Budi Hikmat Ajak Generasi Muda Belajar Investasi ala Nabi Yusuf dan Surat Dhuha
JAKARTA, investortrust.id – Portofolio Analytical PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mendalami prinsip berinvestasi dari Nabi Yusuf dan surat Dhuha. Selama ini, dia menganalisis bahwa perjalanan Nabi Yusuf yang gigih bisa ditiru dalam membentuk portofolio investasi yang baik.
“Tiga hal. Ada menanam ada berkelanjutan. Ini menciptakan disiplin untuk setiap hari menanam. Berarti kalau dalam dunia investasi. Invest in growing asset,” tegas Budi dalam Investortrust Goes to Campus Trisakti, baru-baru ini.
Aset yang bertumbuh, tambah Budi, meliputi talenta, saham, dan properti. Dengan begitu dia menegaskan agar pola pikir generasi muda dapat terbuka dan tidak hanya memandang saham sebagai satu-satunya pilihan investasi.
Baca Juga
Memilih growing asset juga diyakini mampu meredam risiko kerugian, terutama penurunan valuasi investasi akibat inflasi. Bagaikan berbisnis pisang, Budi mencontohkan bahwa lebih baik mengolah pisang tersebut menjadi keripik atau sale yang lebih awet, dibandingkan pisang mentahnya saja yang mudah busuk.
“Itu liquidity risk. Paling bagus di SBN, Surat Berharga Negara,” tambah dia.
Terakhir, Budi mengajarkan anak muda untuk terampil mengelola arus kas agar digunakan sedikit saja sehari-hari untuk kebutuhan pokok.
“Pada dasarnya untuk mengatasi middle income trap, kita perlu kaya. Jadi Anda punya income dulu, terus tumbuh. Silakan belanja yang produktif, tetapi belanja Anda jangan melewati income. Kemudian selisihnya diinvestasikan secara benar,” paparnya.
Sedangkan bagi kebutuhan yang perlu dana besar seperti rumah dan kendaraan, Budi menyarankan peserta seminar untuk menyesuaikan harga aset dengan kemampuan pendapatan.
Di sisi lain, pengalaman spiritual Budi untuk berinvestasi juga bermula dari surat Adh-Dhuha dengan rangkuman ‘Semoga masa depanmu jauh lebih baik dari masa awalmu.’
Baca Juga
Permudah Akses Masyarakat Berinvestasi, Bahana TCW Gandeng Cermati Invest
“Itu hanya bisa diraih dengan investasi. Bukan berutang,” tegasnya.
Guna menghindari investasi bodong, Budi juga mengingatkan generasi muda untuk menetapkan prinsip aman, untung, dan likuid saat memilih produk investasi. Menurutnya, orang yang terkena investasi bodong adalah pribadi yang hanya melihat keuntungan dan ikut-ikutan.
“Setiap diri, setiap bangsa, kalau enggak produktif, itu ujungnya krisis. Lebih baik sekarang saya challenge teman-teman berinvestasi di pasar modal dan jangan dibatasi hanya saham. Ada juga obligasi di pasar uang,” pungkasnya. (CR-10)

