Pertumbuhan Jumlah Investor Kripto Dua Kali Lebih Banyak Daripada Pasar Modal
JAKARTA, investortrust.id – Pertumbuhan jumlah investor kripto di Indonesia jauh mengungguli kenaikan jumlah investor di pasar modal. Hingga Juni 2024, jumlah investor pasar modal bertambah sekitar 863.000 single investor identification (SID). Sedangkan di kripto jumlah investornya per Mei 2024 sudah mencapai 2.019.630.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia sudah lampaui 13 juta SID hingga pertengahan Juni ini. Sementara itu jumlah investor saham di Indonesia telah mencapai 5,7 juta SID.
Sedangkan menurut data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), jumlah investor kripto per akhir Mei 2024 sudah tembus 19,75 juta orang. Jumlah tersebut bahkan bisa lebih tinggi jika platform Zipmex tidak dalam proses penutupan.
Baca Juga
Zipmex dalam Proses Penutupan, Jumlah Investor Kripto Turun Jadi 19,75 Juta per Mei
Meski secara jangka waktu perhitungan masih kurang satu bulan, namun secara jumlah kripto sudah tampil sebagai juara dalam hal pertumbuhan investornya.
Dari sebanyak 2.019.630 penambahan jumlah investor. Secara rinci, di Januari ada penambahan 314.328, Februari 350.732, Maret 569.211, April 422.258, dan Mei 363.101 investor baru.
Memang secara jumlah total investor kripto mengungguli pasar modal, namun kripto belum memiliki SID. Di mana, SID merupakan nomor tunggal identitas investor pasar modal Indonesia yang diterbitkan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Baca Juga
Lima Sektor Kripto Ini Berpotensi Untung ke Depan, Apa Saja?
Wakil Ketua Umum Asosiasi Blockchain & Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo-ABI), Yudhono Rawis, mengatakan pertumbuhan transaksi kripto ini sangat positif. Menurutnya, hal ini mencerminkan minat yang semakin tinggi dari masyarakat terhadap investasi kripto di Indonesia, meskipun terdapat berbagai tantangan yang dihadapi industri ini.
"Tantangan yang dihadapi pasar kripto global saat ini cukup kompleks. Situasi makroekonomi yang belum stabil, ditambah dengan sikap The Fed yang belum melunak terhadap kebijakan moneternya, memberikan tekanan pada pasar kripto. Selain itu, arus masuk ETF Bitcoin yang
melemah dari investor institusi di Amerika Serikat juga mempengaruhi sentimen pasar. Meskipun demikian, kami tetap optimis dengan pertumbuhan industri kripto di Indonesia, karena minat dan kepercayaan masyarakat terhadap aset kripto terus meningkat," kata Yudho.
Di sisi lain, pertumbuhan jumlah investor pasar modal khususnya saham disinyalir tidak begitu besar akibat skema papan pemantauan khusus full periodic call auction (FCA) yang diberlakukan BEI. Bahkan para investor ritel beramai-ramai menolak kebijakan FCA karena dianggap merugikan mereka.
Menanggapi itu, Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pertumbuhan investor di pasar modal tidak melambat akibat hal tersebut. “Untuk konteks papan pemantauan khusus, kami akan terus melakukan review dan bersama dengan stakeholders berupaya agar jumlah saham yang ada di papan tersebut semakin sedikit,” ujarnya kepada investortrust.id, dikutip Kamis (27/6/2024).

