Luno Indonesia Bandingkan Bitcoin dengan Emas, Kripto Layak Dijadikan Aset Investasi?
JAKARTA, investortrust.id - Luno Indonesia membahas berbagai macam hal yang simpang siur terkait penilaian terhadap aset kripto. Salah satunya adalah mengenai mitos atau anggapan kalau kripto tidak layak dijadikan aset investasi karena harga Bitcoin (BTC) terlalu volatil.
Terkait hal tersebut, Interim Country Manager Luno Indonesia, Aditya Wirawan tak menampik bahwa harga Bitcoin memang volatil. Namun, ia membandingkan aset investasi kripto dengan emas jika dilakukan dalam 14 tahun terakhir.
“Jadi kalau misalkan saya punya US$ 2, saya taruh US$ 1 buat di emas, saya taruh US$ 1 lagi untuk Bitcoin. Di 2024, untuk Bitcoin bisa membutuhkan, tadi US$ 1 jadi Rp 38 ribu, yang emasnya itu jadi hampir US$ 2-an,” ucapnya saat media visit di Kantor Investortrust, Gedung Convergence Indonesia, Jakarta, Rabu (4/9/2024).
“Nah ini bisa dilihat pergerakan harganya yang sangat berbeda dengan emas. Memang tidak dipungkiri, Bitcoin itu adalah aset yang nilainya volatil. Makanya kita bilangnya cenderung risiko tinggi,” tambah Aditya.
Baca Juga
Minimalisir Risiko “Senam Jantung” saat Investasi Kripto, Luno Indonesia Kasih Tips Jitu Berikut Ini
Meskipun terbilang volatil, Aditya menyebutkan bahwa grafik harga dari Bitcoin cenderung naik dari tahun ke tahun. Maka dari itu, ia menilai kalau aset kripto adalah investasi jangka panjang karena terdapat risiko pergerakan harga yang naik dan turun.
“Namun kalau misalkan kita zoom out, kalau kita zoom out itu cenderung naik. Jadi kita selalu mengingatkan, kita mengajarkan kalau investasi Bitcoin itu adalah aset investasi jangka panjang, karena volatil risiko,” jelasnya.
“Nah saya yang menunjukkan ini bukan berarti bilang Bitcoin lebih baik dari emas juga, ini merupakan punya fungsi masing-masing ya, untuk yang menjaga nilai yang punya emas lebih superior dari Bitcoin,” imbuh Aditya.
Baca Juga
Perjalanan Luno Garap Pasar Kripto di Indonesia, Tantangan dan Proyeksi ke Depannya
Lantas bagaimana mendapatkan keuntungan dari aset kripto jika ingin berinvestasi? Aditya mengungkapkan bahwa secara sederhana adalah menjual ketika harga Bitcoin lebih tinggi dibandingkan saat membeli.
“Kalau misalkan belinya di titik A ya, kalau belinya di titik A, tunggu sampai di titik C, kalau misalkan belinya di titik C, jangan dulu, tunggu dulu sampai di titik A. Jadi saya sempat beli di titik C waktu itu, nah saya tunggu, saya tunggu sampai 2024 lalu saya jual lagi,” tandasnya.

