Usai Insiden Binance, Bursa Kripto RI CFX dan ICEx Siapkan Jurus Baru Hadapi Serangan Siber
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa aset kripto dalam negeri CFX dan ICEx memastikan aktivitas perdagangan dan operasional industri aset keuangan digital nasional tetap berjalan normal di tengah kekhawatiran pasar menyusul insiden keamanan yang dialami platform kripto global Binance.
Presiden Direktur PT Central Finansial X (CFX) Subani mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum melihat adanya kepanikan maupun penarikan dana secara besar-besaran (rush) di industri aset kripto Indonesia.
"Kami mengikuti dan mengamati perkembangan insiden keamanan yang dialami Binance. Namun, sampai saat ini kami tidak melihat adanya kepanikan atau rush di industri aset kripto dalam negeri," ujar Subani kepada Investortrust, Senin (2/11/2026).
Dia memastikan operasional Bursa Kripto CFX bersama seluruh anggota bursa, PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI), dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC) tetap berjalan normal.
CFX juga terus berkoordinasi dengan anggota bursa dan pemangku kepentingan terkait untuk memantau perkembangan situasi serta menjaga stabilitas operasional dan kepercayaan konsumen terhadap industri aset kripto nasional.
Subani menambahkan, sebagai penyelenggara bursa aset kripto yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), CFX menerapkan tata kelola, manajemen risiko, dan standar pengamanan sesuai ketentuan yang berlaku.
Upaya tersebut mencakup penerapan sistem keamanan berlapis (multi layer security) dan pembaruan sistem secara berkala. Standar keamanan juga menjadi acuan bagi seluruh anggota bursa dalam melindungi sistem, dana, dan aset konsumen.
Baca Juga
Senada, Presiden Direktur ICEx Group Pang Xue Kai mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan insiden global dan berkoordinasi dengan OJK, serta para Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) untuk mengantisipasi dampaknya terhadap industri nasional.
Menurut dia, struktur ekosistem kripto Indonesia telah dibangun melalui mekanisme berlapis yang terdiri atas bursa, kliring, dan kustodian. Dalam struktur tersebut, aset konsumen wajib dipisahkan untuk memperkuat perlindungan terhadap dana dan aset milik masyarakat.
Sebagai penyelenggara infrastruktur pasar, ICEx Group menjalankan fungsi pengawasan pasar dan anggota bursa, penjaminan transaksi melalui kliring, serta penyimpanan aset melalui kustodian.
Kai menjelaskan, dana rupiah konsumen dikelola melalui lembaga kliring dan disimpan di bank umum. Sementara itu, mayoritas aset kripto disimpan dalam cold wallet yang tidak terhubung langsung dengan jaringan internet.
"Melalui ekosistem ICEx, kliring, dan kustodian, dana konsumen dipastikan selalu 1:1 dengan aset di cold wallet. Karena itu, masyarakat tidak perlu panik maupun terburu-buru melakukan penarikan dana," kata Kai kepada Investortrust.
Baca Juga
Binance Pulihkan Layanan Penarikan Dana Pasca-Diretas US$ 6,3 Miliar
Lebih lanjut, ICEx Group juga membuka kemungkinan berkoordinasi dengan OJK dan PAKD untuk melakukan pembekuan (freezing) aset maupun transaksi yang terindikasi terdampak apabila terdapat informasi yang berpotensi mengancam industri kripto nasional.
Dalam waktu dekat, ICEx Group berencana menggelar forum diskusi (roundtable) bersama para PAKD dan pemimpin industri keamanan siber untuk berbagi praktik terbaik dalam memperkuat perlindungan ekosistem aset digital.
Kai menyebutkan, terdapat empat langkah yang perlu diperkuat industri ke depan. Pertama, penguatan sistem keamanan (system hardening) di seluruh anggota bursa. Kedua, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi dan menangkal ancaman siber secara lebih cepat. Ketiga, peningkatan kolaborasi antara industri, regulator, dan aparat penegak hukum untuk membangun standar keamanan bersama. Keempat, pemberian insentif kepada peretas etis (white hat hacker) melalui program bug bounty agar celah keamanan dapat ditemukan dan diperbaiki sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dia juga mengimbau masyarakat untuk bertransaksi hanya melalui platform yang telah mengantongi izin, mengaktifkan autentikasi berlapis, serta mewaspadai tautan mencurigakan guna menghindari risiko kejahatan siber.
"Kami mengimbau masyarakat untuk hanya bertransaksi di platform berizin, mengaktifkan autentikasi berlapis, dan waspada terhadap tautan mencurigakan," ungkap Kai.
