IHSG Anjlok 3,27% ke 5.197, Rupiah Rp18.167 dan Isu MSCI Jadi Pemicu
JAKARTA, investortrust.id –Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan lebih dari 3,2% menjelang penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026). Pelemahan rupiah, ketidakpastian terkait indeks MSCI Inc., serta aksi jual saham berkapitalisasi besar menekan indeks hingga terkoreksi 3,27% ke level 5.197,65.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 15.11 WIB, IHSG merosot 175 poin atau 3,27% ke level 5.197,65. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp11,53 triliun, dengan 647 saham melemah, 82 saham menguat, dan 63 saham stagnan.
Tekanan terhadap pasar saham domestik datang dari sejumlah sentimen, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, ketidakpastian terkait transparansi dan keterinvestasian pasar modal Indonesia dalam konteks MSCI, hingga arus keluar dana asing.
Baca Juga
IHSG Terjun Lebih dari 3% Sejam Jelang Penutupan, Saham Konglo Berguguran
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, secara teknikal, koreksi IHSG dalam jangka pendek berpotensi berlanjut. Indeks diperkirakan masih berada pada wave (iv) dari wave (v), sehingga pelaku pasar perlu mewaspadai tekanan lanjutan.
“Di sisi lain, nilai tukar Rupiah masih terdepresiasi terhadap USD dan juga pasar menanti akan adanya FOMC Meeting,” kata Herditya saat dihubungi investortrust.id, Selasa (27/10/2026).
Menurut dia, tekanan jual juga terlihat pada saham-saham berkapitalisasi menengah dan kecil yang mengalami pelemahan signifikan. Sementara itu, mayoritas saham perbankan berkapitalisasi besar turut terkoreksi. “Dari pasar sendiri, nampak emiten-emiten mid-small caps terpantau hampir ARB dengan pergerakan emiten bank bigcaps yang mayoritas terkoreksi,” ujar Herditya.
Herditya memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju area 5.116–5.180. Karena itu, investor disarankan mencermati sinyal pembalikan arah sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca Juga
Revisi UU Tipikor, Luhut Tegaskan Kepastian Hukum Jadi Kunci Investor Masuk RI
Sementara itu, pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai, pelemahan IHSG merupakan dampak kombinasi sejumlah sentimen, terutama ketidakpastian terkait MSCI yang menyangkut transparansi dan tingkat keterinvestasian pasar modal Indonesia.
Selain itu, tekanan berasal dari pelemahan rupiah yang mencapai Rp18.167 per dolar AS, kenaikan harga minyak Brent hingga US$112 per barel, serta kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun ke level 7,52%. Arus keluar dana asing atau capital outflow turut memperberat pergerakan pasar di tengah ketidakpastian global dan arah suku bunga Amerika Serikat (AS).
“Kombinasi ini meningkatkan tekanan jual dan menurunkan risk appetite investor. Ke depan, pergerakan IHSG akan dipengaruhi stabilisasi rupiah, arah yield obligasi, arus dana asing, serta perkembangan isu MSCI. Meski valuasi sejumlah saham mulai menarik, investor sebaiknya tetap selektif dan melakukan akumulasi secara bertahap,” kata Elandry kepada investortrust.id.
Support IHSG 5.185
Sejalan dengan pandangan tersebut, riset Sinarmas Sekuritas menyebut pelemahan rupiah yang mendekati level terlemahnya sejak Juni menjadi salah satu faktor pemberat IHSG. Volatilitas rupiah tersebut mencerminkan tekanan arus keluar dana asing yang berlangsung sejak pekan lalu.
Baca Juga
Menperin Siapkan Insentif Mobil Hybrid 2026, Berapa Besarannya?
Sinarmas Sekuritas juga menilai koreksi IHSG sebagai pergerakan yang wajar setelah sejumlah saham perbankan dan saham berkapitalisasi besar menyentuh area resistansi, sehingga membuka peluang aksi ambil untung atau profit taking.
Secara teknikal, Sinarmas Sekuritas menetapkan area support IHSG di level 5.185, dengan support berikutnya di 5.073. Sementara itu, area resistansi berada di level 5.328 dan selanjutnya 5.422.
Dengan tekanan dari nilai tukar rupiah, arus dana asing, dan ketidakpastian MSCI, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan sentimen tersebut serta level teknikal IHSG untuk mengantisipasi arah pergerakan indeks selanjutnya.
