Manajer Investasi Percepat Rotasi Saham Seiring Tren Penurunan Suku Bunga
JAKARTA, investortrust.id - Rotasi sektor di pasar saham umumnya terjadi sejalan dengan pergantian tahun. Namun strategi ini ditempuh lebih cepat oleh sejumlah Manajer Investasi (MI), seiring adanya tren pemangkasan suku bunga.
Chief Investment Officer PT Mandiri Manajemen Investasi, Ernawan R Salimsyah mengatakan, rotasi saham telah terjadi kepada saham-saham yang terkait dengan sensitive interest rate.
“Sektor yang sensitive interest rate seperti consumer dan retailer, perbankan, dan real estate itu akan diuntungkan,” kata Ernawan kepada investortrust.id di Jakarta baru-baru ini.
Baca Juga
Budi Hikmat Ajak Generasi Muda Belajar Investasi ala Nabi Yusuf dan Surat Dhuha
Lebih lanjut, Ernawan bilang seiring dengan pemangkasan suku bunga di Amerika, dolar AS sedang mengalami pelemahan sehingga rupiah akan menguat. Maka dari itu, Ernawan menilai perusahaan-perusahaan yang inputnya dalam dolar AS dan revenue dalam rupiah akan diuntungkan.
“Lalu perusahaan seperti Jasa Marga (JSMR), lebih ke sektor jalan tol, yang sensitive terhadap penurunan sepuh bunga, karena JSMR ketika cost of fundnya turun tetapi dia bisa meneruskan kenaikan harga tol, nah itu juga diuntungkan,” terang dia.
Dari sektor consumer, kata Ernawan, ketika perusahaan tersebut belanja gandum yang mana menggunakan dolar AS, dinilai akan menguntungkan karena terjadinya pelemahan dolar AS.
“Nah sekarang dengan dolar AS melemah, rupiah menguat, cost of goods sold itu jadi rendah, sehingga profit marginnya meningkat,” terang dia.
Selain dari sektor di atas, Ernawan juga bilang perusahaan-perusahaan sektor healthcare (farmasi) juga dinilai diuntungkan karena inputnya juga dalam dolar AS.
Di sisi lain, Vice President PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyebutkan rotasi sektor sudah terjadi belakangan ini. Di tahun ini, katanya, pada sektor keuanganl yang sangat dominan terjadi.
“Meskipun sektor keuangan di tengah tahun ini sempat turun, dan sektor lain seperi komoditas sempat naik. Tapi yang terbaru keuangan karena tren suku bunga turun, mereka memburu lagi,” ujar Wawan.
Selain itu, menurutnya sektor-sektor yang sangat berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah, seperti kelapa sawit (crude palm oil/CPO).
Pasalnya, Wawan menjelaskan dalam tiga bulan terakir ada kebijakan pemerintah terkait pemangkasan pungutan ekspor CPO yang diatur Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 62 Tahun 2024.
Baca Juga
Fantastis! Aset Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 42% di Periode 2020 - 2024
Pemangkasan pungutan ini menjadi US$ 63/ton dari US$ 90 per ton untuk September. Pungutan untuk produk kelapa sawit olahan akan berkisar antara 3% dan 6%. Peraturan baru ini berlaku sejak 22 September 2024.
“Hal itu positif untuk sektor CPO, kemudian sektor tembakau juga lumayan karena pemerintah membatalkan kenaikan cukai tahun depan, juga 2 hari terakhir emiten rokok meningkat. Jadi rotasinya selalu ada, tapi secara fokus itu tetap akan ada keuangan yang besar,” ucap Wawan.
Tak hanya itu, Wawan menerangkan jika saham-saham lain yang terkait suku bunga, ada otomotif dan properti, sektor tersebut juga diuntungkan.
“Overall sebetulnya ketika suku bunga turun, beban pendanaan emiten juga turun, mereka jadi lebih mungkin lulus ekspansi. Ini yang diharapkan juga, meskipun tidak langsung terkait suku bunga, tetapi penurunan suku bunga ini positif untuk pasar modal di Indonesia,” pungkasnya.

