Indosat (ISAT) Ambruk 35% Sebulan, Saham ISAT Masih Menarik Dilirik?
JAKARTA, investortrust.id – Target harga saham PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) direvisi turun dari semula Rp 3.400 menjadi Rp 3.000. Pemangkasan ini mempertimbangkan pelemahan pendapatan seluler usai penerapan aturan biometrik menekan penambahan pelanggan baru dan imbal hasil layanan data hingga September 2026.
Secara bersamaan harga saham ISAT telah anjlok lebih dari 35% menjadi Rp 1.435 dalam sebulan terakhir. ISAT tercatat sebagai saham dengan penurunan paling tajam, dibandingkan dengan saham TLKM dan EXCL.
Meski target harga dipangkas, analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan tetap mempertahankan rekomendasi beli saham ISAT dengan target harga Rp 3.000. Target ini mengimplikasikan valuasi EV/EBITDA sebesar 5,6 kali untuk 2026 dan 5 kali untuk 2027. Target tersebut sejalan dengan revisi proyeksi EBITDA ISAT untuk periode 2026-2028 sebesar 2,2%-2,4%, menyusul kinerja bisnis seluler yang lebih lemah dari perkiraan.
Baca Juga
Indosat ISAT Raih Laba Rp 4,9 Triliun Hingga Kuartal III 2026 Ditopang Bisnis AI
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa salah satu faktor utama yang membebani kinerja ISAT adalah penurunan pendapatan seluler pada kuartal III-2026. Pendapatan seluler perseroan tercatat turun 3,9% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq). Penurunan lebih dalam terjadi pada pendapatan data yang berkontribusi sekitar 87% terhadap total pendapatan seluler. Segmen tersebut merosot 6,5% qoq atau berkurang sekitar Rp 771 miliar.
Tekanan tersebut dipicu penurunan jumlah pelanggan setelah penerapan aturan biometrik. Basis pelanggan ISAT menyusut sekitar 1,9 juta pelanggan secara kuartalan. Kondisi tersebut turut menekan data yield atau pendapatan per unit penggunaan data sebesar 5,6% qoq. Sementara itu, trafik data turun 1% qoq.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat, sekitar 36% penurunan pendapatan data berhasil diimbangi oleh peningkatan pendapatan non-data dan penurunan diskon. Pendapatan non-data naik 5,3% qoq, antara lain didorong peningkatan pendapatan interkoneksi, sedangkan diskon turun 28% qoq.
Manajemen ISAT menyebut pelemahan kinerja tersebut juga dipengaruhi faktor musiman pada kuartal III-2026. Meski penambahan pelanggan baru mulai pulih sejak September-Oktober 2026, analis masih mencermati risiko persaingan industri telekomunikasi.
Atas kondisi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memangkas proyeksi pendapatan seluler ISAT 2026 sebesar 1,7% menjadi Rp 50,1 triliun, meskipun masih mencerminkan pertumbuhan 5,8% secara tahunan (year on year/yoy). Proyeksi tersebut mengindikasikan pendapatan seluler pada kuartal IV-2026 relatif stagnan dengan pertumbuhan hanya sekitar 0,4% qoq. Sementara itu, proyeksi pendapatan seluler 2027-2028 turut dipangkas sebesar 0,6%-0,8%.
Katalis Jangka Panjang
Di tengah tekanan bisnis seluler, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, prospek pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi salah satu katalis pertumbuhan jangka panjang ISAT. Perseroan mulai memperluas bisnis AI dari sekadar penyediaan kapasitas komputasi menuju aplikasi AI berbasis token melalui Intelligence Suite.
Guna mendukung pengembangan layanan tersebut, ISAT akan memanfaatkan kapasitas sebesar 15 megawatt (MW) dari Zankore. Perseroan menargetkan pendapatan Intelligence Suite mencapai US$100 juta pada 2028, dengan margin EBITDA sekitar 70%. Pada bisnis neocloud, ISAT telah membukukan pendapatan US$50 juta selama sembilan bulan pertama 2026. Perseroan menargetkan pendapatan bisnis tersebut mencapai US$100 juta sepanjang 2026.
Sementara itu, pengembangan kapasitas Zankore sebesar 200 MW berbasis GB300 masih sesuai jadwal untuk beroperasi pada semester I-2027. Pendanaan untuk tahap pertama sebesar 100 MW telah diamankan, sedangkan pendanaan untuk sisa kapasitasnya ditargetkan rampung dalam beberapa pekan mendatang.
BRI Danareksa Sekuritas kini mulai memasukkan kontribusi laba dari investasi ISAT di Zankore ke dalam proyeksi keuangan. Dengan asumsi tingkat utilisasi mencapai 50% pada 2027, kontribusi laba diperkirakan mendekati titik impas pada tahun tersebut. Selanjutnya, kontribusi pendapatan dari entitas asosiasi Zankore diproyeksikan meningkat menjadi Rp1,8 triliun pada 2028.
Baca Juga
Indosat (ISAT) Kebut 5G Jabodetabek, Cakupan Sudah Capai 85%
Menariknya, meskipun memangkas proyeksi EBITDA akibat pelemahan bisnis seluler, BRI Danareksa Sekuritas justru menaikkan estimasi laba bersih ISAT. Proyeksi laba bersih 2026 dan 2027 masing-masing dinaikkan 1,9% dan 3,8%. Revisi tersebut terutama didorong asumsi beban keuangan yang lebih rendah.
Untuk 2028, proyeksi laba bersih bahkan meningkat 17,8% setelah analis memasukkan kontribusi pendapatan dari Zankore. Dalam perhitungan valuasi terbaru, BRI Danareksa Sekuritas memberikan valuasi Zankore sebesar 7,5 kali proyeksi EBITDA 2027 dengan asumsi tingkat utilisasi 50%. Sementara itu, bisnis inti ISAT dinilai menggunakan metode discounted cash flow (DCF) dengan nilai sekitar Rp 2.600.
