BEI: Minat IPO Cenderung Dipengaruhi Sentimen Domestik Bukan Resesi AS
JAKARTA, investortrust.id – Ancaman resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) mendatangkan kekhawatiran bagi pelaku pasar finansial global.
Bagaimana tidak, muncul fakta AS tengah dirundung lonjakan pengangguran ke level tertinggi sejak Oktober 2021 yaitu 4,3% dan pertumbuhan upah yang lebih lambat.
Kekhawatiran pelaku pasar ditengarai bisa berdampak pada minat perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham atau IPO.
Terkait prediksi ini, Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), I Nyoman Gede Yetna angkat bicara. Menurutnya minat IPO perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi eksternal, melainkan juga kondisi dalam negeri dan kondisi industri tertentu.
Baca Juga
XL Axiata (EXCL) Minat Pakai 'BTS Terbang' Milik Mitratel (MTEL), Asalkan…
“Kalau minat dari sisi owner (perusahaan), tentu akan mempertimbangkan banyak hal. Once dia mau IPO, dia yang melihat-lihat kondisi pasar. Dan terlihat mereka masih wait and see, apalagi kalau mau global offering. Kecuali dia mau hanya domestic offering saja di Indonesia,” kata Nyoman saat ditemui di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (8/8/2024).
Dari sisi eksternal, pertumbuhan ekonomi di luar negeri sangat mempengaruhi apakah investor global akan menanamkan saham ke pasar modal Indonesia. Sebab, investor tersebut pasti akan menimbang pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Selain itu, dari sisi stabilitas politik, pemilu telah berjalan dengan baik. Ia mengatakan, bahwa hampir 60% negara di dunia telah melakukan pemilu di tahun 2024 termasuk Indonesia.
“Di dunia hampir 60% dari negara-negara di dunia itu melakukan pemilu di tahun 2024, termasuk Indonesia. Dan itu GDP-nya itu 50% memberikan kontribusi pada GDP dunia,’’ kata Nyoman.
Artinya kata dia, saat ini kondisinya memang berhubungan dengan stabilitas dari sisi politik. Belum lagi masalah geopolitical tension. Ada perang dan lain-lain, mempengaruhi apa? Supply chains. Kalau port-nya ditutup, gimana mereka mengirimkan raw material,” jelas Nyoman Yetna.
Baca Juga
Kabar Gembira! Kemehub Permudah Perizinan Usaha Sektor Transportasi
Di samping itu, ia mengatakan bahwa penetapan kebijakan mengenai tingkat suku bunga juga sangat berpengaruh pada minat investasi. Ketika suku bunga di AS masih bertahan tinggi, investor akan berpikir berinvestasi ke sana.
“Bagaimana nanti? Kita tunggu. Federal Reserve baru kemarin menyampaikan masih belum akan menurunkan (FFR),” jelasnya.
Walaupun demikian, Nyoman menggaris bawahi bahwa ekonomi Indonesia relatif bertumbuh, di atas 5% dan inflasi Indonesia yang masih dapat dikendalikan. Hingga, saat ini hal yang dapat dilakukan BEI adalah menumbuhkan level kepercayaan diri di pasar modal Indonesia.
“Dari sisi stabilitas politik, mudah-mudahan stabil karena kemarin sudah terpilih presiden, wakil presiden,” terangnya.

