkat 0,48%.
Ethereum (ETH) juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 1,04% menjadi US$ 2.607 per koin. Namun sayangnya, Binance Coin (BNB) turun 0,58% dalam 24 jam terakhir dan kini dihargai US$ 599 per koin.
Baca Juga
Bitcoin Tembus Rp 1,11 Miliar, Investor Kripto Kini Makin Optimistis
Mengutip Bloomberg, Rabu (30/10/2024) Bitcoin dipandang oleh sebagian orang sebagai apa yang disebut ‘perdagangan Trump’ karena calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Donald Trump menggunakan aset digital selama kampanye. Adapun Trump unggul dalam pasar prediksi, sementara jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat melawan saingannya dari Partai Demokrat Kamala Harris.
Trump telah berjanji untuk menjadikan AS sebagai ibu kota kripto di planet ini. Harris telah mengadopsi pendekatan yang lebih terukur, berjanji untuk mendukung kerangka regulasi bagi industri tersebut. Posisi mereka kontras dengan tindakan keras terhadap sektor tersebut di bawah Presiden Joe Biden.
Trump juga mengatakan bahwa ia akan meminta miliarder Elon Musk, salah satu donatur utama kampanyenya untuk memimpin upaya pemotongan belanja pemerintah. Upaya tersebut dijuluki Department of Government Efficiency, atau DOGE, yang merujuk pada token Dogecoin yang dianut Musk.
Baca Juga
Koin Kripto Ngamuk Jelang Pemilu AS Pekan Depan, Bitcoin Bakal Pecahkan Rekor Tertinggi Baru?
Afiliasi Musk dengan kampanye Trump membantu mengangkat sentimen di kalangan trader, menurut Arisa Toyosaki, salah satu pendiri Cega, penyedia layanan derivatif kripto.
Bitcoin akhir-akhir ini berhasil bertahan dari penurunan taruhan pada pemangkasan suku bunga Federal Reserve, serta laporan pengawasan AS yang lebih ketat terhadap Tether, stablecoin yang bertindak sebagai kunci dalam perdagangan kripto. Bitcoin telah melonjak sekitar 73% pada tahun 2024.

