Merdeka Gold (EMAS) dan BKSDA Sulawesi Utara Perkuat Konservasi Cagar Alam Panua
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), melalui anak usahanya PT Gorontalo Sejahtera Mining (GSM), bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara memperkuat konservasi keanekaragaman hayati di Cagar Alam Panua, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.
Penguatan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama tentang penguatan fungsi kawasan suaka alam dalam rangka Konservasi Keanekaragaman Hayati di Cagar Alam Panua pada Rabu (9/9/2026).
Perjanjian kerja sama ditandatangani Kepala BKSDA Sulawesi Utara Ir. Danny H. Pattipeilohy, S.Pi., M.Si. dan Direktur Utama GSM sekaligus Presiden Direktur Merdeka Gold Boyke P. Abidin.
Baca Juga
Kepala BKSDA Sulawesi Utara Danny H. Pattipeilohy mengatakan, kerja sama tersebut menjadi langkah awal kolaborasi dan komitmen bersama untuk memperkuat fungsi kawasan konservasi di Cagar Alam Panua. “Kami berharap sinergi ini dapat terus diperkuat untuk mendukung pengembangan lingkungan hidup, ekologi, dan konservasi keanekaragaman hayati, sekaligus memberikan kontribusi bagi lingkungan, ekonomi, dan masyarakat,” ujar Danny melalui keterangan resminya di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Sementara itu, Direktur Utama GSM Boyke P Abidin mengatakan, kerja sama dengan BKSDA Sulawesi Utara menunjukkan komitmen Merdeka Gold (EMAS) untuk menempatkan konservasi sebagai bagian dari tata kelola keberlanjutan perusahaan. “Ketika orang berbicara tentang Pani, mereka tidak hanya berbicara mengenai tambang emas. Mereka juga berbicara tentang bentang alam ini secara utuh. Tambang Emas Pani dapat berjalan seiring dengan kawasan konservasi, satwa prioritas, dan masyarakat di sekitarnya,” ujar Boyke.
Cagar Alam Panua merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Gorontalo. Kawasan tersebut berada dalam bentang alam Sulawesi yang menjadi habitat bagi sejumlah satwa prioritas, seperti anoa, babirusa, dan maleo.
Agenda konservasi di wilayah tersebut tidak hanya berkaitan dengan perlindungan satwa, tetapi juga mencakup penguatan fungsi ekosistem, pengamanan kawasan, serta edukasi masyarakat sekitar.
Baca Juga
Lima komponen utama yang akan menjadi fokus pembahasan meliputi patroli dan pengamanan kawasan, pemulihan ekosistem, monitoring keanekaragaman hayati, pemberdayaan desa penyangga, serta edukasi dan komunikasi publik. Salah satu agenda yang akan dikembangkan adalah ruang edukasi mengenai satwa prioritas dan bentang alam Panua bagi masyarakat sekitar.
Program tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman publik bahwa konservasi keanekaragaman hayati merupakan bagian penting dari keberlanjutan wilayah, khususnya di kawasan yang menghadapi tekanan ekologis akibat perambahan, perburuan, dan aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI).
