Presiden Lula: Kesesuaian antara Dua Negara Lebih Relevan daripada Jarak
Poin Penting
|
BRAZILIA, Investortrust.id - Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva memperkuat ketertarikan bersama untuk mempererat hubungan antara kedua negara, yang telah menjalin kemitraan strategis sejak 2008.
Dipersatukan oleh tantangan bersama dan visi yang sejalan, Brasil dan Indonesia pada Rabu, (9/7/2025), kembali melangkah maju untuk mempererat dan memperdalam hubungan strategis.
Dalam kunjungan resmi pertamanya ke Brasil, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, diterima oleh Presiden Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Planalto, Brasília.
Lula menekankan adanya keselarasan antara kedua negara dan menyatakan bahwa kunjungan ini menandai babak baru dalam kerja sama kedua negara.
Selama pertemuan, para presiden memperdalam dialog di berbagai bidang seperti ketahanan pangan, energi terbarukan, bioenergi, pertahanan, dan pendidikan, serta isu-isu agenda multilateral, seperti perlindungan hutan, krisis iklim, reformasi tata kelola global, dan upaya perdamaian di Timur Tengah.
“Hubungan antara Brasil dan Indonesia adalah bukti bahwa kesesuaian antara dua negara lebih penting daripada jarak yang memisahkan keduanya. Kita adalah dua dari demokrasi terbesar di dunia, terbentuk dari masyarakat multi-etnis yang dibangun di atas toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan,” kata Lula seperti dikutip agenciagov.ebc.com.br Kamis (10/7/2025).
Presiden Lula juga menekankan bahwa bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS pada 2024 disambut sebagai bentuk penguatan kemitraan.
“Menyambut Indonesia sebagai anggota BRICS bagaikan membuka pintu rumah untuk sahabat lama,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa Brasil mendukung masuknya Indonesia ke dalam New Development Bank (NDB) BRICS.
Multilateralisme
Kedua pemimpin negara membahas isu-isu agenda multilateral, seperti reformasi tata kelola global, pelestarian hutan, dan penanganan krisis iklim.
Menurut Lula, penting untuk memperkuat multilateralisme di tengah ancaman internasional.
“Saya mendengarkan dengan seksama ketika Presiden Prabowo mengkritik, di KTT BRICS, bahwa hukum internasional telah dikalahkan oleh kekuatan. Oleh karena itu, membela multilateralisme lebih dibutuhkan dari sebelumnya,” ujarnya.
Keamanan Pangan
Kerja sama di bidang ketahanan pangan menjadi sorotan dalam pertemuan bilateral ini. Lula memuji program “Makanan Bergizi Gratis” yang diluncurkan tahun ini oleh Presiden Indonesia, yang menargetkan 83 juta pelajar hingga 2029.
“Saya menawarkan kepada Presiden Prabowo pengalaman Brasil melalui Program Nasional Makanan Sekolah (PNAE), yang menjadi rujukan dunia dalam bidang ini,” ujarnya.
Inisiatif ini sejalan langsung dengan tujuan Aliansi Global melawan Kelaparan dan Kemiskinan yang diluncurkan Brasil di G20.
Prabowo, pada gilirannya, juga menekankan penggunaan program Brasil sebagai inspirasi untuk kebijakan ketahanan pangan di Indonesia.
“Kami sangat terbuka mengatakan bahwa kami sudah menggunakan program Brasil sebagai model,” kata Prabowo.
“Kita memiliki banyak kepentingan bersama. Kita bisa saling menguntungkan dalam perdagangan, industri, pertanian. Teknologi Brasil, khususnya di bidang bioenergi dan produktivitas pertanian, menjadi contoh bagi Indonesia.”
Kepemimpinan
Pemimpin Indonesia itu berterima kasih atas sambutan yang hangat dan memuji kepemimpinan Lula.
“Saya yakin kita akan terus melihat Presiden Lula aktif di panggung dunia untuk waktu yang lama, karena beliau bukan hanya pemimpin Brasil, bukan hanya pemimpin Amerika Latin. Beliau telah menjadi pemimpin internasional bagi seluruh Selatan Global,” ujar Prabowo.
Arus Perdagangan
Brasil dan Indonesia adalah dua ekonomi berkembang terbesar, dengan populasi besar, masyarakat yang beragam, dan demokrasi yang sudah mapan. Pada 2024, perdagangan bilateral mencapai US$ 6,34 miliar. Ekspor Brasil mencapai US$ 4,46 miliar, sedangkan impor sebesar US$ 1,87 miliar. Indonesia menempati peringkat ke-16 sebagai tujuan ekspor Brasil dan menjadi tujuan terbesar kelima untuk produk agribisnis.
Ekspor utama Brasil ke Indonesia adalah bungkil kedelai, kapas, dan tembakau. Brasil mengimpor dari Indonesia terutama benang serat tekstil dan sintetis, minyak inti sawit olahan, karet alam, serta suku cadang untuk kendaraan bermotor dan traktor. Terdapat pula arus investasi timbal balik yang signifikan: perusahaan Brasil beroperasi di sektor pertambangan di Indonesia, sedangkan investasi Indonesia di Brasil menonjol di sektor gula-alkohol, kertas dan pulp, tembakau, dan tekstil.

