Pasar Obligasi Indonesia Diklaim Menarik, tapi Investor Perlu Cermati Ini
JAKARTA, investortrust.id – Pasar obligasi Indonesia diklaim menarik oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI). Meski demikian, investor perlu tetap waspada atas risiko keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia.
Portfolio Manager Fixed Income MAMI Laras Febriany mengatakan, pada dasarnya Indonesia memiliki profil ekonomi yang menarik di antara negara berkembang lain. Hal ini didukung oleh tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi yang stabil, inflasi rendah, tingkat utang negara rendah, kondisi politik stabil, dan tingkat imbal hasil obligasi yang tinggi.
“Langka bagi suatu negara berkembang memiliki profil yang cukup baik secara menyeluruh karena biasanya ada saja masalah pada salah satu faktor tersebut,” tegas Laras pada Rabu (11/9/2024).
Baca Juga
Imbal Hasil Obligasi Diprediksi Capai 15%, Intip Tiga Faktor Pendorongnya
Dengan profil yang menarik itu, faktor kunci bagi investor asing adalah stabilitas nilai tukar Rupiah. Sebab, pelemahan nilai tukar akan menggerus potensi imbal hasil bagi investor asing. “Hal ini membuat obligasi Indonesia kurang menarik, pada akhirnya dapat membuat arus dana asing berbalik,” jelas Laras.
Dimulainya siklus pemangkasan suku bunga The Fed diperkirakan dapat menjadi iklim yang suportif bagi Rupiah dan bisa menarik arus dana asing masuk ke pasar obligasi Indonesia lebih lanjut.
Secara historis, periode pemangkasan suku bunga The Fed adalah kondisi yang negatif bagi Dolar Amerika Serikat (AS). Sejak 1990, terdapat delapan siklus pemangkasan suku bunga The Fed, yang secara rata-rata nilai tukar USD melemah 1,1% dalam periode tersebut. “Kondisi pelemahan USD ini seharusnya dapat menjadi faktor yang suportif bagi stabilitas Rupiah,” sambung Laras.
Baca Juga
MAMI Sebut Suku Bunga Bisa Turun 100 Bps, Kinerja Obligasi Dipercaya Cerah
Namun terdapat kondisi menarik, di mana pemangkasan suku bunga The Fed yang dipicu oleh kondisi resesi AS justru mendorong penguatan USD, seperti pada tahun 2001, 2007, dan 2020. Sebab, kondisi resesi justru meningkatkan permintaan USD sebagai aset safe haven.
“Jadi potensi terjadinya resesi AS dapat menjadi tantangan bagi stabilitas nilai tukar Rupiah ke depannya, di tengah naiknya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed,” tutur Laras dengan sudut pandang lain.
Selain itu faktor lain yang dapat mempengaruhi Rupiah ke depannya adalah dinamika kondisi domestik dari inflasi, kinerja neraca perdagangan, dan kebijakan ekonomi pemerintah baru.
Baca Juga
Jokowi Lantik Aida S Budiman Sebagai Anggota Dewan Komisioner LPS
Sedangkan pada Agustus 2024 kemarin, MAMI melihat optimisme pasar kembali meningkat secara signifikan. Pasar percaya bahwa The Fed dapat mulai memangkas suku bunga di September ini, setelah data inflasi dan tenaga kerja AS semakin melandai.
Pasar juga merespons positif pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell di simposium Jackson Hole, yang memberikan sinyal kuat bagi The Fed untuk melakukan penyesuaian kebijakan moneter. Hal ini disebabkan meredanya tekanan inflasi dan meningkatnya risiko di sektor tenaga kerja.
“Perubahan pandangan itu berdampak positif bagi pasar Indonesia, tercermin dari Rupiah yang menguat ke kisaran Rp 15.400, serta arus dana investor asing yang meningkat ke pasar obligasi,” tutup Laras.

