Laba Melesat 313%, Vale (INCO) Pertimbangkan Dividen Interim?
JAKARTA, investortrust.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membuka peluang pembagian dividen secara berkala di tengah lonjakan laba pada semester I-2026. Adapun laba periode berjalan perseroan tercatat US$ 104,37 juta
Direktur dan Chief Financial Officer Vale Indonesia Rizky Andhika Putra mengatakan, perseroan memiliki aspirasi terkait dividen, jika terdapat ruang untuk merealisasikan distribusi tersebut. “Jika memang ada ruang, tentu akan dilakukan secara terus menerus, itu evaluasi berkala,” kata Rizky dalam Pubex Live 2026 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (10/9/2026).
Baca Juga
Laba Vale (INCO) Melesat 313,5% di Semester I, Manajemen Ungkap Penopang Ini
Pernyataan tersebut disampaikan manajemen setelah membukukan laba periode berjalan US$ 104,37 juta pada semester I-2026 yang melonjak 313,5% (yoy). Rizky mengamini bahwa kinerja keuangan perseroan pada periode tersebut cukup baik. Namun manajemen menginformasikan bahwa 2026 dan 2027 merupakan masa ekspansi bagi perseroan. “Fokus utama tentu yang pertama adalah delivery dari proyek dan juga memitigasi segala risiko,” ujarnya.
Dia mengatakan, INCO harus memastikan proyek dapat diselesaikan tepat waktu, sesuai spesifikasi, dan sesuai anggaran. Rizky pun memastikan, kemampuan perseroan untuk membagikan dividen akan terus dievaluasi secara berkala.
Menurut dia, evaluasi tersebut akan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk pergerakan harga jual nikel, efisiensi pembiayaan, dan belanja modal atau capex. “Jadi tentunya jika ada kesempatan, dan juga memang dirasa secara kemampuan perseroan dapat membagikan atau mendistribusikan dividen, itu akan terus menerus direview secara berkala,” simpulnya.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) dan BKSDA Sulawesi Utara Perkuat Konservasi Cagar Alam Panua
Di sisi kinerja, pendapatan INCO juga meningkat menjadi US$ 543,06 juta pada semester I-2026 dari US$ 426,73 juta pada periode sama tahun lalu. Sementara EBITDA perseroan meningkat menjadi US$ 196 juta dari sebelumnya US$ 92 juta. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan penguatan harga nikel, dan disiplin operasional.
Rata-rata harga jual nikel INCO mencapai US$ 14.491 per ton pada semester I-2026, naik dari US$ 12.014 per ton pada periode sama tahun sebelumnya. Perseroan juga mencatatkan penurunan biaya tunai pokok penjualan nikel matte menjadi US$10.005 per ton pada kuartal II-2026 yang turun dari US$10.382 per ton pada kuartal I-2026.
Sedangkan produksi nikel INCO dalam matte turun dari 35.584 metrik ton pada semester I-2025 menjadi 29.773 metrik ton pada semester I-2026. Namun secara kuartalan, produksi meningkat dari 13.620 metrik ton pada kuartal I-2026 menjadi 16.153 metrik ton pada kuartal II-2026.
Selain bisnis nikel matte, INCO mengembangkan platform pertumbuhan melalui tiga hub pertambangan di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.
Baca Juga
Kinerja Keuangan Vale (INCO) Diprediksi Melesat, Bagaimana dengan Sahamnya?
Di Blok Bahodopi, penjualan bijih nikel saprolit mencapai 1,07 juta wet metric ton (wmt) pada kuartal II-2026, meningkat dari 886.000 wmt pada kuartal sebelumnya. Sementara total penjualan produk ini sepanjang semester I-2026 mencapai 1,96 juta wmt.
Di sisi lain, penjualan bijih nikel di Blok Pomalaa mencapai 1,26 juta wmt pada kuartal II-2026, meningkat dari 89.000 wmt pada kuartal I-2026, dengan total penjualan semester I-2026 mencapai 1,35 juta wmt.
Menurut perseroan, peningkatan kinerja kedua proyek mencerminkan keberhasilan peningkatan kapasitas operasi. Manajemen mengatakan, perkembangan tersebut juga memperkuat strategi diversifikasi sumber pendapatan dan fondasi operasional untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
