Raup Laba Rp 29,9 Triliun, Saham BRI (BBRI) Dipertahankan Beli Dua Sekuritas Ini
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah sekuritas ini tetap mempertahankan prospek cerah dengan target harga tinggi untuk saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Target tersebut mempertimbangkan keberhasilan perseroan pertahanan kenaikan laba bersih sampai akhir semester I-2024.
Mandiri Sekuritas dalam riset terakhirnya menyebutkan bahwa dengan pertumbuhan laba mencapai 1% pada semester I ditambah peluang pemangkasan suku bunga perbankan paruh kedua tahun ini menjadi factor pendongkrak kinerja BBRI sepanjang 2024.
Baca Juga
Mandiri Sekuritas meyakini bahwa performa BRI semester II akan lebih kuat dengan pemulihan tingkat keuntungan, sehingga perseroan tetap bisa mempertahankan rasio dividen tinggi tahun depan.
Hal ini mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 6.000 untuk saham BBRI.
Pandangan positif terhadap saham BBRI juga datang dari analis Sucor Sekuritas Edward Lowis. Menurut dia, realisasi laba BRI semester I-2024 sudah sesuai dengan perkiraan dan menunjukkan tingkat pertumbuhan stabil.
“Realisasi laba bersih BRI senilai Rp 29,7 triliun tersebut sudah sesuai dengan estimasi kami. Hal ini didukung keberhasilan perseroan mempertahankan kenaikan kuat pendapatan bunga sebanyak 15% didukung kenaikan kredit mencapai 11%,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hari ini.
Baca Juga
Secara operasional, dia mengatakan, BRI tunjukkan perbaikan dari sisi NPL dan rasio LAR turun menjadi 12%. Meski demikian, NIM masih turun sebanyk 18 bps menjadi 6,4% hingga akhir Juni 2024.
“Kami memperkirakan tingkat pertumbuhan keuntungan BRI akan pulih pada paruh kedua tahun ini, sehingga laba bersih perseroan diharapkan bisa mencapai Rp 57,9 triliun pada 2024. Pemulihan paling pesat diharapkan terjadi pada 2025,” terangnya.
Berbagai factor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk tetap mempertahankan prospek positif saham BBRI. Saham bank pelat merah terbesar ini direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.000. Target ini juga mempertimbangkan reaksi pasar yang terlalu berlebihan terhadap peluang penurunan kualitas asset perseroan.
BRI (BBRI) berhasil mencatatkan pertumbuhan laba menjadi Rp 29,9 triliun pada semester I-2024. Raihan ini lebih tinggi dari realisasi periode sama tahun 2023 sebesar Rp 29,56 triliun.
Pertumbuhan didukung kenaikan kredit mencapai 11,2% menjadi Rp 1.336,78 triliun sampai akhir Juni 2024. Segmen UMKM masih mendominasi penyaluran kredit BRI, dengan porsi mencapai 81,96% dari total penyaluran kredit BRI, atau sekitar Rp 1.095,64 triliun.
Hingga akhir Juni 2024 tercatat aset BRI tumbuh 9,54% (yoy) menjadi sebesar Rp 1.977,37 triliun.
Baca Juga
Saatnya Akumulasi, Kekhawatiran Pasar terhadap Saham BRI (BBRI) Berlebihan
Rasio Loan at Risk (LAR) tercatat membaik atau turun, dari semula 14,94% pada akhir kuartal II-2023 menjadi 12% pada akhir kuartal II-2024. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) terjaga di kisaran 3,05% dengan rasio NPL coverage berada pada level yang memadai sebesar 211,6%.
Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tercatat tumbuh 11,61% (yoy) menjadi sebesar Rp 1.389,66 triliun. Dana Giro dan Tabungan (CASA) tumbuh 7,66% yoy menjadi Rp 877,90 triliun. Dana murah masih mendominasi struktur DPK BRI dengan porsi CASA mencapai 63,17% dari total DPK BRI.
Direktur Utama BRI Sunarso menganggap, perolehan itu merupakan kinerja positif dan berkelanjutan, dengan pertumbuhan yang selektif dan prudent. Kinerja positif BRI Group tersebut tak terlepas dari pertumbuhan penyaluran kredit dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh dua digit.
Grafik Saham BBRI

