Ekonomi Indonesia Kerap Mendapat Durian Runtuh, Apa Maksudnya?
JAKARTA, investortrust.id - Perekonomian Indonesia kerap mendapat durian runtuh, rezeki nomplok, atau berkah tersembunyi (blessing in disguise) dari perekonomian dunia. Itu terjadi karena perekonomian Indonesia sangat tergantung pada pergerakan dolar AS dan pergerakan harga komoditas.
“Ekonomi kita sering kali mengalami blessing in disguise karena dolar dan komoditas,” kata Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual dalam Investortrust CEO Forum, di Jakarta, Kamis (29/8/2024).
David mengungkapkan, saat harga komoditas tinggi atau indeks dolar AS lemah, ekonomi Indonesia akan baik-baik saja. Berdasarkan data yang dikumpulkan BCA sejak 1971, sekitar 37% masa perekonomian Indonesia terbantu oleh kondisi global. “Hanya 26% kita itu indeks dolar kuat dan harga komoditas lemah. Ini pernah terjadi di 1998 dan 2018,” tutur dia.
David menjelaskan, perekonomian Indonesia sesungguhnya hanya berputar-putar di kuadran I yang digambarkan sebagai suplai dan likuiditas sama-sama ketat. Sedangkan kuadran II digambarkan sebagai suplai yang ketat dan likuiditas yang longgar. Selanjutnya kuadran III yaitu suplai yang berlimpah dengan likuiditas yang longgar. Adapun kuadran IV adalah posisi saat suplai berlimpah dan likuiditas ketat.
“Kalau kita lihat dalam dua tahun terakhir ini, ekonomi kita berputar-putar di kuadran I. Ada harga komoditas cukup tinggi, tapi waktu itu perang Rusia-Ukraina, The Fed intervensi kebijakan moneter ketat sehingga suku bunga naik, dolar AS naik,” ucap dia.
Setelah itu, kata David, ada ekspektasi The Fed akan melakukan perubahan kebijakan moneter yang lebih longgar dan menurunkan suku bunga. “Dan kita lihat dolar AS melemah,” ujar dia.
David Sumual meminta pemerintah ke depan mencermati dampak geopolitik. Dampak geopolitik pernah membuat rencana The Fed menurunkan suku bunga pada April 2024 batal karena ada serangan Iran ke Israel. “Sehingga harga minyak dan biaya shipping meningkat, akibatnya The Fed khawatir inflasi naik,” kata dia.
Pertumbuhan ekonomi China, kata David, diproyeksikan melambat di bawah 5%. Kondisi ini bakal memengaruhi beberapa negara yang tergantung pada ekspor komoditas ke China.
“Dari sisi inventori, China juga mengalami peningkatan produk, termasuk mineral. Itu kenapa indeks manufaktur kita turun di bawah 50, artinya kontraksi karena inventori di China cukup besar,” ujar dia.

