Danantara Borong Saham BUMN, Begini Prospek Saham BMRI, BBRI, hingga ANTM
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Aksi beli Danantara di pasar saham menjadi katalis positif bagi sejumlah saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Aksi tersebut bisa mempercepat pemulihan sejumlah saham milik negara tersebut diterpaan sentimen negative MSCI.
Sejumlah saham BUMN yang mendapatkan sentimen positif tersebut adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), PT Bukit Asam TbK (PTBA), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, aksi beli Danantara berpotensi memperbaiki sentimen pasar, meningkatkan kepercayaan investor, dan menambah permintaan terhadap saham-saham dengan valuasi menarik. Namun, keberlanjutan penguatan harga saham BUMN tetap bergantung pada fundamental emiten dan kondisi pasar. Investor perlu membedakan kenaikan harga yang didorong sentimen dari penguatan yang didukung perbaikan kinerja bisnis.
Baca Juga
Danantara Akui Sudah Belanja Saham Saat IHSG Anjlok Gegara MSCI
“Investor perlu membedakan antara kenaikan yang didorong oleh sentimen dan kenaikan yang ditopang oleh perbaikan kinerja bisnis. Jika aksi beli tersebut diikuti peningkatan kinerja keuangan dan perbaikan tata kelola, dampaknya akan lebih berkelanjutan,” kata Hendra kepada media, Jumat (23/10/2026).
Menurut dia, penguatan yang hanya bertumpu pada ekspektasi terhadap Danantara berisiko terkoreksi ketika tekanan beli mereda. Karena itu, investor perlu memperhatikan prospek laba, arus kas, kebijakan dividen, dan kinerja masing-masing perusahaan.
Baca Juga
2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Nilai Ekonomi Pertanahan Tembus Rp 1.834 Triliun
Di tengah langkah Danantara tersebut,Hendra merekomendasikan lima saham BUMN dengan status trading buy. Saham BMRI memiliki target harga tertinggi, yakni Rp4.100 per saham. BBRI dengan Trading buy, target harga Rp 3.100 per saham. BBNI Trading buy, target harga Rp3.600 per saham. TLKM Trading buy, target harga Rp2.400 per saham. ANTM Trading buy, target harga Rp3.000 per saham.
“BMRI, BBRI, dan BBNI dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin memanfaatkan potensi pemulihan sektor perbankan. TLKM menawarkan eksposur terhadap bisnis telekomunikasi dan digital, sedangkan ANTM memiliki karakter investasi yang lebih sensitif terhadap pergerakan harga komoditas,” tulisnya.
Prospek Saham Bank
Dari sektor perbankan, BMRI dinilai menarik berkat diversifikasi bisnis dan kemampuan menghasilkan laba. Sementara itu, BBRI memiliki jaringan kuat di segmen mikro yang menopang peluang pertumbuhan jangka panjang. Adapun BBNI berpeluang tumbuh melalui segmen korporasi dan komersial.
Meski demikian, investor perlu mencermati kualitas kredit, pertumbuhan kredit, biaya dana, dan margin bunga bersih. Faktor-faktor tersebut penting di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan potensi peningkatan risiko kredit.
Baca Juga
Penilaian terhadap saham perbankan juga perlu mempertimbangkan rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV), rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER), tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE), serta konsistensi pembagian dividen. “Valuasi yang murah baru menjadi peluang apabila kualitas aset dan kemampuan menghasilkan laba tetap terjaga,” tutur Hendra.
Di luar sektor perbankan, TLKM menarik dicermati karena memiliki basis pelanggan besar dan peluang pertumbuhan dari kebutuhan data serta layanan digital. Namun, investor perlu memperhitungkan persaingan industri, kebutuhan belanja modal, tekanan tarif, serta kemampuan perusahaan mengonversi pertumbuhan trafik data menjadi peningkatan pendapatan dan laba.
Sementara itu, pergerakan saham ANTM dipengaruhi dinamika harga komoditas, khususnya nikel dan emas, serta perkembangan industri pengolahan mineral dan rantai pasok baterai kendaraan listrik. Kenaikan harga emas berpotensi menjadi sentimen positif bagi bisnis emas ANTM. Adapun prospek nikel bergantung pada keseimbangan pasokan dan permintaan global. ANTM berpeluang diuntungkan ketika prospek komoditas membaik, tetapi memiliki volatilitas lebih tinggi dibandingkan saham dengan pendapatan yang relatif stabil.
