Pasar Saham Mulai Pulih, Tapi Investor Masih Hadapi Sejumlah Risiko Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar saham Indonesia mulai menunjukkan perbaikan seiring fundamental ekonomi dan kinerja korporasi yang lebih resilien. Namun, pemulihan tersebut belum sepenuhnya menghapus berbagai risiko, terutama faktor global, El Niño, serta kepercayaan investor yang masih perlu diperkuat.
Chief Investment Officer Equity Manulife Aset Manajemen (MAMI) Samuel Kesuma menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia dan laporan kinerja korporasi kuartal II 2026 menunjukkan kondisi yang tidak seburuk perkiraan sebelumnya. Ekonomi tetap tumbuh, inflasi masih terkendali, Rupiah mulai menunjukkan stabilisasi, sementara mayoritas laporan laba emiten sesuai atau bahkan melebihi ekspektasi.
Kondisi tersebut menjadi fondasi yang lebih kokoh bagi pasar saham dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Meski demikian, masih terdapat tantangan berupa volatilitas harga energi, sinyal hawkish The Fed, potensi penguatan Dolar AS, dan risiko El Niño.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Sentuh 4,85%, Buyback US$ 6 Miliar Tak Mampu Redam Gejolak Pasar
Pemulihan kepercayaan investor juga masih menjadi pekerjaan rumah. Persepsi risiko mulai membaik, tetapi investor masih membutuhkan konsistensi kebijakan, kualitas tata kelola, kepastian regulasi, serta perkembangan peninjauan MSCI.
Inflasi dan Risiko El Niño
Inflasi Agustus 2026 meningkat menjadi 3,19% secara tahunan (YoY). Meski demikian, level tersebut masih berada dalam koridor target Bank Indonesia dan jauh lebih terkendali dibandingkan episode tekanan energi pada 2022.
“Kebijakan mempertahankan harga BBM bersubsidi serta kondisi produksi pangan yang relatif terjaga turut membantu membatasi transmisi kenaikan harga energi terhadap inflasi domestik,” tulis Samuel.
Baca Juga
Jaga Inflasi, Bapanas Geber Penyaluran Bantuan Pangan Beras 30 Kg untuk 33 Juta Penerima
Menurutnya, inflasi yang terkendali membantu menjaga daya beli, margin perusahaan, sekaligus ekspektasi arah suku bunga. Namun, fenomena El Niño menjadi faktor baru yang perlu dicermati.
El Niño yang kuat, ditambah tingginya harga energi, berpotensi menurunkan hasil produksi, meningkatkan biaya pengolahan, serta mendorong kenaikan harga pangan. Karena itu, kemampuan perusahaan melakukan penyesuaian harga, efisiensi biaya, dan menjaga volume penjualan menjadi penting.
Samuel juga menilai stabilitas Rupiah penting bagi pasar saham karena dapat menurunkan persepsi risiko dan meningkatkan kepercayaan investor asing. Rupiah yang lebih stabil turut membantu meredam tekanan biaya impor dan beban utang valuta asing sehingga berdampak positif terhadap kinerja korporasi.
Arah kebijakan BI yang mulai mengurangi ketergantungan pada imbal hasil SRBI yang tinggi dan beralih menuju bauran kebijakan yang lebih seimbang, termasuk melalui insentif swap lindung nilai, dinilai positif. Jika mampu menjaga stabilitas Rupiah dan daya tarik aset domestik sekaligus mengurangi tekanan suku bunga, dampaknya dapat semakin positif bagi valuasi pasar saham.
Namun, pasar tetap mencermati efektivitas dan konsistensi implementasinya serta perkembangan kebijakan global, khususnya arah kebijakan The Fed.
Kinerja Emiten Membaik
Dari sisi fundamental korporasi, laporan laba perusahaan mulai mencerminkan perbaikan fondasi dunia usaha. Pada kuartal II 2026, sekitar 78% emiten membukukan laba sesuai atau melampaui ekspektasi, menjadi komposisi terbaik dalam dua tahun terakhir.
Perbaikan semakin meluas dengan kejutan positif pada pendapatan sektor consumer staples, ritel, telekomunikasi, digital, otomotif, dan semen, didukung tren harga jual dan volume yang lebih baik.
Namun, perbaikan fundamental belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi pasar. Arus dana asing masih tersendat, sedangkan investor global tetap berhati-hati terhadap risiko kebijakan dan menunggu hasil peninjauan MSCI pada November mendatang.
Baca Juga
Saham Adaro Andalan (AADI) Kembali Cetak Rekor ATH Rp 12.250, Market Cap Tembus Rp 95 Triliun
Pertumbuhan laba telah memperkuat downside protection pasar saham. Namun, re-rating yang lebih berkelanjutan masih membutuhkan pemulihan kepercayaan dan dukungan likuiditas yang lebih luas. Di tengah kondisi tersebut, pendekatan investasi tetap diarahkan secara bottom-up dengan memilih perusahaan yang memiliki pertumbuhan laba nyata, neraca sehat, arus kas baik, serta valuasi yang memberikan margin of safety.
Sektor konsumsi masih menunjukkan kinerja operasional dan pendapatan yang baik, tetapi menghadapi kondisi relatif menantang terkait risiko kenaikan inflasi pada semester kedua. Sektor terkait komoditas juga dinilai menarik seiring kinerja harga underlying yang kuat dan persepsi risiko regulasi yang cenderung berkurang.
Menunggu Konfirmasi
Dia mengatakan bahwa investor bisa menerapkan strategi investasi yang lebih agresif, apabila perbaikan fundamental mulai diikuti pemulihan kepercayaan pasar. Indikatornya antara lain stabilitas Rupiah yang lebih konsisten, tekanan suku bunga yang mereda, arus dana asing yang lebih berkelanjutan, serta kebijakan yang semakin dapat diprediksi.
“Jika faktor-faktor tersebut bergerak searah, peluang re-rating akan lebih kuat dan tidak hanya bertumpu pada valuasi murah,” tulisnya.
Baca Juga
Kredit Perbankan Tembus Rp 9.135 Triliun, Pembiayaan Investasi Melonjak 25,13%
Sebelum konfirmasi tersebut terlihat, portofolio tetap dikelola secara selektif dengan menjaga keseimbangan antara saham defensif dan saham yang dapat menangkap pemulihan ekonomi. Fokusnya adalah emiten dengan arus kas sehat, neraca kuat, bargaining power terhadap biaya, dan visibilitas laba yang baik.
Di tengah banyaknya sinyal yang saling bertentangan, pendekatan investasi secara bertahap dan terdiversifikasi tetap relevan. Dua hal yang menjadi kompas investor adalah potensi fundamental dan horizon investasi.
