Revisi Naik Target Saham Barito Pacific (BRPT) Jadi Rp 3.500, Sekuritas Ini Ungkap 4 Katalis Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) merupakan proksi terdekat atas saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Bahkan, secara risiko BRPT jauh lebing unggul dibandingkan dua saham anak usahanya.
Berdasarkan data Prajogo Pangestu bertindak sebagai pengendali saham grup Barito. Dirinya tercatat sebagai memegang 71,1% saham BRPT. Sedangkan BRPT menggenggam 69,64% saham BREN dan BRPT menguasai 30,06% saham TPIA.
BRPT memiliki diversifikasi bisnis yang memungkinkan pengurangan risiko usaha, bandingkan dengan BREN yang khusus pengembangan panas bumi dan energi angin. Sedangkan TPIA hanya bertindak sebagai perusahaan produsen petro kimia.
Baca Juga
Berkah Bertemu Paus Fransiskus, Saham Emiten Prajogo (BREN) Ini Langsung Terbang ke Level Tertinggi
“BRPT merupakan proksi saham BREN dan TPIA dengan proposisi nilai yang lebih unggul dan diversifikasi risiko paling baik. Saat ini, saham BRPT diperdagangkan terdiskon 90% dari nilai pasar anak usahanya. BRPT juga terbukti menjadi perusahaan dengan kinerja luar biasa,” tulis analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan dalam risetnya.
Estimasi Kinerja Keuangan BRPT
Sumber: Sucor Sekuritas
Dia menyebutkan, ada empat katalis yang menjadi alasan utama mengapa saham BRPT sudah harus dilirik. Pertama, valuasi BRPT akan terdongkrak signifikan setelah TPIA menuntaskan akuisisi Shell di Singapura. Kedua, keberhasilan TPIA menerapkan value cration anak usahanya Chandra Daya Investasi (DCI) yang bergerak di bidang pelabuhan.
Ketiga, comersial power plant Indo raya Tenaga dengan kapsitas 2.000 MW. Keempat, perseroan akan mendapatkan tambahan pendapatan baru dari perusahaan patungan bidang property, perusahaan patungan Patimbang dan Cikupa.
Baca Juga
Bagikan Saham Bonus, Kepemilikan Prajogo hingga Manajemen makin Besar di Barito Pacifik (BRPT)
“Selain empat faktor fundamental tersebut, kami melihat bahwa masuknya saham BREN dalam perhitungan FTSE Global Equity Indek bisa menjadi sentiment positif. BREN juga berpotensi masuk dalam perhitungan MSCI, sehingga bisa berimbas positif terhadap saham BRPT,” tulisnya dalam riset tersebut.
Terkait akuisisi Shell Singapura oleh TPIA, dia mengatakan, berpotensi mendongkrak pendapatan TPIA hingga lima kali lipat pada 2025. Hal ini diharapkan menjadikan TPIA berbalik catatkan keuntungan mulai tahun depan. Selain itu, TPIA berpotensi menciptakan unlock value CDI, perusahaan bidang pelabuhan, dari sebelumnya nol menjadi US$ 1 miliar setelah berhasil menuntaskan spin off dan berpotensi mengakuisisi sebanyak 51% saham Chandra Pelabuhan Nusantara.
Baca Juga
Laba Atribusi Barito Pacific (BRPT) Naik, Manajemen Ungkap Peluang hingga Akhir 2024
Terkait segmen bisnis pembangkit listrik dan property, dia mengatakan, dua segmen ini diharapkan menjadi mesin pertumbuhan laba perseroan ke depan. Pembangkit listrik dengan kapasitas 2.000 MW ditargetkan beroperasi tahun depan. Perusahaan asosiasi ini diharapkan berkontribusi senilai US$ 51 juta terhadap pendapatan perseroan. Perseroan juga akan mendapatkan tambahan pendapatan dari perusahaan property, yaitu penjualan lahan industry dan perumahan di Patimban dan Cikupa dengan target kontribusi tahun depan.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas merevisi naik target harga saham BRPT menjadi Rp 3.500 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Jika mengacu harga penutupan BRPT Rp 1.110 terbuka peluang penguatan sebanyak 215,3% atas saham BRPT.
Grafik Saham BRPT dalam 5 Tahun

