Hilirisasi Saja Dinilai Belum Cukup untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%
JAKARTA, investortrust.id - Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Raden Pardede mengatakan, untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% perlu dilakukan berbagai upaya. Sebab, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan hilirisasi untuk mencapai target tersebut.
Sebagaimana diketahui, saat ini Pemerintah Indonesia sedang menggenjot hilirisasi, utamanya di sektor mineral dan batu bara (minerba). Pasalnya, mengolah bahan baku menjadi barang jadi akan meningkatkan nilai keekonomian produk. Namun, hilirisasi saja dinilai tidak cukup.
“Menurut kami hilirisasi perlu, tapi itu tidak cukup. Karena negara ini membutuhkan lapangan kerja yang banyak. Dengan hilirisasi, jumlah pekerjaan yang diciptakan relatif terbatas. Oleh karena itu harus broad based job creator sector,” ujar Raden dalam Investortrust CEO Forum di Ayana Midplaza, Jakarta, Kamis (29/8/2024).
Baca Juga
Selain hilirisasi, Indonesia juga dinilai perlu meningkatkan jumlah investasi yang masuk. Untuk lima tahun ke depan, foreign direct investment atau FDI butuh tambahan US$ 800-1.000 miliar.
Raden pun memandang, untuk menjadi negara maju Indonesia harus melakukan infusi (adaptasi) teknologi dalam produksi serta melakukan inovasi. Pasalnya, ini akan berpengaruh terhadap nilai jual hasil produksi.
Menurutnya, akan lebih baik lagi jika sektor yang bertumbuh dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak dan berorientasi ekspor. Raden menyebut dibutuhkan sekitar 3-4 juta lapangan kerja baru setiap tahun.
“Investasi perlu, tetapi tidak ada negara maju tanpa mengadopsi teknologi, tanpa melakukan lompatan di dalam teknologi. Jadi di samping investasi perlu, kita harus mengadopsi teknologi baru dan kemudian melakukan inovasi,” sebutnya.
Baca Juga
RAPBN 2025: Pertumbuhan Ekonomi Naik ke 5,2%, Belanja Negara Rp 3.613 Triliun
Raden menyampaikan, target pertumbuhan ekonomi 8% merupakan angka yang ambisius. Sebab, menurutnya, pertumbuhan 7% sudah menjadi target yang optimal untuk membawa Indonesia keluar dari middle income trap.
“Bahkan kita bisa mencapai US$ 30.000 per kapita tahun 2045. Itu hitungan kami. Tetapi, kita harus menghindari boom and bust selama 15 tahun, 20 tahun yang akan datang. Jangan sampai kita mengalami boom and bust. Dan itulah sebetulnya yang terjadi tahun 1997. Kita bertumbuh 8%, tahun 1997 kita drop minus 13% dan hilang satu dekade di situ,” ujar Raden.

