Saham Barito Renewables (BREN) Balik ke Atas Rp 10.000, Simak Sentimen Penopang Ini
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu ini, akhirnya Kembali menyentuh level di atas Rp 10.000 pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Rabu (28/8/2024).
Berdasarkan data perdagangan saham hingga puku 09.30 WIB, saham BREN bergerak dalam rentang Rp 9.800-10.075. Level Rp 10.075 menjadi level tertinggi hingga pukul 09.30 WIB. Kenaikan tersebut menjadikan kapitalisasi pasar (market cap) saham emiten ini makin kokoh diperingkat satu dengan nilai Rp 1.344 triliun jauh meninggalkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 1.266 triliun.
Baca Juga
Gandeng Acen Indonesia, Barito Renewables (BREN) Umumkan Pengembangan Pembangkit Ini
Level Rp 10.075 tersebut menjadi level tertinggi saham BREN terhitung sejak 11 Juli 2024. Sebagaimana diketahui sejak saat itu saham BREN ditransaksikan di bawah level Rp 10.000. Sedangkan level tertinggi saham ini sepanjang tercatat di BEI adalah Rp 12.200 pada 15 Mei 2024 dan level penutupan tertinggi Rp 11.250 pada 22 Mei 2024.
Penguatan harga saham emiten Prajogo Pangestu ini didukung sejumlah sentiment positif yang datang dalam beberapa hari terakhir. Pertama, FTSE Global Equity Series mengumumkan perubahan konstituen dengan memasukkan saham BREN menjadi saham kapitalisasi pasar besar dalam perhitungan indeks FTSE global bersama dengan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Perubahan tersebut akan efektif berlaku pada 22 September.
Kedua, manajemen Barito Renewables (BREN) kemarin mengumumkan telah menjalin kolaborasi dengan Acen Indonesia Investment Holdings Pte Ltd untuk mempercepat pengembangan proyek energi angin terbarukan di seluruh Indonesia.
Baca Juga
Bakal Masuk Perhitungan FTSE Global, Markcet Cap Saham Barito Renewables (BREN) Salip BBCA!
Disebutkan bahwa kemitraan strategis ini akan dilakukan perseroan melalui anak usahanya PT Barito Wind Energy dengan ACEN. Kemitraan ini dibangun setelah dituntaskan akuisisi tiga aset pengembangan energi angin di Sulawesi Selatan, Sukabumi, dan Lombok. Aset-aset tersebut memiliki potensi pengembangan sebanyak 302 MW energi angin yang dilengkapi dengan penyimpanan energi baterai canggih.
Sedangkan dari sisi kinerja keuangan, BREN justru mencatatkan penurunan pendapatan dari US$ 296,98 juta menjadi US$ 290,07 juta hingga akhir semester I-2024. Penurunan tersebut memicu laba periode berjalan perseoran turun dari US$ 78,34 juta menjadi US$ 73,66 juta.
Grafik Saham BREN

