Prospek Industri Cerah, Cek Saham Properti yang Masih Undervalued
JAKARTA, investortrust.id - Industri properti dan real estate dinilai memiliki prospek yang baik tahun ini, untuk itu saham-saham sektor ini bisa dipertimbangkan sebagai pilihan investasi secara jangka panjang, terlebih masih banyak saham emiten properti besar yang dapat dikategorikan undervalue.
Sebagai panduan, Litbang Investortrust menyajikan saham-saham properti yang dikategorikan masih undervalue. Daftar teratas ditempati oleh saham PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), PT Vastland Indonesia Tbk (VAST), dan PT Minahasa Membangun Hebat Tbk (HBAT).
Selanjutnya diikuti oleh PT Winner Nusantara Tbk (WINR), PT Citra Buana Prasida Tbk (CBPE), PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD), dan PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA).
Baca Juga
Tumbuh 21%, Ace Hardware (ACES) Raih Laba Bersih Rp 365,42 Miliar
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Soekarno Alatas mengatakan bahwa beberapa saham tersebut masuk ke dalam kategori undervalue sebab PER yang di bawah rata-rata industri, kemudian PBV dibawah 1-2x atau rata-rata industri.
Menurut catatan Litbang Investortrust, price earning ratio (PER) saham APLN hingga akhir pekan lalu (2/8/2024) tercatat 1,98 kali dengan price to book value (PBV) 0,14 kali. Sedangkan PER saham VAST 2,20 kali dan PBV 0,77. Kedua emiten tersebut berhasil mencatatkan kinerja positif pada semester I-2024.
Pada semester I-2024, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mencatatkan marketing sales Rp 796,3 miliar atau naik 38% dibandingkan periode tahun sebelumnya sebesar Rp 578,5 miliar.
Corporate Secretary APLN, Justini Omas menjelaskan, melonjaknya marketing sales di semester I tahun ini mampu menjaga penjualan dan pendapatan usaha APLN mencapai Rp 1,89 triliun, naik tipis 1% dibandingkan periode sama tahun 2023 sebesar Rp 1,87 triliun.
“Membaiknya kinerja perusahaan pada semester I-2024 ditopang oleh optimalisasi penjualan di seluruh segmen bisnis mulai rumah tinggal, apartemen, rumah toko, perhotelan hingga segmen pusat perbelanjaan,” jelas Justini dalam keterangannya, Rabu (31/7/2024).
Sedangkan, VAST juga membukukan pendapatan yang meningkat 46,2% menjadi Rp 18,2 miliar pada semester I 2024 dibandingkan periode tahun sebelumnya sebesar Rp 12,4 miliar. Walaupun laba bersihnya turun sekitar 1,8% secara tahunan (yoy), secara kuartalan (qoq) laba bersih mengalami kenaikan 89,5% dari Rp 1,9 miliar di kuartal I-2024 menjadi Rp 3,6 miliar pada kuartal II-2024.
Baca Juga
Sementara itu, tahun ini VAST akan mengalokasikan Rp 2 miliar untuk belanja modal atau capital expenditure (capex) yang merupakan perizinan untuk aset baru.
“Perusahaan tetap berkomitmen untuk ekspansi di wilayah-wilayah strategis dan akan mengalokasikan dana sesuai dengan kebutuhan yang teridentifikasi,” tulis manajemen dalam keterangannya yang dikutip Sabtu (4/8/2024).
Disamping beberapa saham tersebut, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas mengatakan bahwa terdapat beberapa saham lain diluar tabel daftar di atas yang juga layak dimiliki sebab memiliki kinerja yang baik. Contohnya, BSDE, CTRA, SMRA, dan PWON.
“Untuk sahamnya diluar daftar tersebut ada BSDE, CTRA, SMRA, PWON. Karena selain undervalued juga, emiten tersebut memiliki kinerja bagus pada kuartal I dan kuartal II. Dari daftar diatas memang memiliki harga wajar undervalued namun secara pergerakan di pasar kurang menarik jika dibaca by teknikal dan transaksi kurang likuid atau ada yg berada di harga 50,” jelasnya pada investortrust.id, Sabtu, (4/8/2024).
Jika menilik dari riset Stockbit, BSDE mencatatkan marketing sales sebesar Rp 4,8 triliun atau tumbuh 1,1% pada semester I-2024 dibandingkan semester I 2023 yaitu Rp 4,7 triliun. CTRA naik 19,5% dari Rp 5,08 triliun pada semester I 2023 menjadi Rp 6,08 triliun pada semester I-2024.
SMRA membukukan marketing sales Rp 1,72 triliun atau tumbuh 6,6% dari semester I 2023 sebesar Rp 1,61 triliun. Sedangkan PWON melonjak 28,5% dari Rp 600 miliar pada semester I 2023 menjadi Rp 771 miliar pada semester I 2024.
Lebih lanjut, Analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa marketing sales dari emiten properti pada semester II berpotensi meningkat. Hal ini disebabkan oleh proyek properti yang strategis yang sedang digarap oleh emiten properti, khususnya big caps.
“Strategis di mata masyarakat, ataupun juga investor. Jadi wajar saja kinerja marketing salesnya terus berkembang,” ungkap Nafan saat dihubungi investortrust.id, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, salah satu sentimen yang menjadi katalis positif bagi industri properti tahun ini adalah jika suku bunga dari Bank Indonesia benar-benar akan diturunkan pada mulai kuartal IV tahun 2024, sehingga mendorong potensi peningkatan kredit demand, baik dari KPR maupun KPA.
“Tentunya ini akan memberikan katalis positif bagi set-top property di tanah air dalam hal akan ada potensi peningkatan kredit demand, baik itu untuk KPR maupun juga KPA. Sehingga tentunya ini akan semakin mem-boost kinerja marketing salesnya ke depan apalagi di akhir tahun ini,” terangnya.

