Target Harga Saham Alamtri (ADRO) Direvisi Naik ke Rp 3.300, Potensi Cuan Bisa Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas menaikkan target harga saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menjadi Rp 3.300 per saham dari target sebelumnya, dengan tetap mempertahankan rekomendasi buy. Revisi target tersebut terutama didorong oleh kenaikan asumsi harga batu bara kokas atau coking coal.
Di lantai bursa, saham ADRO pada perdagangan sesi I Kamis (8/10/2026) hingga pukul 09.36 WIB melemah 20 poin atau 0,77% ke level Rp 2.580. Dengan torehan tersebut, potensi cuan saham emiten yang teraffiliasi dengan Garibaldi Thohir atau dikenal Boy Thohir ini lebih dari 21%.
BRI Danareksa menilai prospek ADRO masih positif karena harga coking coal diperkirakan tetap kuat hingga akhir 2026. Kenaikan asumsi harga tersebut mendorong revisi estimasi laba ADRO masing-masing sebesar 4,3%, 2,6%, dan 2,9% untuk 2026-2028.
Baca Juga
Dalam riset yang dirilis Kamis (8/10/2026), BRI Danareksa menaikkan asumsi harga premium hard coking coal Australia menjadi US$230 per ton untuk 2026, US$220 per ton untuk 2027, dan US$200 per ton untuk 2028. Sebelumnya, asumsi harga untuk ketiga tahun tersebut masing-masing sebesar US$170 per ton. Harga Coking Coal Jadi Pendorong Target ADRO
Kenaikan asumsi harga coking coal menjadi faktor utama di balik revisi target harga saham ADRO. Harga premium hard coking coal Australia tercatat mencapai US$263 per ton per 5 Oktober 2026, dengan rata-rata sepanjang tahun sekitar US$237 per ton. Penguatan harga tersebut terutama didorong oleh gangguan pasokan di China dan Mongolia, bukan peningkatan signifikan permintaan baja global.
Menurut BRI Danareksa, gangguan pasokan masih berpotensi menopang harga coking coal pada kuartal IV-2026. Namun, harga diperkirakan mulai normal pada 2027 seiring pemulihan produksi batu bara domestik China, ekspor Mongolia, serta peningkatan ekspor Australia. Untuk 2027, BRI Danareksa memperkirakan harga coking coal berada di level US$220 per ton. Level tersebut dinilai mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan yang lebih normal, tetapi masih berada di atas level rendah pada 2025.
ADMR Jadi Perhatian
Selain harga coking coal, BRI Danareksa menilai dampak musim kemarau terhadap kinerja anak usaha ADRO, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), masih dapat dikelola. Kondisi Sungai Barito yang belum normal membuat aktivitas tongkang terganggu dan berpotensi menekan volume penjualan ADMR pada kuartal III-2026.
Baca Juga
Usai Umumkan Gadai, Saham Emiten Haji Isam (JARR) Anjlok Parah Pagi Ini
BRI Danareksa memperkirakan penjualan ADMR pada kuartal III-2026 hanya sekitar 0,5 juta-0,7 juta ton, terutama berasal dari intermediate stockpile dan Indonesia Bulk Terminal (IBT). Angka tersebut mengindikasikan penurunan kuartalan yang lebih besar dibandingkan kuartal III-2025.
Meski demikian, sebagian besar penjualan ADMR telah dikontrak sehingga manajemen memperkirakan pengiriman dapat mengejar ketertinggalan pada kuartal IV-2026 setelah kondisi logistik kembali normal. BRI Danareksa tetap mempertahankan proyeksi penjualan ADMR 2026 sebesar 6 juta ton, di bawah target awal manajemen sekitar 6,3 juta ton. Untuk 2027, ADMR berencana mengajukan RKAB dengan volume yang kurang lebih sama dengan 2026.
Valuasi Menarik
Dengan target harga Rp3.300 per saham, ADRO saat ini diperdagangkan pada sekitar 6,4 kali P/E 2027, atau sekitar 13% lebih rendah dibandingkan emiten sejenis.
BRI Danareksa menilai valuasi tersebut telah mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap aturan baru terkait kontraktor pertambangan.
Baca Juga
Fokus Ekspansi Bisnis di DN, Adaro Andalan (AADI) Merampungkan Divestasi Kestrel di Australia
Namun, terdapat sejumlah risiko terhadap target harga saham ADRO. Risiko tersebut antara lain implementasi aturan Kepmen yang lebih ketat dari perkiraan serta pelemahan harga coking coal.
Dengan mempertahankan rekomendasi buy dan menaikkan target harga menjadi Rp3.300, BRI Danareksa melihat penguatan harga coking coal sebagai katalis utama bagi prospek saham ADRO, sementara pemulihan kondisi logistik di kuartal IV-2026 diharapkan mendukung pengiriman ADMR.
