Harga Tembaga Akan Melambung, Saham MDKA Diramal Paling Mengkilap
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham-saham emiten berbasis tembaga dinilai cerah tahun ini, seiring potensi penguatan harga tembaga di pasar global sepanjang tahun 2024.
Analis PT Panin Sekuritas Felix Darmawan memperkirakan, harga tembaga bisa bergerak di kisaran US$ 8.600 per ton pada tahun ini.
Penguatan harga tembaga menurut Felix akan ditopang oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed di 2024 yang mengindikasikan peningkatan aktivitas industri dan pelemahan DXY atau US dolar Indeks.
Baca Juga
Merdeka Copper (MDKA) Gelar Transaksi Afiliasi Rp 1,66 Triliun
“Selain itu stok tembaga di bursa Shanghai mengalami penurunan serta gencarnya inisiatif green energy,” ulas Felix dalam laporan riset yang diterbitkan awal pekan ini.
Diantara sederet saham berbasis tembaga, Panin Sekuritas memilih saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan rekomendasi overweight pada target price Rp 3.300 mengimplikasikan EV/EBITDA 12,55 kali di tahun 2024.
Kembali ke soal penguatan harga tembaga, Felix memproyeksi hal ini didorong oleh turunnya produksi copper ore seiring penghentian produksi First Quantum Minerals di Cobre Panama, salah satu tambang tembaga terbesar di dunia, menyusul keputusan Mahkamah Agung dan protes nasional atas masalah lingkungan.
Bank Sentral Peru (BCRP) memproyeksikan investasi di sektor tambang turun -8% YoY di 2024. Lalu di Chile, supplier terbesar tembaga dunia, masih kesulitan untuk mencapai level produksi prepandemi (1,7 juta ton) seiring penuaan asset dan penurunan kadar biji tembaga.
Selain itu terdapat penurunan cadangan tembaga di Shanghai sebesar -55,4% YoY menjadi 30,9 ribu ton, level terendah sepanjang masa. Hal tersebut disebabkan meningkatnya jumlah smelter di China yang mengurangi pengiriman ke gudang. “Kami menilai hal ini dapat menjadi katalis positif bagi harga tembaga ore disaat terdapat peningkatan permintaan tembaga,’’ ulas Felix.
Baca Juga
Merdeka Copper (MDKA) Kucurkan Kredit US$ 175 Juta ke Anak Usaha
Sementara terkait The Fed, terdapat konsensus ekonom yang memperkirakan penurunan tingkat suku bunga The Fed pada kuartal II-2024, di mana ini diyakini akan jadi salah satu sentimen positif bagi harga tembaga, karena dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta melemahnya DXY.
“Terlihat dari korelasi antara DXY dengan harga tembaga rata-rata 5 tahun di kisaran -0,6 yang artinya hubungan keduanya berbanding terbalik dengan korelasi cukup kuat,’’ terangnya.
Adapun terkait inisiatif green energy yang menjadi katalis positif sektor tembaga mengacu pada kesepakatan COP28 di Dubai, di mana dunia harus melakukan transisi energi hijau, dengan melakukan “beginning of the end” pada energi fosil.
“Patut dicermati jika penggunaan tembaga pada sistem energi terbarukan adalah 4 kali hingga 6 kali daripada bahan bakar fosil atau pembangkit listrik tenaga nuklir,’’ pungkasnya.

