Hari Ini, Short Selling Kembali Dibuka, Analis Ungkap Dampaknya ke Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Mekanisme short selling kembali diterapkan di pasar modal Indonesia mulai hari ini, Kamis (1/10/2026). Sejumlah analis pasar modal menilai penerapan kembali transaksi tersebut dapat menjadi langkah positif bagi pendalaman pasar modal Indonesia karena memberikan alternatif strategi bagi investor.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji mengatakan, penerapan kembali short selling berpotensi meningkatkan likuiditas dan aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Menurut saya, penerapan kembali short selling mulai 1 Oktober 2026 merupakan langkah positif bagi pendalaman pasar modal Indonesia karena memberikan alternatif strategi bagi investor ketika pasar bergerak turun,” kata Nafan kepada media, dikutip Kamis (1/10/2026).
Baca Juga
Short Selling Diterapkan, Analis Wanti-wanti Risiko Jika Harga Rp 50 Dihapus
Dia melanjutkan bahwa short selling juga dapat digunakan sebagai instrumen untuk melakukan hedging atau lindung nilai terhadap portofolio. Namun, mekanisme tersebut tetap memiliki risiko karena dapat meningkatkan volatilitas, terutama jika dilakukan secara agresif atau bersamaan dengan sentimen negatif di pasar. “Namun, negatifnya short selling juga dapat meningkatkan volatilitas, terutama apabila dilakukan secara agresif atau bersamaan dengan sentimen negatif,” ucap Nafan.
Ia menambahkan, risiko terbesar berada pada investor yang salah membaca arah pasar. Sebab, potensi kerugian dari transaksi short selling secara teoritis tidak terbatas apabila harga saham justru terus mengalami kenaikan. “OJK sendiri mengatur kerangka transaksi short selling, termasuk kewajiban penyelesaian dan pengelolaan jaminan,” katanya.
Pada tahap awal, BEI menetapkan lima saham yang dapat ditransaksikan melalui mekanisme short selling. Kelima saham tersebut adalah PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Fasilitas short selling tersebut disediakan oleh Semesta Indovest Sekuritas dan Ajaib Sekuritas.
Baca Juga
Nafan menilai masuknya lima saham tersebut dalam daftar short selling tidak otomatis membuat harga saham mengalami tekanan. Pergerakan harga tetap bergantung pada keseimbangan antara posisi short dan long, serta fundamental dan sentimen masing-masing emiten. “Dalam jangka pendek, volatilitas dan volume transaksi berpotensi meningkat karena bertambahnya strategi perdagangan,” tuturnya.
Sebaliknya, ketika terjadi penguatan harga, investor yang melakukan short selling dapat melakukan short covering atau membeli kembali saham yang sebelumnya dijual. Kondisi tersebut justru dapat menambah permintaan dan mempercepat pemulihan harga.
Risiko Short Selling
Senada dengan Nafan, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan short selling memberikan pilihan strategi tambahan bagi investor, termasuk ketika melihat peluang dari kondisi pasar yang sedang mengalami penurunan.
“Short selling ini sisi positifnya bikin investor punya opsi strategi tambahan, termasuk saat melihat peluang dari market yang lagi turun. Likuiditas juga berpotensi makin dalam. Tapi tetap ada risikonya, terutama volatility bisa lebih tinggi saat market sentiment lagi negatif,” kata Elandry.
Baca Juga
BEI Siapkan 5 Saham Short Selling dari Berbagai Sektor, Ada Perbankan dan Basic Materials
Elandry juga memandang penerapan short selling pada lima saham tahap awal tidak berarti harga saham tersebut akan otomatis mengalami tekanan. Pergerakan harga tetap ditentukan oleh kondisi supply-demand, fundamental, dan sentimen masing-masing saham. “Untuk lima saham tahap awal, bukan berarti otomatis bakal ditekan karena ada short selling. Pergerakan tetap balik lagi ke supply-demand, fundamental, dan sentimen masing-masing saham,” ujar dia.
Menurut Elandry, mekanisme short selling lebih sesuai bagi investor yang telah memahami cara kerja transaksi tersebut, termasuk aspek margin, stop loss, dan risiko kerugian. “Menurut saya, short selling lebih cocok buat investor yang sudah cukup paham mekanismenya. Harus ngerti juga soal margin, stop loss, dan risikonya, karena kalau harga malah naik, potensi loss-nya bisa cukup besar,” ungkapnya.
