47 Tahun Pasar Modal Indonesia, Jumlah Investor Capai 13,45 Juta Kalah Pamor dari Aset Kripto
JAKARTA, investortrust.id - Pasar modal Indonesia menunjukkan dampak positif terhadap perekonomian memasuki usai ke-47. Jumlah investor di pasar modal juga menunjukkan pertumbuhan pesat menjadi 13,45 juta hingga 9 Agustus 2024.
Berdasarkan data single investor identification (SID), jumlah investor pasar modal yang terdiri atas investor saham, obligasi, dan reksa dana dan surat berharga lainnya telah bertambah 1,28 juta sejak akhir tahun 2023 menjadi 13,45 juta investor.
Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor domestik sebanyak 99,71%, sedangkan investor asing sebanyak 0,29%.
Baca Juga
Stabilitas Pasar Modal Terjaga, OJK Optimistis Penghimpunan Dana Rp 69 Triliun pada Sisa Tahun 2024
Direktur Utama KSEI, Samsul Hidayat mengatakan, khusus untuk investor saham, ada penambahan lebih dari 600 ribu investor saham menjadi 5,90 juta investor saham per 9 Agustus 2024.
"Tidak hanya itu, partisipasi investor ritel masih tetap tinggi selama tahun 2024. Hal ini mencerminkan keyakinan investasi di pasar saham Indonesia masih cukup terjaga meski dihadapkan situasi ekonomi global dan domestik yang dipenuhi dengan ketidakpastian," ujar Samsul di Gedung BEI, Jakarta, Senin (12/8/2024).
Meski demikian, jumlah investor pasar modal kini jauh di bawah jumlah investor kripto di Indonesia terus meningkat setiap bulannya. Baru-baru ini, Bappebti mengumumkan jumlah investor kripto di Indonesia mencapai 20,24 juta per Juni 2024. Kemudian, nominal transaksi kripto pun juga melonjak sekitar 345% year on year (yoy) di level Rp 301,75 triliun pada periode yang sama.
Baca Juga
Pertumbuhan Jumlah Investor Kripto Dua Kali Lebih Banyak Daripada Pasar Modal
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jas Keuangan (OJK) Inarno Djajadi mengatakan, pasar modal Indonesia telah berhasil menghimpun dana terhitung sejak awal tahun hingga 9 Agustus 2024 senilai Rp 130,9 triliun.
OJK juga mencatatkan pertumbuhan jumlah perusahaan tercatat bertambah menjadi 936 emiten, dari 903 pada 2023. Sebanyak 28 emiten baru, tercatat di BEI dalam bentuk saham maupun ebus. “Ini efektif pernyataan pencatatan di OJK. Mungkin berbeda dengan catatan di BEI,” jelas Inarno.
Baca Juga
Investor Pindah ke Kripto: Diversifikasi atau Pergeseran Pasar Saham?
Dalam penghitungan periode yang berakhir pada 9 Agustus 2024, OJK mencatat sebanyak 28 emiten baru, terdiri atas 27 emiten saham, dan satu emiten ebus dengan total nilai emisi Rp 4,4 triliun.
Di sisi lain, indeks harga saham gabungan (IHSG) per 9 Agustus 2024 tercatat menurun 0,22% dihitung dari awal tahun. Sedangkan dalam periode yang sama, kapitalisasi pasar di BEI tumbuh 5,38% menjadi Rp 12.302 triliun dibandingkan akhir 2023 sebesar Rp 11.647 triliun pada 29 Desember lalu. “ICBI indeks (obligasi) kita meningkat 3,37%,” imbuh Inarno.

