Saham GOTO Masuk Indeks FTSE Mid Cap, Asing justru Borong dan Volume Perdagangan Naik
JAKARTA, investortrust.id – FTSE kembali melakukan rebalancing yang berimbas dikeluarkannya saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari indeks FTSE Large Cap menjadi FTSE Mid Cap. Perubahan tersebut didasarkan hasil review FTSE yang diumumkan Jumat, 20 Agustus dan mulai berlaku pada 22 September 2024.
Masuknya saham GOTO ke indeks FTSE Midcap tersebut sudah diantisipasi pelaku pasar, seiring tekanan harga saham GOTO hingga menyentuh level terendah Rp 50 per saham.
Untuk diketahui indeks FTSE large cap dan mid cap merupakan bagian dari indeks FTSE Indonesia. Indeks ini mengukur kinerja saham-saham pilihan di Indonesia berdasarkan bobot nilai kapitalisasi pasarnya. Indeks FTSE Indonesia juga merupakan bagian dari indeks FTSE All World Index.
Baca Juga
Berikut Daftar Saham Masuk FTSE Global Equity, Ada Saham BREN hingga ARTO
Indeks FTSE bisa diartikan sebagai indeks saham yang dirancang dan biasanya menjadi acuan para pengelola dana serta perusahaan investasi global untuk memilih saham-saham yang memiliki kriteria dari sisi size market cap serta likuiditas perdagangan yang memenuhi.
Transaksi Asing di GOTO
Terkait pergerakan harga saham GOTO terpantau sudah ke luar dari zona gocap dalam beberapa pekan ini. Saham ini kini ditransaksikan dalam level Rp 52-55. Bahkan, saham GOTO terpantau mulai agresif dikoleksi investor asing. Sepekan terakhir, net buy saham GOTO oleh investor asing mencapai Rp 19,8 miliar.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak 7 Agustus 2024, asing tak pernah absen membeli bersih saham GOTO. Dalam kurun 10 hari perdagangan efektif, asing net buy saham GOTO senilai Rp 130,7 miliar.
Baca Juga
Penguatan Sinergi Telkom (TLKM) dan GOTO bisa Lahirkan Sumber Pendapatan Baru
Nilai net buy tertinggi direalisasikan pada 14 Agustus 2024. Total pembelian saham GOTO tembus Rp 24,7 miliar. Dalam dua hari perdagangan terakhir asing juga meningkatkan akumulasi kepemilikannya di saham GOTO.
Sedangkan Senin,19 Agustus 2024, asing mencatatkan net buy Rp 14,1 miliar. Kemudian, 20 Agustus 2024, asing kembali koleksi saham GOTO senilai Rp 19,4 miliar.
Tren akumulasi saham GOTO oleh asing juga bertepatan dengan harga sahamnya yang konsisten bertahan di atas level gocap alias Rp 50. Sudah dua pekan saham GOTO bertahan di atas level terendahnya.
Likuditas Naik
Sementara itu, Analis Semesta Indovest Sekuritas Nicholas Dharmawan menilai bahwa tekanan jual saham GOTO mulai mereda. Di sisi lain, likuiditas perdagangan sahamnya di pasar sekunder juga masih tinggi.
“Rata-rata turnover dalam dua pekan terakhir mencapai Rp 106 miliar. Flow asing juga masuk. Tekanan jual mereda setelah harga mencapai bottoming, seiring dengan prospek kinerja yang positif dan confidence investor yang membaik” kata Nicholas.
Nicholas juga menggarisbawahi bahwa selain faktor perbaikan fundamental, aksi korporasi berupa buyback saham turut memberikan sentimen positif untuk harga saham GOTO.
Baca Juga
Rugi Bersih GOTO Terpangkas 62%, On Track Menuju Profitabilitas
“Dengan budget untuk buyback sekitar Rp 3,2 triliun tanpa menggerus likuiditas untuk ekspansi usaha, ini cukup memberikan confident bagi investor serta menjadi amunisi yang saat terjadi tekanan jual” ungkapnya.
Average Turnover GOTO
Dengan tekanan jual yang sudah mereda serta harga saham yang bertahan kuat di atas level gocap, turunnya saham GOTO menjadi penghuni indeks FTSE Mid Cap tidak perlu dicemaskan mengingat masih masuk ke dalam inklusi yang berarti tetap dalam keranjang portofolio beli investor asing.
Di sisi lain, kinerja GOTO pada semester I-2024 juga masih menunjukkan perbaikan yang signifikan. Pendapatan mengalami kenaikan sedangkan rugi operasional terpangkas. Setelah melaporkan kinerja yang membaik secara signifikan di semester I-2024, GOTO tetap mempertahankan target profitabilitas yakni EBITDA yang disesuaikan impas untuk tahun 2024.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis juga turut memberikan catatan terkait dengan pedoman manajemen tersebut. Niko menyoroti rasionalisasi beban usaha tetap (fixed cost) yang tercapai, marjin kontribusi positif untuk setiap user baru serta cross selling BNPL dan pinjaman.
Baca Juga
“Pada kuartal kedua 2024, Gojek meningkatkan jumlah penggunanya, dan biaya akuisisi pelanggan satu kali semuanya tercatat pada kuartal kedua 2024. Ke depannya, pengguna baru akan mencapai kontribusi margin positif dan menghasilkan leverage operasional dalam biaya teknologi.” Tulis Niko dalam catatannya.
Kemudian terkait dengan bisnis lending, Niko juga menilai bahwa basis pengguna yang lebih besar akan membantu GOTO untuk naik ke BNPL dan setelah siklus BNPL akan berkembang ke pinjaman digital. “Gopay masih dalam tahap awal, mampu tumbuh dengan menjamin pinjaman di berbagai platform termasuk kasus penggunaan BFIN dan Tiktok.” Ungkapnya.
Grafik Saham GOTO

