Esta Indonesia (NEST) Kejar Sejumlah Aksi Korporasi Ini Usai Listing Saham di BEI
JAKARTA, investortrust.id - Emiten budidaya burung walet dan perdagangan sarang burung wallet, PT Esta Indonesia Tbk (NEST), akan gencar ekspansi setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (8/8/2024).
Direktur Utama NEST Hoo Anton Siswanto mengatakan, usai menuntaskan IPO dan listing perdana saham di BEI, perseroan kian optimistis untuk pengembangan eksportir sarang walet dengan melakukan beberapa upaya, seperti penambahan kepemilikan rumah burung walet, memperbesar kapasitas produksi, ekspansi jaringan distribusi dan pemasaran baik di Tiongkok maupun negara tujuan lainnya, serta pengembangan produk baru.
Baca Juga
Gelar Bookbuilding, Perusahaan Sarang Burung Walet Ini Incar Dana IPO Rp 164,50 Miliar
“Setelah IPO, kita akan melakukan penambahan pabrik, penambahan kapasitas produksi dan juga penambahan rumah burung,” tuturnya usai seremoni pencatatan umum saham perdana (IPO) NEST di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (8/8/2024).
NEST membidik penambahan dua pabrik baru yang berlokasi di Semarang dan di Demak dengan luas lahan mencapai 1,3 hektare. Kedua pabrik sudah memasuki tahapan finishing dan diharapkan tuntas tahun ini.
Hingga kini, dia mengatakan, kapasitas ekspor sarang burung wallet dari NEST mencapai 20-30 ton. Sementara itu, total ekspor sarang burung Indonesia dapat mencapai 1.400 ton, mengingat potensi yang besar. Hal ini mendorong NEST untuk terus menggenjot kapasitas produksi ke depan.
Saat ini, NEST telah melakukan ekspor ke beberapa negara seperti China, Singapura, Amerika, Australia, dan Jepang.“China yaitu pemain walet terbesar yang juga menjadi partner kita dan menjadi pembeli terbesar. Saat ini pemasaran NEST lebih ke B2B sekarang ini. Tentunya kita akan juga mengarah ke B2C. Dengan adanya media platform di China yang sekarang lebih gampang diakses,” tuturnya.
Baca Juga
OJK Tetapkan Saham PT Esta Indonesia Tbk (NEST) Sebagai Efek Syariah
Dia menambahkan, perseroan terus mengembangkan potensi ekspor di luar China sebagai bagian dari memitigasi risiko, jika terjadi perlambatan permintan negara tersebut. “Jadi kita antisipasi, makanya kita ingin ngejar pasar-pasar lain yang non-China. Tapi tentunya kita cari kompensasi ya pasar lain. Kita juga berkembang di rumah burung juga jadi itu rasanya juga bisa membantu lah ya,” ujarnya.
Sebagai informasi, Indonesia dan China berperan penting dalam industri burung walet. sebagai produsen bahan baku yang menguasai lebih dari 75% produksi sarang burung walet dunia sedangkan China merupakan konsumen terbesar di dunia, dimana sekitar 80% produksi dunia diserap oleh China.
Xiamen Yan Palace Bird's Nest Industry Co., Ltd (Yan Palace) adalah perusahaan terbuka yang menjadi importir terbesar produk sarang burung walet di China yang juga merupakan pelanggan utama Perseroan. Yan Palace juga berinvestasi di Perseroan dengan membeli saham IPO Perseroan sebanyak 197.400.000 lembar saham. Dengan adanya IPO NEST, Yan Palace menyambut baik hubungan antara kedua perusahaan dan dapat memberikan efek positif bagi dua negara.
Baca Juga
“Kedua perusahaan bekerja sama selama bertahun tahun. NEST telah menjadi supplier bahan baku menjadi kualitas terbaik sehingga hubungan kami mewakili dua negara indonesia. Kedepannya hubungan kami akan semakin erat dan akan semakin baik, tentunya IPO ini akan memberikan efek positif bagi kedua perusahaan. Kedepannya kedua perusahaan akan lebih berkembang bersama,” ujar Direktur Yan Palace Huang Jian di Main Hall BEI, Kamis (8/8/2024).
Sedangkan pergerakan harga saham NEST saat listing perdana di BEI pukul 09.00 WIB sempat melesat hingga sentuh auto reject atas (ARA) dnegan kenaikan 35% ke level Rp 270 per saham. Saham ini ditransaksikan dengan volume sebanyak 243.396 kali dengan 2.765 kali dan nilai transaksi sebesar Rp 6,57 miliar.
Grafik Saham ESTA

