Analis Optimistis Harga Bitcoin akan Melonjak Jelang Akhir Tahun
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin telah melonjak melewati level US$ 64.000 untuk pertama kalinya sejak 7 Oktober 2024, memicu spekulasi di kalangan analis kripto bahwa ini bisa menjadi momen terobosan yang telah diantisipasi para pelaku pasar selama bulan Oktober.
Melansir Cointeegraph, Selasa (15/10/2024), meski Bitcoin memperoleh kembali harga US$ 64.000, tidak sama dengan titik tertinggi baru atau bahkan puncak jangka panjang. Hal itu telah mengubah sentimen di antara para pengamat usai Bitcoin kembali ke harga US$ 59.000 pada 10 Oktober lalu, pada bulan yang secara historis merupakan salah satu bulan terkuat Bitcoin.
“Ini sudah diambang pintu,” ujar pendiri 10T Holding Dan Tapiero dalam postingan X nya, Senin (14/10/2024).
Ia menyarankan, begitu Bitcoin mendapat kembali level harga yang belum pernah terlihat selama empat bulan, harganya mungkin akan melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tentunya hal ini yang diharapkan oleh banyak trader di kuartal IV 2024.
”Jika tembus US$ 70.000, semuanya akan hancur,” kata Tapiero.
Baca Juga
Harga Bitcoin, lanjut dia, hanya berputar-putar. Istilah ini sering digunakan para trader ketika harga aset menyempit ke dalam kisaran harga yang semakin rendah. Hal ini sering kali memberi sinyal kepada para trader bahwa potensi kenaikan harga akan segera terjadi.
Senada dengan itu, trader kripto lainnya dengan nama samaran Jelle yakin bahwa konsolidasi Bitcoin yang berkepanjangan akan segera berakhir. Sejak halving Bitcoin pada 20 April lalu, Bitcoin telah terkonsolidasi dalam kisaran harga yang luas mulai dari US$ 58.000 hingga US$ 72.000.
“Musim panas sudah berakhir, mari bersenang-senang,” ucap Jelle.
Baca Juga
Dibalik Tekanan Jangka Pendek, Bos Indodax Yakin Ada Peluang Besar Bagi Bitcoin untuk Pulih
Secara terpisah, pasar kripto memulai pekan ini dengan positif, ditandai oleh menguatnya harga Bitcoin yang sempat melampaui level US$ 66.000 atau di atas Rp 1 miliar mencatat kenaikan 6% seminggu terakhir. Namun setelah Bitcoin berhasil mencapai harga US$ 66.300, apakah momentum bullish ini bisa dipertahankan?
Selama tujuh bulan terakhir, reli harga Bitcoin seringkali terbatas pada resistance di atas, khususnya pada level US$ 65.000–US$ 66.000, lalu kembali di bawah turun ke bawah US$ 60.000.
Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha dalam risetnya menjelaskan, dari analisa teknikal, Selasa pukul 09.00 WIB tadi, BTC bertengger di US$ 65.850. Saat in, jika BTC dapat bertahan di atas support US$ 64.000 maka dapat melanjutkan kenaikan ke US$ 68.000. Sementara, jika turun di bawah support, maka BTC potensi akan retest terlebih dahulu ke resistance trendline di sekitar MA-20 di level US$ 63.000.
Kenaikan Bitcoin seminggu terakhir didorong oleh beberapa faktor, termasuk data inflasi AS untuk September yang naik 2,4% year on year (YoY), sedikit lebih tinggi dari proyeksi 2,3% YoY, tetapi masih di bawah periode Agustus yang mencapai 2,5% YoY. Meskipun demikian, ekspektasi pemangkasan suku bunga tetap kuat, sehingga sentimen terhadap aset berisiko seperti Bitcoin tetap positif.
Sementara, meskipun terjadi arus keluar modal sebesar US$ 300 juta dari ETF BTC spot di AS pada akhir September hingga awal Oktober, perdagangan ETF BTC spot berhasil mencatatkan US$ 308 juta pekan lalu. Hal ini menunjukkan bahwa minat investor terhadap Bitcoin, masih sangat positif, bahkan mampu menutupi aliran negatif yang terjadi pada pekan pertama Oktober.
Salah satu narasi yang mendukung kenaikan harga Bitcoin baru-baru ini adalah meningkatnya peluang Donald Trump dalam pemilihan AS, yang terlihat melalui peningkatan popularitas peluang kemenangan di Polymarket mencapai 55%. Hal ini mengingatkan kembali pada situasi serupa di bulan Juli ketika harga Bitcoin sempat menyentuh US$ 70.000.
Selain itu, saham MicroStrategy juga mencatatkan titik tertinggi baru untuk tahun ini, yang memperkuat sentimen bullish di pasar. Ketidakjelasan langkah stimulus fiskal China turut memicu spekulasi bahwa investor berpotensi beralih ke aset kripto dibandingkan ekuitas China, memberikan dorongan tambahan bagi Bitcoin.
Minggu ini, ada empat peristiwa ekonomi penting di AS yang dapat mempengaruhi pasar kripto. Laporan klaim pengangguran akan menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja, sementara data penjualan ritel memberikan gambaran tentang kekuatan pengeluaran konsumen. Selain itu, data produksi industri dan laporan pendapatan perusahaan besar juga akan mencerminkan kesehatan ekonomi. Jika data ini menunjukkan ekonomi yang kuat, pasar kripto bisa merespons positif, dan melanjutkan kenaikan.
“Terakhir, kenaikan BTC di oktober sering dikaitkan dengan istilah ‘Uptober’, yang merujuk pada kecenderungan Oktober sebagai bulan bullish bagi Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan. Biasanya, Oktober ditutup dengan kenaikan, meski tidak jarang bulan ini dimulai dengan koreksi. Di tahun 2023, Bitcoin sempat turun 7% di paruh pertama Oktober sebelum rally sebesar 30% hingga akhir bulan. Momentum historis ini juga menjadi salah satu katalis penting yang bisa mendukung pergerakan bullish Bitcoin di sisa bulan ini,” kata Panji.

