Harga Bitcoin Babak Belur, Ada Potensi Turun Lebih Dalam?
JAKARTA, investortrust.id - Tekanan jual di pasar kripto semakin meningkat pada minggu pertama bulan Agustus. Dimulai dengan pembalikan harga Bitcoin dari US$ 70.000, para investor dan trader terus memanfaatkan situasi FUD (fear, uncertainty, doubt) di pasar yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran akan resesi.
Tekanan jual ini memicu koreksi signifikan di sebagian besar altcoin utama. Ethereum, misalnya, turun di bawah US$3.000 pada hari Jumat (2/8/2024), sementara Bitcoin merosot dari puncaknya di US$ 70.000 menjadi di bawah US$ 60.000 dalam waktu kurang dari tujuh hari. Bahkan, Senin (5/8/2024) siang ini harga Bitcoin sedang berada di US$ 54.385 usai turun 10,40% dalam sehari atau 21,52% dalam sepekan. Lalu Ethereum ada di US$ 2.378 usai turun 18,42% dalam sehari atau 28,92% dalam sepekan
Penurunan Bitcoin ini terjadi setelah AS merilis laporan pekerjaan bulan Juli pada Jumat malam. Laporan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi AS mungkin berada dalam kondisi yang lebih mengkhawatirkan daripada yang diyakini banyak orang, dengan tingkat pengangguran melonjak hingga 4,3% tertinggi sejak Oktober 2021. Wall Street bereaksi dengan penurunan harga, dan pasar kripto pun ikut merosot.
Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan, selama akhir pekan, BTC dan altcoin terus tertekan. BTC jatuh ke level terendah dalam tiga minggu di bawah US$ 60.000, kehilangan lebih dari sepuluh ribu dolar dalam waktu kurang dari seminggu. Mengawali pekan kedua Agustus ini, BTC terpantau terus melemah. Likuidasi pasar kripto meningkat pesat di tengah aksi jual besar-besaran di pasar Jepang.
Aksi jual kripto semakin intensif pada jam perdagangan Asia karena Nikkei Jepang anjlok 7% lagi pada jam-jam awal perdagangan pada hari Senin, 5 Agustus. Anjloknya Nikkei baru-baru ini telah memperpanjang kerugian indeks hingga lebih dari 20% dari puncaknya pada bulan Juli.
“Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel menambah panasnya pasar yang sudah lemah. Pasar kripto tentu akan merasakan panasnya taruhan yang menghindari risiko di masa mendatang,” ujarnya dalam riset, Senin (5/8/2024).
Baca Juga
Raksasa Keuangan Morgan Stanley Mau Tawarkan ETF Bitcoin ke Klien Tajir
Meningkatnya kekhawatiran resesi juga menyoroti potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed yang mungkin tidak akan mencegah resesi dan malah dapat mempercepat inflasi. Kekhawatiran ini memicu volatilitas pasar yang lebih luas dan memicu jatuhnya pasar kripto saat ini.
Selain itu, kinerja buruk ETF Ethereum spot semakin memperburuk situasi. Produk investasi ini terus mengalami arus keluar yang signifikan. ETF Bitcoin mengalami arus keluar sebesar US$ 237,4 juta pada tanggal 2 Agustus, dengan total mingguan sebesar US$ 80,4 juta. Sementara itu, ETF Ethereum mengalami arus keluar sebesar US$ 54,3 juta untuk hari itu dan US$ 169,4 juta untuk minggu itu.
Penurunan pasar saham yang lebih luas juga membebani pasar kripto. Pada hari Jumat, 2 Agustus, saham anjlok tajam karena laporan pekerjaan yang lebih lemah dari yang diantisipasi memicu kekhawatiran akan penurunan ekonomi. Indeks pasar yang luas anjlok 1,84%, berakhir pada 5.346,56.
Indikator Crypto Fear & Greed Index juga menunjukkan kekhawatiran. Pada Senin (5/8/2024), Crypto Fear & Greed Index jatuh ke level "Fear" dengan 26 poin dari level "Greed" 74 poin pada pekan lalu. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap aset kripto mengalami perubahan signifikan dalam waktu singkat. Penurunan ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketidakpastian ekonomi global, regulasi yang semakin ketat, atau berita negatif yang mempengaruhi persepsi investor terhadap pasar kripto.
Faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap penurunan ini adalah volatilitas harga Bitcoin dan altcoin utama yang menciptakan kekhawatiran di kalangan investor. Penurunan tajam pada indeks ini sering kali diikuti oleh aksi jual besar-besaran karena investor berusaha melindungi aset mereka dari potensi kerugian lebih lanjut.
“Namun, bagi sebagian investor yang lebih berpengalaman, situasi ini bisa dianggap sebagai peluang untuk membeli aset kripto dengan harga yang lebih rendah sebelum pasar kembali pulih,” kata Fyqieh.
Di tengah ketidakpastian ini, penting bagi investor untuk tetap tenang dan membuat keputusan berdasarkan analisis yang mendalam serta strategi investasi yang matang. Sentimen pasar memang bisa berubah dengan cepat, namun investasi yang didasarkan pada penelitian yang solid dan pemahaman mendalam tentang pasar kripto cenderung memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang.
Federal Reserve AS memutuskan untuk tidak memangkas suku bunga seperti yang diharapkan banyak investor. Keputusan ini mengejutkan pasar, memicu aksi jual yang signifikan di kalangan trader dan investor.
Namun, jika melihat ke depan, data Pekerjaan Non-Pertanian AS yang dovish dan dipublikasikan pada Jumat, 1 Agustus, dapat membawa angin segar bagi pasar. Laporan ini bisa memicu perubahan positif dalam momentum pasar ketika perdagangan dilanjutkan pada 5 Agustus.
Pergerakan harga Bitcoin terbaru menunjukkan bias netral dengan kecenderungan rebound ke US$ 62.000. Indikator Relative Strength Index (RSI) yang telah memantul dari wilayah jenuh jual (30) ke angka 43 menunjukkan bahwa tekanan jual mungkin mulai mereda.
Selain itu, Bollinger Bands mengindikasikan kontraksi volatilitas, yang sering kali menjadi pertanda potensi kenaikan. Batas atas di US$61.300 dan batas bawah di US$ 52.800 menjadi level penting yang perlu diperhatikan.
“Jika Bitcoin bergerak di atas batas atas, ini dapat mengonfirmasi pemulihan, sementara penurunan di bawah batas bawah akan menunjukkan potensi pelemahan lebih lanjut,” imbuh Fyqieh.
Baca Juga
Harga Bitcoin Ambles 15% dan Ethereum Terjun 18% dalam Sepekan, Waktunya Serok?
Meskipun indikator teknis menunjukkan bias netral dengan peluang rebound ke US$ 62.000, pergerakan harga Bitcoin pada akhirnya akan sangat bergantung pada sentimen pasar dan faktor eksternal.
Oleh karena itu, pendekatan yang hati-hati sangat direkomendasikan. Mengamati level resistensi di US$ 61.300 dan dukungan di US$ 52.800 dapat membantu dalam mengambil keputusan perdagangan yang lebih bijak untuk minggu mendatang.
“Dengan tetap memantau indikator teknis dan perkembangan ekonomi, investor bisa lebih siap dalam menghadapi volatilitas pasar dan memanfaatkan peluang yang muncul di tengah dinamika yang ada,” ungkapnya.

