Nikel Mengerek Laba Antam, Target Harga Saham ANTM Kian Menggiurkan
JAKARTA, investortrust.id – Bisnis nikel menjadi salah satu motor penguatan kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada semester I-2026. Didukung kenaikan harga jual rata-rata dan pertumbuhan bisnis bauksit serta alumina, laba bersih Antam melonjak 36% menjadi Rp6,4 triliun. BRI Danareksa Sekuritas pun mempertahankan beli saham ANTM dengan target harga Rp 4.800.
Hingga semester I-2026, ANTM menorehkan laba bersih senilai Rp 6,4 triliun atau melonjak 36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut telah melampaui proyeksi analis dan memperkuat prospek saham ANTM di tengah kontribusi bisnis nikel, bauksit, dan alumina yang meningkat.
Berdasarkan riset BRIDS, pendapatan Antam sepanjang semester I-2026 mencapai Rp62,7 triliun, meningkat 6,3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, laba bersih perseroan tumbuh 36% menjadi Rp6,4 triliun. Realisasi laba bersih tersebut telah mencapai 69,7% dari estimasi BRIDS dan 70% dari konsensus analis untuk tahun penuh 2026. Adapun pendapatan semester I-2026 setara dengan 52,9% dari proyeksi pendapatan setahun penuh BRIDS.
Baca Juga
Produksi Emas Antam (ANTM) Cuma 0,83%, MIND ID Soroti Besarnya Peran Tambang Rakyat
Pada kuartal II-2026 saja, Antam mencatatkan pendapatan Rp33,4 triliun, tumbuh 1,6% secara tahunan. Laba bersih pada periode tersebut mencapai Rp3 triliun, meningkat 16,2% dibandingkan kuartal II-2025.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa pertumbuhan pendapatan Antam terutama ditopang oleh bisnis nikel serta bauksit dan alumina. Kedua segmen tersebut masing-masing mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 32,4% dan 28,3%. Sementara itu, pendapatan bisnis emas tumbuh lebih moderat sebesar 1,4%. Perbaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP), terutama pada komoditas nikel, menjadi salah satu katalis peningkatan laba bersih Antam.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat, ASP nikel pada kuartal II-2026 naik 18,7% secara kuartalan dan 44% secara tahunan menjadi US$80 per ton. Kenaikan tersebut didorong oleh harga patokan mineral (HPM) yang lebih tinggi. Adapun penjualan bijih nikel Antam mencapai 3,4 juta ton.
Baca Juga
Antam (ANTM) Perkuat Rantai Pasok Emas Nasional, Serap 9 Ton dari Freeport
Peningkatan kinerja tersebut turut tercermin pada margin laba bersih (net profit margin/NPM) bisnis nikel yang naik 410 basis poin secara kuartalan menjadi 54,5%. Sementara itu, NPM bisnis emas tercatat sebesar 4,4% dan bauksit sebesar 24,1%.
Di sisi lain, bisnis emas menghadapi tekanan akibat penurunan harga di pasar dunia. BRIDS mencatat, harga emas pada kuartal II-2026 terkoreksi 9,2% secara kuartalan seiring normalisasi harga, meskipun masih meningkat 38% sepanjang tahun. Namun, volume penjualan emas Antam mencapai 9,6 ton pada kuartal II-2026, meningkat 13,6% dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan volume tersebut membantu menopang penjualan di tengah tekanan harga.
Target Harga Saham
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan proyeksi pendapatan Antam pada 2026 sebesar Rp118,7 triliun dan laba bersih Rp9,2 triliun. Capaian semester I-2026 yang telah melampaui proyeksi laba secara proporsional menjadi salah satu faktor yang mendukung pandangan positif terhadap saham ANTM.
Dengan harga penutupan kemarin level Rp 3.180, target harga Rp 4.800 yang ditetapkan BRIDS mengindikasikan potensi kenaikan lebih dari 50%. Meski demikian, perkembangan harga komoditas, terutama emas dan nikel, tetap menjadi faktor penting bagi kinerja Antam ke depan.
Baca Juga
Prospek Saham Antam (ANTM) Makin Menarik, Target Harga Tembus Rp 4.900
BRI Danareksa Skeuritas sebelumnya menyebutkan bahwa pemulihan harga emas dapat menjadi katalis tambahan bagi kinerja perseroan, di samping kontribusi bisnis nikel yang mencatatkan pertumbuhan kuat.
Sebelumnya Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTM (ANTM) Arini Kasmira mengatakan, kinerja semester I-2026 mencerminkan fundamental perseroan yang semakin kuat. Pencapaian tersebut ditopang oleh pertumbuhan komoditas utama, peningkatan volume, efisiensi operasional, serta pengelolaan biaya dan risiko yang disiplin.
Menurut Arini, diversifikasi portofolio menjadi salah satu kekuatan Antam dalam menjaga kualitas pertumbuhan bisnis. “Capaian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ANTAM tidak hanya ditopang oleh faktor harga komoditas, tetapi juga oleh peningkatan volume, efisiensi operasional, serta penguatan kontribusi dari berbagai lini bisnis. Diversifikasi portofolio menjadi salah satu kekuatan kami dalam menjaga kualitas pertumbuhan,” ujar Arini.
