Harga Bitcoin Ambles 15% dan Ethereum Terjun 18% dalam Sepekan, Waktunya Serok?
JAKARTA, investortrust.id – Pasar kripto masih merana. Bitcoin merosot tajam di level US$ 58.000-an pada awal pekan WIB. Penurunan Bitcoin seiring aksi jual pasar yang berlanjut hingga beberapa hari terakhir.
Ether (ETH) juga turun di level US$ 2.600-an, menelusuri kembali semua keuntungan dari pergerakannya ke US$ 3.400 pada bulan Juli karena dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) spot ETH disetujui untuk diperdagangkan di AS. Namun produk tersebut telah mencatat arus keluar bersih dalam enam hari dari sembilan hari perdagangan. Data SoSoValue menunjukkan, terdapat total arus keluar bersih sebesar US$ 510 juta sejak diluncurkan.
CoinDesk 20 (CD20) berbasis luas, indeks likuid yang melacak token terbesar, dikurangi stablecoin, turun 5,73%.
Baca Juga
Tepat Hari Ini, 14 Tahun Lalu Bitcoin Cuma US$ 0,05, Tahun Ini Harganya Sempat US$ 73.798
Menilik data Coinmarketcap, Senin (5/8/2024) pukul 07.00 WIB BTC turun 4,13% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 58.172. Bahkan dalam sepekan BTC sudah anjlok 14,76% dengan kapitalisasi pasar saat ini US$ 1,14 triliun.
Ethereum bahkan turun lebih dalam hingga 7,30% dalam sepekan ke US$ 2.690. Dalam sepekan bahkan sudah ambles 17,78% dengan kapitalisasi pasar US$ 323,51 miliar.
BNB juga turun cukup dalam 6,12%, XRP kehilangan 5,80%, dan Shiba Inu turun 6,34% dalam 24 jam terakhir.
Baca Juga
Donald Trump Luncurkan Sepatu Sneakers Bertema Bitcoin Seharga Rp 8,1 Juta, Mau?
Kapitalisasi pasar kripto global adalah US$ 2,05 triliun, turun 4,71% dibandingkan hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 77,66 miliar, meningkat 6,50%. Dominasi Bitcoin saat ini sebesar 55,91%, meningkat 0,21% sepanjang hari.
Mengutip Coindesk, Senin (5/8/2024) taruhan berjangka yang bullish kehilangan hampir US$ 200 juta. Data CoinGlass menunjukkan, karena lebih dari 97.000 pedagang dilikuidasi dalam 24 jam terakhir karena pergerakan pasar yang tiba-tiba. Data menunjukkan bahwa posisi beli ETH menyebabkan kerugian sebesar US$ 55 juta, diikuti oleh posisi beli Bitcoin sebesar US$ 43 juta.
Beberapa pedagang sebelumnya memperingatkan kemungkinan pergerakan BTC ke level US$ 55.000, seperti yang dilaporkan pada hari Jumat, di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan mengurangi sentimen terhadap aset berisiko seperti saham teknologi.
Secara terpisah, CEO INDODAX Oscar Darmawan menilai, penurunan harga Bitcoin merupakan bagian dari koreksi pasar yang lebih luas.Dalam jangka pendek, volatilitas seperti ini dapat menjadi hal yang umum, terutama setelah kenaikan harga yang tajam.
"Namun, penting untuk melihat koreksi ini sebagai peluang untuk kembali mengatur strategi investasi," ujarnya.
Dia menambahkan meskipun saat ini harga Bitcoin mengalami tekanan, posisi harga masih menunjukkan potensi bullish jangka panjang.
“Jika Bitcoin dapat kembali mempertahankan level harga di atas US$ 70.000 dan menembus resistensi yang lebih tinggi, maka akan ada potensi kenaikan harga yang signifikan. Pasar kripto tetap dinamis dan investor harus siap untuk beradaptasi dengan perubahan cepat,” katanya.
Oscar juga mengajak para investor untuk membeli atau serok Bitcoin sebagai peluang investasi. Tetapi, tentunya harus siap dengan resiko jika terjadi penurunan seperti sekarang. Dia mengindikasikan bahwa saat ini merupakan waktu yang baik untuk menambah posisi di Bitcoin, mengingat historis potensi keuntungan jangka panjang yang ada.

