Saham Undervalued Sektor Finansial, Dua Bank Ini Jangan Sampai Lolos!
JAKARTA, investortrust.id - Saham sektor finansial mampu menguat tipis sebesar 0,06% pada perdagangan pasar saham, Jumat (25/10/2024) pekan lalu. Penguatan tersebut terjadi di tengah pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan seluruh sektor lainnya.
Melihat tingginya optimisme pada saham finansial, Tim Litbang Investortrust menyajikan 10 saham sektor finansial yang masih terbilang undervalued, untuk dipertimbangkan pelaku pasar dalam memilih saham pekan ini.
Beberapa saham kategori undervalued di sektor finansial ini terbilang memiliki kinerja baik, contohnya adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM).
Pada perdagangan Jumat lalu (25/10/2024), saham BBTN memiliki price earning ratio (PER) 5,81 kali dan price to book value (PBV) 0,64 kali. Sedangkan saham BJTM memiliki PER sebesar 6,19 kali dan PBV sebesar 0,74 kali.
Selain itu, saham-saham sektor finansial yang juga masuk dalam kategori undervalued adalah saham WOMF, MREI, SDRA, CFIN, ADMF, ASTM, TUGU dan BJBR.
Sepanjang semester I-2024, laba bersih BBTN tumbuh menjadi Rp 1,50 triliun naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,47 triliun.
Adapun, sepanjang semester I-2024 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar Rp 352,06 triliun atau tumbuh 14,4% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 307,66 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, kenaikan kredit diraih saat kondisi ekonomi global yang sangat menantang.
Baca Juga
“BTN tetap dapat menorehkan kinerja yang positif sepanjang semester I-2024. Bahkan penyaluran kredit dan pembiayaan BTN berhasil tumbuh signifikan. Kami optimistis hingga akhir tahun 2024, BTN tetap mampu membukukan kinerja keuangan yang positif,” ujar Nixon LP Napitupulu dalam keterangannya, Kamis (25/7/2024).
Disamping itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menjadi emiten yang paling diuntungkan pada pemerintahan baru mendatang, seiring dengan rencana penerapan kebijakan insentif pajak sebanyak 16% bersamaan dengan ekspektasi penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI).
Analis Kiwoom Sekuritas Mifthaul Khaer menuturkan, penghapusan pajak properti sebanyak 16% akan membawa dampak signifikan terhadap sektor properti dan perbankan yang fokus pembiayaan properti, khususnya Bank Tabungan Negara (BTN) ke depan.
“Kebijakan tersebut akan meningkatkan daya beli property oleh masyarakat, mengerek penjualan properti, dan pertumbuhan kredit di sektor perumahan. Hal ini juga dapat mempercepat tercapainya target pembangunan rumah dan memberikan stimulus positif bagi perekonomian secara keseluruhan,” terangnya ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (16/10/2024).
Bagi BTN, kebijakan ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan kredit, pangsa pasar, dan profitabilitas.
Sementara itu, saham BJTM juga mencatatkan kinerja positif. PT Bank Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) berencana mengambil alih saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) dengan mengakuisisi 476,19 juta saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) atau Bank Banten.
Baca Juga
IHSG Membentuk Minor Bearish Reversal, Waspada Titik Support 7.630 – 7.650
Nantinya, Bank Banten akan masuk dalam Kelompok Usaha Bank (KUB) Bank Jatim sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum.
Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) atau Bank Jatim mencatatkan laba periode berjalan pada semester I-2024 sebesar Rp 620,86 miliar atau turun 13,78% secara tahunan atau year on year (yoy) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp720,14 miliar. Lebih lanjut, Bank Jatim tercatat telah menyalurkan kredit sebesar Rp57,96 triliun pada paruh pertama tahun ini, tumbuh 17,78% yoy. (CR-4).

